ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BREAKFAST


__ADS_3

Olivia melototkan kedua matanya pada Oliver yang berucap lantang mengatakan akan memberikan banyak adik pada Asley.


"Yang benar saja sayang. Kita harus fokus penyembuhan Asley dulu baru memikirkan yang lainnya", seru Olivia mencium pipi putra kesayangannya.


"Tentu saja, kesembuhan Asley yang utama. Tapi aku akan terus meminta jatah dari mu agar kau segera hamil lagi. Lihat lah Asley sudah semakin besar masak belum memiliki adik".


"Iya kan sayang? Jagoan daddy pasti kesepian karena tidak memiliki teman di rumah", tanya Oliver menatap putra kesayangannya yang sedang mengunyah makanannya.


Terlihat Asley cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian setelah makanan yang ada dalam mulutnya habis, bocah itu menjawab dengan wajah ceria. "Iya daddy, aku ingin memiliki teman di rumah. Aku ingin adik laki-laki dan adik perempuan", ucap nya sambil menautkan tangan mungilnya di depan dada dengan kelopak mata menggerjap-ngerjap lucu.


Olivia dan Elara tertawa m lihat tingkah Asley.


"Agree. Daddy akan mengabulkan permintaan mu", jawab Oliver sambil menundukkan kepalanya mengecup pucuk kepala Asley.


"Hughh. Anak dan ayah sama saja", seru Olivia menggelengkan kepalanya. Ia duduk di hadapan Asley dan Elara, begitu pun Oliver segera menyusulnya duduk. bersebelahan.

__ADS_1


Olivia mengambilkan makanan untuk Oliver. Yang ia tahu Oli selalu makan dengan menu sehat. Breakfast biasanya laki-laki itu lebih memilih sereal gandum dengan susu kacang kesukaannya.


Tidak bisa dipungkiri Olivia adalah wanita telaten mengurus keluarga. Namun hal istimewa itu dulu selalu terabaikan oleh Oliver. Laki-laki itu selalu nampak buru-buru menghabiskan makanan dan berlalu begitu saja pergi ke kantornya.


Olivia menaruh piring berisi makanan di depan suaminya.


Oliver tersenyum melihatnya. "Terimakasih sayang, kau masih ingat makanan kesukaan ku. Sekarang giliran ku". Oliver berdiri dan mengambilkan makanan untuk Olivia.


"Tortilla jagung kesukaan mu", ucap Oliver tersenyum menyodorkan piring berisi makanan kesukaan Oliv.


Oliver tersenyum melihat wajah kaget istrinya itu. "Tentu saja aku tahu. Apa kau lupa selama menikah dengan ku kau selalu mengambil makanan sejenis itu. Satunya lagi sandwich daging. Kau tidak menyadari jika aku selalu memperhatikan tingkah mu itu, hem?", Jawab Oliver sambil mencubit ujung hidung Olivia.


"Ckckck...ternyata sudah sejak lama kalian berdua ini saling memperhatikan satu sama lain ya. Kenapa juga kalian harus terpisah lama jika sama-sama memiliki perasaan mendalam seperti itu. Kenapa juga kakak tidak peka, terlambat menyadari perasaan mu", ledek Elara pada Oliver yang sedang mencium mesra wajah Olivia yang merona.


"Yahh, aku memang salah. Sekarang aku akan menebus kesalahanku di masa lalu. Di mulai dengan meminta istri dan anakku pindah ke kota ini. Kami tidak akan berpisah lagi. Javier sudah mengurus sekolah Asley di Houston. Sekolah terbaik. Beberapa hari ke depan kita bisa melihatnya, jika kondisi Asley sudah lebih baik lagi".

__ADS_1


Olivia menatap Oliver dengan kelopak mata menggerjap-ngerjap. Jujur perasaannya seketika menghangat sekaligus haru. Olivia tidak tahu sama sekali, ternyata Oliver mempersiapkan semuanya dan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya ingin memperbaiki hubungan mereka. Anggaplah memulai dari awal lagi.


"Oliv, kenapa kau diam saja. Apa ada yang mengganjal di hati mu, hem? Katakan saja jika kamu ada ide lainnya sayang", ujar Oliver terdengar sangat lembut sambil menggenggam jemari tangan Olivia.


"A-ku... Aku tidak mengira kau menyiapkan semuanya. Kau bersungguh-sungguh ingin bersama kami", ucap Olivia terbata membalas tatapan teduh Oliver.


Oliver tersenyum mendengarnya.


"Tentu saja aku bersungguh-sungguh. Aku tidak mau lagi terpisah dari mu dan Asley. Kita akan selalu bersama. Tidak perlu kuatir dengan perusahaan mu di New York. Aku akan menempatkan orang terbaik membantu mu di sana, sementara kau di sini bersama ku. Kau akan berkantor di perusahaan ku. Sekarang pekerja kontruksi sedang membangun ruangan mu di sana. Besok aku akan mengajak mu ke perusahaan, kau bisa menentukan sendiri warna ruangan maupun interior yang kau inginkan".


Kali ini ucapan Oliver mampu membuat manik indah Olivia berkaca-kaca. Olivia tidak mampu berkata-kata wanita itu hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ide Oliver. Oliv tidak bisa menutupi rasa bahagia, ia membalas genggaman tangan Oliver. Menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh perasaan. "Aku setuju dengan ide mu sayang. Apalagi menyangkut hal baik untuk anak kita, aku tidak akan pernah bisa menolaknya", ucap Olivia tersenyum haru sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Oliver yang mengecup lembut pucuk kepala istrinya itu.


"Apapun akan aku lakukan untuk membahagiakan mu dan anak ku, Oli. Aku janji. Percayalah padaku.."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2