
"Bagaimana keadaan Istri ku?", tanya Maxxie dengan wajah serius ketika dokter paruh baya yang baru saja selesai memeriksa keadaan Elara.
Maxxie tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya semula. Berdiri di samping tempat tidur di mana istri berbaring. Tubuhnya nampak lemah sekali, wajahnya pun pucat.
Mengetahui Ela sakit benar-benar membuat Max panik. Bagaimana tidak, selama pernikahan Ela tidak pernah sakit seperti itu. Maxxie sangat kuatir saat ini.
Sesekali Ela mengerjapkan kelopak matanya. Namun mata itu lebih banyak terpejam. Ela ingin mengurangi rasa sakit kepalanya. Maxxie segera duduk di dekat Ela dan memberikan pijatan lembut di kening istrinya.
Sementara Olivia dan Oliver berdiri di sisi tempat tidur sebelah yang lainnya. Keduanya juga ingin tahu keadaan Ela yang sebenarnya.
"Istri mu hamil tujuh minggu. Kamu harus istirahat total El. Menurut pemeriksaan ku, kamu menderita anemia. Tekanan darah mu rendah, itulah kenapa El mengalami sakit kepala".
Mendengar perkataan dokter tentu saja membuat Maxxie kaget. Laki-laki itu melonjak seketika, bangkit berdiri. "Apa? Istriku hamil?"
Max terlihat kebingungan dan tidak percaya apa yang di dengarnya barusan. Sama halnya Elara, bahkan wanita itu pun langsung duduk. Mendadak sakit kepalanya tak dirasakannya lagi saking terkejutnya ia mendengar diagnosa dokter keluarga nya sekaligus teman baik Lucifer ayahnya. Kedua mata Ela terbuka sempurna.
Namun Olivia dan Oliver langsung bernafas lega. Senyum bahagia menghiasi raut wajah keduanya.
"A-ku hamil? Hampir dua bulan? Bagaimana bisa, sedangkan haid ku baru telat tiga hari saja paman Page", ucap Elara masih sangsi.
"Yang di hitung itu bukan keterlambatan hari ini sayang. Tapi terhitung hari terakhir siklus mu. Apa kau ingat kapan terakhir kamu menstruasi?"
__ADS_1
Sejenak Elara terdiam dan mengingat-ingat menghitung dalam hati. "Oh my God, artinya aku benar-benar hamil. Sayang calon anak kita ada di perut ku", ucap Elara sumringah hendak berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Maxxie.
Namun Max sigap melarangnya. Ialah yang mendekati Elara, memeluknya erat-erat sembari mengusap lembut punggung Istrinya itu.
Berulang kali Maxxie memberikan kecupan di kening dan pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan. "Terimakasih sayang. Aku sangat bahagia saat ini. Tidak lama lagi kita menjadi orang tua".
Olivia dan Oliver pun merasakan kebahagiaan adik mereka. "Selamat untuk kalian berdua. Aku dan Oliv sangat bahagia".
"Artinya paman akan menunda pensiun paman, agar bisa mengontrol kandungan mu selama kau berada di perkebunan. Ingat kamu harus banyak istirahat. Dan jangan naik turun tangga di awal kehamilan ini, karena kau menderita anemia bisa saja tiba-tiba mengalami sakit kepala mendadak yang akan membahayakan kesehatan mu dan jabang bayi yang ada di kandungan mu", ucap dokter kandungan yang juga menjadi dokter pribadi keluarga Elara sambil memberikan beberapa macam obat yang harus di minum Ela saat ini pada Maxxie.
"Kau dengar itu sayang. Aku akan menjagamu. Sepertinya kita akan lebih lama tinggal di perkebunan", ujar Maxxie sembari mengusap lembut kening istrinya yang sudah normal tidak panas lagi setelah minum obat penurun panas yang di berikan dokter Page.
"Itu lebih baik, Max. Kau bisa memakai ruang kerja ku sementara berada di sini", ucap Oliver memberikan support pada Ela dan Maxxie.
"Iya paman. Terima kasih untuk semuanya", jawab Ela.
Beberapa jam berlalu, Elara duduk bersandar di tempat tidur setelah makan siang dan meminum vitamin.
Max setia menemaninya. Saat ini Maxxie menatap lekat wajah cantik Elara, sementara jemari tangannya mengusap perut rata Ela. "Siapa sangka ada anakku di sini", ucapnya pelan. "Boy kau harus sehat dan kuat di dalam sana. Daddy sangat bahagia segera melihat mu", ucap Maxxie mengecup lembut perut Ela dengan wajah sumringah.
"Sayang, Jangan memanggil anak kita seperti itu. Bagaimana kalau anak kita nantinya perempuan. Apa kamu tidak menerimanya?"
__ADS_1
"Tentu saja aku menerimanya Ela. Mau anak laki-laki atau perempuan sama saja, mereka anak Maxxie Leonard Horwitz", jawab Max tersenyum.
Elara tersenyum sambil mengusap rambut hitam suaminya. "Apa kau bahagia sayang?"
Max mengangkat wajahnya menatap wajah istrinya. "Tentu saja Ela. Memiliki anak dari mu adalah hal yang paling aku dambakan".
Max membingkai wajah Elara, me*umat bibir ranum istrinya yang terbuka. Pasangan yang sedang berbahagia tersebut terbuai. Menjelajah hingga dalam dan penuh perasaan. Jemari Elara mencengkram kaos yang dipakai Maxxie.
Tiba-tiba Max menghentikan tautan bibirnya. "Ah. Aku harus bisa menahan hasrat ku sampai kandungan mu aman, Ela".
Elara mengusap rahang tajam Maxxie yang di tumbuhi bulu-bulu halus. "Iya sayang".
Max masih menatap intens Elara. "Kenapa kau tidak memberi tahu ku bahwa sudah telat?"
"Aku tidak mau kecewa sayang. Jujur setiap telat dan menggunakan testpack itu membuatku deg-degan. Aku benar-benar gugup jika hasilnya tidak sesuai harapan. Terlebih kau selalu menunggu hasilnya. Aku tahu kau sangat menginginkan hasil positif", jawab Elara.
"Aku memang menginginkannya Ela. Tapi tentu saja tidak mengharapkan mu merasa terbebani", ucap Maxxie tersenyum. Ia memeluk tubuh Elara. Mengusap lembut punggungnya. "Sekarang kau dan calon anak kita yang terpenting. Aku memutuskan kita tetap berada di perkebunan sampai kondisi mu membaik dan aman".
Elara menyandarkan wajahnya pada dada bidang suaminya. "Iya sayang. Aku mencintaimu..."
...***...
__ADS_1
To be continue