
Houston, Texas
Oliver berada di ruang kerja di perusahaannya. Laki-laki itu nampak kacau sekali. Tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapi, kali ini begitu berantakan.
Bahkan Oliver meminta Javier membatalkan semua pertemuan nya hari ini. Bagi yang bisa diwakilkan, Oliver meminta asisten nya itu untuk menggantikan nya.
"Aku ingin sendirian Javier. Semalam aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata ku. Seharusnya hari ini aku ke New York lagi menemui anak ku, tapi aku tidak mau mengusik ketenangan Olivia. Ia masih sangat marah pada ku. Aku harus menerima kenyataan ini. Semua yang terjadi antara kami karena kesalahan ku. Aku harus sabar menunggu Olivia memaafkan aku", ucap Oliver sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"Jangan ada yang menggangu ku. Sekarang keluarlah. Aku ingin sendiri", perintah Oliver pada Javier.
"Tuan, apa tuan membutuhkan obat lagi? saya akan meminta pada dokter Ryan sekarang juga sebelum saya menggantikan tuan di ruang rapat".
"Tidak perlu. Aku hanya ingin memejamkan mataku sejenak saja. Semalaman aku memikirkan istri dan anak ku, Javi. Aku sangat ingin membawa mereka tinggal bersama ku di sini. Dan memulai semuanya dari awal lagi. Tapi aku tidak bisa memaksakan kehendak ku jika Olivia tidak mau", ujar Oliver sambil memijat keningnya.
Javier terdiam, sejujurnya ia merasa iba melihat kondisi bos-nya itu. Javi tahu apa yang di rasakan Oliver, bertahun-tahun atasannya itu sangat kesepian dan merasa bersalah pada istrinya. Namun beberapa hari yang lalu Javier melihat Oliver begitu bahagia dan bersemangat, tak lain setelah mengetahui bahwa Monica adalah Olivia istrinya dan Asley adalah anaknya.
Tapi saat beberapa hari kembali dari New York keadaan Oliver nampak begitu kacau. Tak jarang ia mengatakan pada Javier sangat merindukan Olivia dan Asley, namun ia harus menahan diri demi kebaikan hubungan ia dan Olivia. Ia tidak mau membuat Olivia semakin membencinya.
"Baiklah tuan, kalau begitu saya harus ke ruang meeting sekarang. Oh ya tuan, Liana harus mengantarkan berkas penting ke perusahaan rekanan sekarang. Apa tuan tidak apa-apa kami tinggal sendirian? Di depan hanya ada wakilnya yang menggantikan Liana berlama ia pergi"
"Iya lakukan pekerjaan kalian. Tentu saja aku tidak apa-apa", jawab Oliver jengah.
Javier menganggukkan kepalanya dan permisi keluar ruangan.
Oliver berdiri dari tempat duduknya. Ia mendekati dinding kaca. Di hadapannya terpampang gedung-gedung pencakar langit lainnya. Sekarang sudah siang. Matahari sudah berada di atas memancarkan sinarnya.
Oliver melihat handphone miliknya, membuka galeri yang di penuhi foto Olivia dan Asley. Saat di New York ia mengambil secara candid foto Olivia yang tidak menyadari Oliver membidiknya. Sementara Asley, sengaja Oliver foto. Bahkan keduanya banyak berfoto bersama.
Beberapa hari yang lalu sebagian foto Olivia dan Asley sudah di letakan di meja dan lemari sudut ruangan mewah itu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah tidak bisa menunggu lama. Aku sudah tidak sabaran untuk membawa kalian tinggal bersama ku".
Oliver terlihat sedih. Laki-laki itu nampak sekali sedang banyak pikiran. Tatapan matanya jauh ke depan.
"Anda tidak boleh masuk nona!"
"Minggir! Jangan coba-coba menghalangi ku. Aku ingin menemui kekasih ku!"
"Security...!"
Oliver memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Shitt. Mau apa wanita gila itu kemari", geram Oliver kesal ketika mendengar keributan di depan pintu ruangannya. Ia tahu suara yang berteriak memaksa masuk itu adalah Claudia.
"Ceklek..."
Oliver membalikan badannya menatap tajam Claudia.
"Maaf tuan Oliver wanita ini tiba-tiba menerobos masuk. Tadi saya baru saja mengantarkan berkas penting ke divisi keuangan, tiba-tiba wanita ini sudah ada".
Claudia berlari menghambur memeluk Oliver. Dengan sigap Oliver menepisnya. "Kalian bawa wanita gila ini keluar dari ruangan ku sekarang juga!"
"Jangan pernah coba-coba berani datang menemui ku lagi Claudia, apa kau belum kapok juga mengusik hidup ku, hah?! Aku ingat kan pada mu, jangan pernah berani menyentuh keluarga ku. Olivia dan Asley anak ku. Atau kau membusuk di penjara. Jika kau masih berani mengganggu ku aku pastikan kau bukan hanya kehilangan pekerjaan mu itu!", ancam Oliver sambil mencengkram kuat leher Claudia.
Oliver tidak main-main dengan ancamannya. Sorot mata menggelap penuh kebencian menghunus tajam menatap Claudia. Rahangnya pun mengetat. Terdengar gemeretukan gigi menahan amarahnya.
Keamanan dan wakil sekretaris Oliver seketika terdiam, tidak ada yang berani mencegah tindakan atasan mereka itu.
Saat ini hanya terdengar nafas Claudia yang tercekat. "H-oney, L-epaskan. S-akit", rintihnya dengan suara terbata-bata. Sementara jemari tangan Claudia berusaha melepaskan cengkraman tangan Oliver di lehernya. Namun gagal, cengkraman itu sangat kuat.
__ADS_1
Hingga suara lembut namun terdengar begitu kaget melihat apa yang terjadi di ruangan itu menghentakkan Oliver.
"Oliver..."
"Daddy..."
Oliver spontan menatap Olivia dan Asley yang berdiri di depan pintu. Olivia menatapnya dengan mata membulat sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Cepat-cepat Oliver melepaskan cengkraman tangannya pada leher Claudia.
Claudia terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Wajahnya merah padam.
"Daddy..Aku merindu–"
"Anak sialan, kau anak ja*ang yang merebut kekasih ku!", teriak Claudia mendorong kuat tubuh Asley yang berlari hendak menghampiri ayahnya.
"Brugh..."
"Akh–"
"Oh Tuhan sayang". Olivia menjerit kaget ketika melihat Claudia tiba-tiba menyerang anaknya.
"Asley", teriak Oliver berlari hendak melindungi kepala Asley membentur meja.
"D-addy M-om–"
"Sayang...Tidakkk!"
...***...
__ADS_1