
"Kenapa kau kemari, pergilah. Aku ingin sendiri".
"Aku akan pergi jika kau menjawab pertanyaan ku, Ela. Apa yang terjadi sebenarnya antara kau dan Max, kenapa kau pergi darinya jika kau memang benar-benar mencintai Maxxie?".
Elara tak menjawab apapun, ia hanya diam dan menatap jauh ke depan ke hamparan bunga matahari yang sedang bermekaran.
"Bukan urusan mu. Aku tidak berkewajiban menjelaskan apapun padamu", jawab Ela pelan namun terdengar tegas.
Elland menganggukkan kepalanya. "Apa kau benar-benar mencintai Max? Jika kau benar-benar mencintainya seharusnya tetap bersamanya Ela, bukan pergi seperti ini".
Perkataan Elland nyatanya mampu membuat Ela bereaksi. "Lihat siapa yang bicara sekarang. Seolah-olah dia laki-laki yang tidak pernah melakukannya". Sesaat Elara menatap sinis Elland yang berada di sampingnya.
"Bukan begitu maksudku. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat mu mengingat masa lalu kita. Kecuali jika kau masih memiliki perasaan pada ku Ela–"
"Tentu saja tidak. Aku pastikan kau hanya bagian masa laluku yang kelam dan aku telah menguburnya sejak lama. Sejak kau pergi", tegas Ela tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun.
"Setelah itu, aku memang tidak pernah membuka hati ku untuk laki-laki manapun lagi. Sementara aku sudah bisa menata hidup ku lagi. Sendirian. Aku tidak membutuhkan siapapun di samping ku".
__ADS_1
"Namun semuanya seakan luluh dalam sekejap saja, ketika aku bertemu dengan Maxxie. Lambat laun aku merasakan perasaan mendalam padanya. Kami menjadi kekasih. Aku sangat mencintai nya. Rasa yang sudah mati perlahan hidup kembali. Aku merasakan lagi cintaku".
"Aku berharap lebih. Ternyata aku terlalu naif. Aku salah jika berpikiran masa lalu ku tidak akan mempengaruhi hubungan kami. Nyatanya kalian berteman. Saat mengetahui kau kembali ke Houston dan ternyata kalian bersahabat baik, membuat aku syok", ucap Elara dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Aku tidak sanggup jika harus menceritakan semuanya pada Max. Aku takut kehilangannya", ucap Elara tertunduk lesu.
Maxxie yang berdiri di balik pohon oak, terdiam di tempatnya. Ia mendengar semua yang di ucapkan Elara pada Elland.
Elland menggenggam jemari Ela. "Maafkan aku, Ela. Karena kesalahan ku, kau tidak bisa bahagia".
"Tujuan ku kembali ke Houston adalah diri mu. Aku berharap kita bisa memulai dari awal lagi. Saat melihat mu dan mengetahui ternyata kau sudah bertunangan dengan Maxxie, benar-benar membuat hatiku tidak bisa menerima nya Ela".
"Kau jangan salah paham Elara. Aku sudah memutuskan, besok akan kembali ke Amsterdam".
"Aku akan pergi sekarang. Kau tenangkan diri mu, karena Max sedang menuju kemari. Aku tahu ia sangat tersiksa dan menyesal Ela. Ia sangat mencintaimu, aku tahu itu. Aku harap kalian bersama lagi", ucap Ellando bersungguh-sungguh.
Penuturan Elland tentu saja membuat Ela kaget, ia menatap Elland yang berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Krekk..
Terdengar sangat jelas suara ranting yang terinjak. Sontak keduanya menolehkan kepalanya menatap ke sumber suara.
Bola mata Elara yang nampak merah semakin melebar melotot tak percaya apa yang di lihatnya sekarang.
"Kau sudah datang ternyata. Jangan salah paham melihatku bersama tunangan mu. Aku hanya berpamitan. Aku harap kalian berbaikan", ujar Elland membalikkan badannya sembari menepuk pundak Maxxie yang terlihat sedang mengusap tengkuknya menatap punggung Elland yang menjauh.
Sementara Elara terdiam tanpa sepatah katapun, ia hanya menundukkan wajahnya. Sesaat kemudian mengangkat wajahnya kembali, memberanikan diri menatap Maxxie yang melangkah mendekati nya.
"Apa yang di katakan Elland benar. Ia hanya berpamitan, besok akan kembali ke Amsterdam".
Seakan meminta agar Maxxie jangan salah paham padanya, dengan tatapan sayu Elara melihat Max.
"M-Maaf kan aku".
Elara tidak sanggup lagi menatap netra hitam kelam Maxxie yang menatapnya dengan tatapan tajam. Elara tertunduk, sementara jemari tangannya saling bertautan karena gugup.
__ADS_1
Entah apa yang ada di kepala Elara, tiba-tiba ia memutar-mutar cincin pertunangan mereka. Ela melepaskan cincin itu. "Aku tidak pantas memakainya, aku sudah menyakiti mu", lirihnya dengan suara bergetar.
...***...