ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
OLIVER-MAXXIE


__ADS_3

"Silahkan duduk. Ada apa kau menemui ku, tuan Maxxie?", ujar Oliver yang masih tak bergeming dari kursi kebesarannya di belakang meja kerja milik nya.


Maxxie menatap tajam Oliver dengan pandangan tak bersahabat. Alis tebal hitam milik laki-laki itu pun nampak bertaut. "Aku tidak terbiasa berbasa-basi, tuan Oliver. Jauhi Olivia dan Asley, jika kau hanya akan membawa penderitaan buat mereka!", ketusnya.


Mendengar perkataan singkat Maxxie, membuat Oliver menyandarkan punggungnya dan melayangkan sorot mata yang menajam juga membalas tatapan laki-laki yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana itu.


Nampak smirk di wajah Oliver.


"Heh..Siapa kau berani menyuruh ku menjauhi istri dan anak ku".


Maxxie semakin menautkan alisnya. "Aku tidak main-main dengan ucapan ku, tuan Oliver Asley Lucifer. Aku tidak mau laki-laki tidak bertanggungjawab seperti diri mu ini menyakiti orang-orang yang sangat aku sayangi!", ketus Maxxie sambil menghunuskan tatapan nya.


"Huhh".

__ADS_1


Oliver membuang nafas. Laki-laki itu terlihat tenang dan biasa-biasa saja. "Apa hanya itu yang ingin kau sampaikan padaku? Apa kau yakin hanya menyayangi Olivia? Kau yakin tidak mencintai istri ku, tuan Maxxie? Katakan saja terus terang, mumpung hanya kita berdua di ruangan ini!", ujar Oliver dengan tegas seakan menantang Maxxie.


Untuk sesaat, Max terdiam. Namun kedua matanya kian menghunuskan tatapan tajam. Seperti mata pisau yang begitu runcing.


"Bagiku Olivia sudah seperti adikku sendiri. Sejak aku menemukan nya dulu dalam kondisi sangat memprihatinkan. Aku ingin selalu melindungi Olivia. Aku tahu sekarang kau sudah mengetahui semuanya. Asley memang bukan darah daging ku, tapi ia sudah seperti anak ku sendiri. Jadi... aku tekankan pada mu, jangan pernah menyakiti Olivia dan Asley karena ia tidak sendirian lagi di dunia ini. Aku tekankan pada mu tuan Oliver, aku tidak akan tinggal diam jika kau membuat Olivia menangis lagi! Kau cam kan itu!"


Oliver menatap Maxxie. "Kau memang telah menyelamatkan istriku. Dari lubuk hati ku yang paling dalam aku ucapkan terimakasih. Mungkin terimakasih ku ini tidak ada artinya di bandingkan dengan apa yang sudah kau lakukan pada Oliv dulu, hingga kau membuatnya menjadi wanita kuat seperti sekarang, aku ucapkan terimakasih. Apa yang kau lakukan tidak bisa diukur dengan apapun termasuk uang dalam jumlah besar sekalipun. Namun aku tetap akan mengembalikan uang mu itu", ucap tegas Oliver sambil mengambil buku cek di laci meja kerjanya.


"Sayangnya aku tidak akan pernah menuruti mu untuk menjauh dari keluarga yang aku cari selama ini. Mereka milik ku, tuan Maxxie. Olivia adalah wanita yang aku cintai, ia akan selalu bersama ku. Begitu juga Asley anak ku. Aku mencintai mereka sepenuh hatiku. Sekarang aku hanya mengikuti keinginan Oliv, tak lain karena aku tidak ingin kehilangan dirinya. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku ingin memulai dari awal. Aku tidak akan memaksakan kehendak, aku akan menunggu Olivia membuka hatinya lagi untuk ku, dan memaafkan semua kesalahanku".


Maxxie menghembuskan nafasnya. Ia bisa melihat keseriusan dari ucapan Oliver. Wajah yang sebelumnya terlihat tidak bersahabat berangsur normal. Max duduk di hadapan Oliver. Ia bersedia melakukan nya, setelah mendengar kesungguhan laki-laki itu.


"Aku pegang janji mu itu, Oliver. Olivia wanita yang sangat baik, ia layak untuk bahagia. Bodoh sekali kau mencampakkan nya. Apalagi ada Asley diantara kalian", ujar Maxxie.

__ADS_1


Oliver menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Iya, aku memang bodoh. Aku terlambat menyadari perasaan ku. Kau tidak perlu kuatir, kali ini aku sangat sadar akan perasaan ku. Aku tidak akan melakukan kebodohan untuk yang kedua kalinya. Olivia segalanya bagiku, di tambah ia telah memberi ku Asley, perasaan ku semakin mendalam pada Oliv".


Maxxie menganggukkan kepalanya, senyum tipis menghiasi sudut bibirnya. "Aku senang mendengarnya. Aku yakin Olivia masih mencintai mu. Asal kau tahu beberapa kali aku menawarkan pernikahan padanya, tapi ia selalu berucap belum siap untuk memulainya lagi".


"Baiklah...aku pulang sekarang. Aku lega mengetahui perasaan mu ada Olivia dan Asley, Oliver. Aku kan membantu mu mendapatkan cinta istrimu kembali", ujar Maxxie sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Terima kasih", jawab Oliver pun berdiri sembari menyambut tangan Maxxie dengan tersenyum hangat.


"Aku tidak membutuhkan bayaran apapun. Simpan saja uang mu", ucap Maxxie ketika melihat Oliver menyobek selembar cek.


"Oh ya aku lupa bertanya, siapa wanita yang bersama mu saat di restoran itu? Apa ia kekasih mu saat ini? Apa kau akan menyakiti wanita itu juga?". Maxxie menatap tajam Oliver dengan selidik.


Oliver tersenyum. "Tentu saja bukan. Ia adikku Elara. Karena gadis keras kepala itulah aku bisa mengenal anak ku", jawab Oliver.

__ADS_1


Maxxie menyunggingkan senyuman. "Oh begitu. Ternyata kalian kakak adik", ujar Maxxie menutupi rasa kagetnya. "Aku lega mendengarnya. Kalau begitu aku permisi Oliver", ujar Maxxie tersenyum.


...***...


__ADS_2