ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MEMINTA PENJELASAN ELA


__ADS_3

"Nona, kemana tujuan anda sebenarnya? Kita sudah lama berkeliling kota seperti ini. Bahkan sekarang sudah tengah malam, nona. Waktu menarik saya sudah selesai dan harus pulang. Anak dan istri saya pasti sudah menunggu kepulangan saya ke rumah".


Lamunan Ela seketika buyar, ketika mendengar suara sopir taxi yang mengingatkan kembali tujuannya.


Ya, sedari tadi Ela meminta sopir taxi itu hanya berkeliling-keliling saja tanpa tujuan pasti. Sementara ia lebih banyak melamun dan berpikir yang membuat kepalanya sakit, berdenyut-denyut seperti orang terserang migrain akut.


"Antar kan aku ke Reagen apartement", jawab Elara dengan suara terdengar begitu lemah.


Sopir itu menganggukkan kepalanya. "Baik nona".


Beberapa menit berlalu, taxi yang membawa Elara berhenti di depan lobby apartemen mewah itu. Ela membuka tas selempang miliknya dan memberikan uang pada sopir taxi.


"Nona, ini terlalu banyak. Anda kelebihan membayarnya", ucap sang sopir mengembalikan beberapa lembar pada Elara.


"Tidak apa-apa. Itu milik mu, aku sudah memberikan nya", jawab Elara berlalu. Namun Ela tidak melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobby melainkan duduk di kursi taman yang berada di sisi gedung apartemen.


Hujan telah reda beberapa jam yang lalu. Ela mengenadahkan wajah ke atas melihat langit yang hitam pekat. Di sana nampak beberapa bintang menampakkan diri dengan sinar redupnya. "Kalian seperti perasaan ku saat ini", gumam Elara.


*


Langit masih gelap, kala Ela membuka pintu apartemen miliknya yang sudah lama tidak ditempatinya selama beberapa tahun terakhir.

__ADS_1


Wajah pucat dengan rambut digelung acak di atas. Terlihat lingkaran hitam di bawah matanya. Menampilkan Ela yang tidak tidur semalaman. Tampak tubuh Elara menggigil menahan hawa dingin yang menusuk tulang.


Setelah pintu unit nya terbuka. Ela menarik nafas dalam, melepas flat milik nya secara sembarangan.


Sesaat Ela memejamkan matanya. Kemudian ia melangkah masuk hendak langsung menuju ke kamarnya namun dikejutkan melihat sosok laki-laki yang sangat di butuhkan nya saat ini. Elara ingin sekali menghambur memeluk tubuh itu, namun ia tidak berani. Ela tahu pasti Maxxie menuntut penjelasan darinya.


"S-ayang apa yang kau lakukan disini?". Ela tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadaran dirinya.


"Ini pasti hanya mimpi. Tapi...seperti benar-benar nyata ada nya, bukan mimpi", gumam Ela lirih.


Maxxie tak bergeming sedikitpun dari sofa dan Ela juga masih terdiam mematung ditempatnya semua melihat laki-laki dengan tatapan sayu.


Menit berikutnya Maxxie memijat keningnya. Tanpa menatap Ela sedikitpun. Sekarang Ela tahu, Max benar-benar marah pada nya.


Tanpa menatap Ela yang terdiam mematung di tempat semula, Maxxie melemparkan beberapa foto ke atas meja. "Apa maksud semua ini. Sebenarnya ada hubungan apa kalian berdua, hah?"


Netra Ela melihat sekilas foto-foto itu, ia tahu itu foto berdasarkan rekaman CCTV yang ada di perusahaan Lucifer. Mata Ela sudah berkaca-kaca. Nampak jelas lingkaran hitam dan bengkak di bawah mata indah itu. Ia tahu inilah yang harus di hadapi nya sekarang. Maxxie bahkan Oliver pasti menuntutnya menjelaskan semuanya.


Sekarang Ela seperti pesakitan. Berdiri dengan wajah pucat dan jemari tangan saling meremas. Tubuhnya begitu lemah. Dari semalam hingga kini perutnya belum memakan apapun. Setelah mengalami hari yang berat bagi nya, Ela belum memejamkan matanya sama sekali yang begitu mempengaruhi kesehatan nya. Tubuhnya lemas.


Namun sekarang ia di hadapkan pada permintaan tuntutan penjelasan dari tunangannya. Rasanya Elara tidak memiliki kekuatan untuk menjelaskan semuanya saat ini.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Maxxie mengangkat wajahnya dan menatap Ela yang berdiri dengan tubuh gemetaran dan wajah pucat pasi.


"Kenapa kau diam saja, Elara. Apa begitu banyak kebohongan yang kau simpan di wajah polos mu itu, hah?"


Maxxie menarik nafasnya dalam-dalam. Beranjak dari tempat duduknya semula. Mendekati Ela yang menatapnya dengan tatapan sendu dan bibir bergetar.


"Kau tahu hal yang paling aku benci di dunia ini, Ela? Adalah kemunafikan. Kebohongan. Dan perselingkuhan. Aku tidak akan pernah bisa menerima pasangan ku melakukan tindakan itu!".


"Itulah mengapa aku tetap menduda hingga tahunan lamanya. Prinsip yang aku pegang memang beda dari laki-laki lain. Aku serius dengan kehidupan ku. Aku bukan laki-laki yang mudah memberikan hati pada wanita manapun. Aku menghormati wanita. Rasanya wajar jika aku ingin mendapatkan wanita baik-baik yang akan bersama ku, menemani di sisa hidup ku", tegas Maxxie menatap Elara yang tak bisa menjawabnya.


Tiba-tiba lidah Elara kelu. Ia tak bergeming sedikitpun. Namun sorot mata wanita itu begitu sendu menatap Maxxie. Kedua netra Elara berkaca-kaca dan terasa panas.


"Baiklah kau tetap diam. Diam mu itu aku artikan kau tidak mau menjelaskan semuanya padaku".


"Sepertinya Elland meninggalkan perasaan mendalam bagi mu, Ela. Bahkan nama kalian pun sama. Sepertinya aku terlalu cepat mengiyakan permintaan mu untuk bertunangan. Nyatanya semua itu karena kau tahu Elland kembali ke kota ini".


"Aku baru menyadari perubahan mu saat malam itu ketika kau melihat hotel milik Elland dan mendengar namanya. Seketika kau berubah. Dan akhirnya aku tahu jawabannya sekarang".


Ucapan Maxxie kali ini mampu membuat tangisan Ela tumpah. Dengan terisak tubuh Ela berguncang.


"M-aafkan aku, tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaan ku pada mu. A-ku mencintai mu. Aku tidak tahu harus memulai penjelasan ini dari mana", lirih Ela menahan lengan Maxxie yang hendak pergi keluar apartemen miliknya. Ela masih terisak.

__ADS_1


"Sebaiknya kau istirahat. Aku akan mendengarkan penjelasan mu saat kau sudah tahu dari mana kau harus memulai nya, Ela", ucap Maxxie menarik tangannya dari genggaman Ela. Tanpa menatap Elara, Max pergi dan menutup pintu unit mewah itu, meninggalkan Ela sendirian dengan perasaan hancur dan bersalah.


...***...


__ADS_2