ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
Penyesalan


__ADS_3

" Nyonya sudah pulang Mbok?" tanya Pak Hendra yang baru saja pulang dari kantor.


" Sudah tuan, sepertinya Nyonya sedang menemani Nona Kirana di kamarnya." jawab Mbok Jum.


" Kirana disini?" tanya Pak Hendra.


" Iya tuan, Non Kirana datang tadi sore." jawab Mbok Jum.


" Tapi, tidak ada mobil Rian? mereka naik apa Mbok?" tanya Pak Hendra.


" Non Kirana hanya datang sendiri tuan, dan sepertinya Nona naik taksi online."kata Mbok Jum.


" Sendiri? tidak biasanya." gumam Pak Hendra.


" Yasudah Mbok, tolong buatkan kopi untuk saya, dan taruh di ruang kerja, saya mau menemui Kirana." ucap Pak Hendra.


" Baik tuan." ujar Mbok Jum.


Pak Hendra pun pergi ke Kamar Kirana.


Ceklek !


Pak Hendra sama terkejutnya seperti Bu Rahma, melihat pemandangan di dalam kamar Kirana yang sangat berantakan, Kirana yang masih menangis dalam pelukan istrinya, membuatnya merasa hawatir dengan keadaan putrinya.


Pak Hendra pun segera menutup pintu dan menghampiri mereka.


" Ada apa ini?" tanya Pak Hendra.


Bu Rahma dan Kirana yang mendengar suara Pak Hendra, langsung melepaskan pelukan mereka.


Pak Hendra lalu mengangkat wajah Kirana yang menunduk sambil menangis.


" Kirana, sayang, ada apa?" tanya Pak Hendra.


" Aku dan Mas Rian akan bercerai, hik hik." ucap Kirana.


Pak Hendra langsung menoleh ke arah bu Rahma meminta jawaban, Bu Rahma pun mengangguk.


" Apa kalian bertengkar? apa tidak bisa di bicarakan baik-baik Nak?" tanya Pak Hendra.


" Mas Rian sudah tidak mencintaiku lagi Ayah, aku bukanlah wanita yang sempurna yang bisa memberikan anak padanya,, hu hu hu."


Pak Hendra langsung memeluk Kirana.


" Kamu adalah istri yang sempurna, yang selalu berbakti pada suami, melayani suamimu dengan baik, menjadi wanita yang sempurna, tidak harus melahirkan seorang anak, Alloh sudah mengatur semuanya sayang, kamu bukan tidak bisa memberikan Rian keturunan, tapi belum, Ayah yakin itu, bukankah Dokter bilang tidak ada masalah dengan kalian berdua." kata Pak Hendra menyemangati.


" Ayah ingin bertanya, apakah Rian yang mau menceraikanmu?" tanya Pak Hendra.

__ADS_1


Kirana mengangguk.


" Apak karna kamu belum memberikan dia anak?" Kirana mengangguk lagi.


Pak Hendra langsung mengepalkan tangannya.


" Kapan sidang perceraian kalian?" tanya Pak Hendra lagi.


" Besok." jawab Kirana dengan suara yang bergetar.


" Baiklah, kita percepat persidangan kalian, lebih cepat kalian berpisah, itu lebih baik." ucap Pak Hendra.


Tangis Kirana terdengar sangat pilu.


" Rian, aku akan membuat perhitungan denganmu, aku menyesal telah memberikan putriku padamu, kau akan menyesal karena telah menghina putriku." batin Pak Hendra.


" Kirana, jangan menangis lagi, air matamu terlalu berharga untuk menangisi lelaki pengecut itu." ucap Pak Hendra.


" Rahma, ajak Kirana ke kamar kita." ucap Pak Hendra.


" Ayo sayang." Ajak Bu Rahma.


Setelah Kirana dan Bu Rahma pergi, Pak Hendra pun meminta Mbok Jum untuk merapikan kamar Kirana, sedangkan ia langsung pergi ke ruang kerja nya.


" Halo Dimas." ucap Pak Hendra pada Dimas di sebrang telepon.


" Halo Ayah, ada apa yah?" tanya Dimas.


" Apa? Perceraian? maksud Ayah, Kirana mau bercerai dengan Rian?" Dimas begitu terkejut mendengarnya.


" Rian yang menginginkan perceraian itu, karna Kirana belum bisa memberikan dia anak." ucap Pak Hendra sambil merapatkan Gigi-giginya.


" Itu tidak mungkin Ayah, Dimas tau, Rian sangat mencintai Kirana." kata Dimas tidak percaya.


" Tapi itulah kenyataannya Dimas, sudahlah, pokoknya, besok kau harus membantu adikmu." ucap Pak Hendra.


" Baiklah Ayah." kata Dimas.


Pak Hendra pun langsung mematikan teleponnya.


Sementara Dimas yang masih belum percaya, ingin menanyakannya langsung pada Rian, ia lalu mencari nomor Rian di kontak ponselnya untuk menghubungi Rian.


Tuuut... tuut,,


Rian yang melihat nama Dimas di layar ponselnya, langsung menggeser ikon telpon berwarna hijau pada layar ponselnya.


" Halo." ucap Rian.

__ADS_1


" Rian, apa benar kau ingin menceraikan adikku?" tanya Dimas.


Rian menghela nafasnya berat.


" Benar." jawabnya singkat.


" Kenapa? apa karna adikku belum memberikan anak untukmu?" tanya Dimas sedikit meninggikan suaranya.


" Ya, aku pria normal Dimas, aku ingin menjadi seorang Ayah, tapi kirana tidak bisa memberikanku anak, lagi pula, aku sudah menikah lagi, dan sebentar lagi, dan sekarang istriku sedang hamil." kata Rian.


" Apa? dasar penghianat, kau sudah menodai cinta adikku yang begitu besar padamu Rian, aku menyesal telah mempercayaimu untuk menjadi suami adikku." Dimas langsung memutuskan panggilannya.


Dimas langsung memukul meja kerjanya dengan kepalan tangannya.


" Brengsek kau Rian, kau sudah berani menyakiti adikku, aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak akan pernah." ucapnya sambil menahan amarahnya.


" Mas, habis telponan sama siapa?" tanya Bella yang baru selesai mengganti pakaiannya, dan tak sengaja mendengar sedikit percakapan Rian.


" Tidak, bukan siapa-siapa, kau tidur duluan, aku mau menyelesaikan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi siang." ucap Rian.


" Tidak bisa di kerjakan besok saja." kata Bella sambil bergelayut manja di tangan Rian.


" Tidak bisa, aku harus menyelesaikannya malam ini juga, karna besok aku harus datang ke sidang, bukannya kamu ingin cepat kita menikah kan." kata Rian.


Bella pun tersenyum.


" Oh iya, yasudah kalo begitu, selesaikan pekerjaanmu, aku mau tidur." ucap Bella.


Rian lalu pergi ke ruang kerjanya, tapi bukan untuk mengerjakan pekerjaannya yang tertunda, melainkan untuk menyendiri.


Disana masih terpajang fotonya bersama Kirana yang sedang tersenyum bahagia, foto itu diambil saat ia melamar Kirana di depan keluarganya dan juga keluarga Kirana, di ambilnya foto yang di bingkai cantik itu, kilasan masa lalunya bersama Kirana, kembali berputar di pikirannya.


Tanpa ia sadari, bulir bening jatuh dari sudut matanya, ia mengingat hari-hari bahagia bersama Kirana, bagaimana Kirana selalu memperlakukannya dengan baik, selalu menghujaninya dengan Cinta dan kasih sayang.


" Maafkan aku Kirana, tidak seharusnya aku menyakitimu, tapi egoku telah mengalahkan Cintaku, aku tau, betapa hancurnya hatimu saat ini, aku tau betapa kecewanya kau padaku, Dimas memang benar, aku penghianat, aku sudah menghianatimu demi keinginanku tanpa memikirkan perasaanmu." Rian yang masih tenggelam dalam penyesalannya, memilih untuk tidur di ruang kerjanya sambil memeluk foto Kirana, tak lupa ia memasang Alarm supaya dia tidak terlambat datang ke persidangan besok.


***


Hari ini akan menjadi hari yang paling menyakitkan bagi Kirana, rasanya ia enggan pergi ke persidangan itu, tapi karna paksaan dari Ayahnya, Kirana pun terpaksa pergi.


" Ayo sayang, Ayah dan Kakak mu sudah menunggu." ucap Bu Rahma.


" Ayo bu." ucap Kirana.


Mereka pun berjalan beriringan keluar menemui pak Hendra dan Dimas yang sudah menunggu, setelah bu Rahma dan Kirana masuk ke mobil, Dimas pun segera melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.


Mbok Jum dan Pak Tio menatap Sendu kepergian mereka.

__ADS_1


" Mbok, saya tidak menyangka, Non Kirana dan Mas Rian akan bercerai." ucap Pak Tio.


" Iya Yo, mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk mereka, karna hanya mereka yang tau permasalahannya, kita yang tidak tau apa-apa, cukup do'akan mereka saja, agar mereka mendapatkan kebahagiaan mereka masing-masing, karna mereka adalah orang-orang yang baik.." ujar Mbok Jum.


__ADS_2