ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MEMBAIK


__ADS_3

"M-ommy.."


Olivia dan Oliver bersamaan menolehkan kepalanya pada putra mereka. Keduanya kompak mendekati Asley sambil tersenyum.


"Sayang mom, syukurlah kau sudah bangun". Wajah Olivia menampakkan senyuman. Sekuat tenaga ia menutupi perasaan pedih yang membatin dalam dirinya.


"Jagoan daddy apa masih sakit sekarang, hem? Kata mu, kau merindukan daddy. Kau harus cepat pulih sayang, daddy akan membawa mu jalan-jalan ketempat terindah di kota ini", ucap Oliver sambil mencium wajah Asley. "Maafkan daddy kemarin tidak menepati janji untuk menemui mu, dan akhirnya kau yang menemui daddy".


Olivia berusaha tetap tersenyum sambil memberikan air minum pada Asley. "Sayang, kau sambil makan ya. Kemudian minum obat. Mommy akan menyuapi mu", ucap Olivia mengambil semangkok bubur yang sudah di berikan oleh pihak rumah sakit.


Oliver duduk bersandar di samping anaknya, ia menyandarkan kepala Asley pada dadanya sambil memeluk tubuh mungil itu.


"Dad, kenapa tangan ku ada talinya?", tanya Asley polos sambil mengangkat sedikit lengannya memperlihatkan pada ayahnya.


"Itu bukan tali, tapi selang infus agar kamu cepat sehat lagi", jawab Oliver tersenyum.


Sementara Olivia menyuapkan bubur bertekstur halus kedalam mulut Asley. Anak itu langsung membuka mulutnya. "Kau harus makan yang banyak supaya selang di tangan mu bisa segera di lepas sayang".

__ADS_1


"Iya mommy. Aku akan makan yang banyak supaya sembuh dan mommy tidak sedih lagi", jawab Asley seakan mengerti apa yang di rasakan Olivia saat ini


Perkataan anak itu membuat mata Olivia berkaca-kaca. Oliver menatap Oliv, jemari tangannya mengusap wajah itu dengan penuh perasaan. Wajah yang nampak memutih karena pucat.


"Kenapa bibi itu mendorong ku, dad? Bibi pemarah itu sangat jahat, kepala ku sakit sekali", keluh Asley sambil mendongakkan wajah menatap ayahnya lagi.


Olivia tak bergeming, ia menundukkan kepalanya sambil mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuk. Sejujurnya perasaan Olivia teriris mendengar penuturan anaknya. Andai saja ia bisa memutar waktu kembali mundur kebelakang tentu saja Olivia tidak akan mengajak Asley menemui Oliver. Namun apa mau di kata, semuanya sudah terjadi. Bagi Olivia kesembuhan Asley lah yang paling penting sekarang. Ia tidak mau memikirkan hal lainnya apalagi tentang Claudia. Masalah apa yang terjadi antara Oliver dan Claudia sampai Oliver mencekik leher wanita itu seperti yang dilihat nya tadi.


Sementara Oliver terlihat memendam amarah dalam dirinya. rahang laki-laki itu mengeras dan jemari tangannya terkepal. "Orang jahat yang sudah berani menyakiti jagoan daddy sekarang sudah di tangkap polisi. Karena sudah melakukan kejahatan, jadi harus di hukum", ujar Oliver. "Sekarang habiskan makanan mu, hem".


Asley menganggukkan kepalanya. "Mommy aku mau menghabiskan makanan ku", seru Asley nampak bersemangat.


"Tentu saja sayang", jawab Olivia segera menuruti permintaan anaknya.


Ceklek..


"Selamat malam pasien dokter yang pintar. Sekarang dokter harus memeriksa mu, sayang. Jika kondisi mu sudah membaik artinya boleh di pindahkan ke ruang rawat inap. Di sana tempatnya lebih nyaman dan tenang, Asley bisa beristirahat dengan baik", ujar dokter wanita itu dengan ramah dan hangat. Dokter itu bukanlah dokter yang siang tadi di temui Olivia.

__ADS_1


Olivia segera berdiri dari tempat tidur memberikan ruang agar dokter cantik itu leluasa memeriksa Asley. Ia tidak sendirian namun di temani seorang perawat juga.


"Olive kenalkan ini dokter Hillary teman ku sekolah dulu. Dia juga istri teman baik ku dokter Ryan. Mulai sekarang Hillary yang akan menjadi dokter anak kita ", ujar Oliver menjelaskan pada Olivia karena tadi ia belum sempat memberi tahu Olivia.


Olivia tersenyum ramah. Ia memilih berdiri di samping Oliver yang masih duduk di atas tempat tidur bersama Asley.


"Hai Olivia, senang akhirnya bisa berkenalan dengan mu. Pantas saja suami mu ini galau berkepanjangan memikirkan mu, ternyata kau masih muda dan sangat cantik sekali", ucap Hillary meledek Oliver.


"Tentu saja istri ku sangat cantik, Hillary", jawab Oliver menggenggam jemari tangan Olivia yang ada di dekatnya dan mengecupnya. Olivia nampak gugup di perlakukan seperti itu apalagi di depan orang lain.


Beberapa menit berlalu..


"Kondisi anak kalian stabil. Sekarang sudah bisa di pindahkan keruang rawat inap yang sudah kau pesan", ucap Hillary pada Oliver, ke duanya berbincang sementara Olivia membantu perawat yang hendak memindahkan Asley.


"Besok pagi kita lakukan semua tes menyangkut sakit anak mu. Termasuk transplantasi sumsum tulang belakang. Jika Asley positif mengindap kanker leukimia semakin cepat dilakukan tindakan semakin baik. Apalagi jika masih stadium awal, besar kemungkinan Asley akan pulih seperti sedia kala".


"Iya. Aku yang akan menjalani tes itu besok", ujar Oliver serius.

__ADS_1


Hillary menyipitkan matanya menatap temannya itu. "Yang benar saja Oliver. Kau belum bisa melakukannya!"


...***...


__ADS_2