ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MENDADAK SAKIT


__ADS_3

Hari masih gelap ketika Olivia terjaga dari tidur. Lengan berotot Oliver masih melingkar di atas perut rata Oliv. Terasa berat.


Setelah ingatan Olivia terkumpul, ia baru menyadari berada di private room yang ada di ruang kerja suaminya. Yang Oliv ingat, semalaman menghabiskan waktu intim dengan Oliver di sofa depan meja kerja.


"Oli, mengangkat ku. Kalau kelelahan seperti ini, aku benar-benar terlelap layaknya orang mati saja", gumam Olivia sambil menatap jam di dinding menunjukkan pukul empat dini hari. Oliv menekan tombol lampu di atas nakas. Perlahan menggeser tangan Oli, jangan sampai membangunkan laki-laki yang masih tertidur pulas.


Ela menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Kedua matanya menatap ke seluruh penjuru kamar, mencari sesuatu namun tak ia temukan.


Dengan kaki setengah menjijit, wanita itu perlahan membuka handle pintu. Kedua matanya menatap pakaian miliknya dan Oliver teronggok di lantai ruang kerja. Tanpa pikir panjang Olivia langsung memakai kaos Oliver untuk menutupi tubuhnya. Kaos yang nampak begitu kebesaran di tubuh Oliv, sudah seperti mini dress.


"Perut ku sangat lapar sekarang, Oliver membuatku benar-benar kelelahan seperti ini", ujar Olivia pada dirinya sendiri sembari keluar ruang kerja.


*


Oliver menggeliatkan tubuhnya sembari meraba-raba di sampingnya. Tak menemukan apapun. "Apa Oliv sudah bangun sepagi ini?", Gumam Oli sambil menolehkan wajahnya menatap bantal yang di tiduri istri nya semalam.


Oliver duduk menyandarkan punggungnya pada ujung tempat tidur, bahkan masih bertelanjang dada hanya menggunakan training saja.


Ceklek...


Oliver melihat istrinya masuk dengan nampan di tangan. Oliver tidak berminat mengetahui apa yang ada di atas nampan itu, tapi ia lebih tertarik melihat Olivia yang memakai kaos miliknya yang nampak kebesaran di tubuhnya. Olivia begitu seksi seperti itu, dengan rambut di ikat seadanya di atas kepala. Oliver tersenyum penuh arti melihat istrinya.


"Sayang kau sudah bangun. Di luar masih gelap. Tidur saja lagi jika kau masih mengantuk. Aku tidak bermaksud membangunkan mu, aku kelaparan makanya aku ke pantry mencari makanan–"


"Kalau kau begini, bisa-bisa aku akan membuatmu semakin kelaparan, Olivia. Kau mau menggoda suami mu ya dengan memakai kaos kebesaran itu dan mengikat rambut mu seperti ini, hem?"

__ADS_1


Ternyata Oliver sudah berdiri di hadapan Olivia dan mengambil nampan di tangan istrinya. Dengan satu tangan Oli menarik pinggang Olivia. Merapatkan tubuh itu padanya.


Olivia melebarkan kedua matanya mendengar perkataan suaminya. "Aku tidak sedang menggoda mu–"


Tiba-tiba Oliver langsung me*umat bibir ranum istrinya, dan tidak memberikan Olivia melanjutkan ucapannya. Oliver melahap dengan liar bibir Olivia, membuat mulut Oliv berdesis.


"O-liver apa yang kau lakukan! Aku kelaparan sayang". Olivia melototkan kedua matanya sambil memukul dada Oliver yang tertawa jahil.


"Aku tidak bisa menahan diriku kalau kau tampil seksi begini, sayang. Lihat lah milik ku sudah bangkit lagi".


"Huhh kau ini, tidak pernah lelah. Aku yang kelelahan. Sekarang perutku kelaparan bahkan hari masih gelap begini".


Olivia mengambil nampan di tangan suaminya dan membawanya ke atas tempat tidur. "Kau mau sandwich daging tidak? Aku membuatnya dua potong".


"Kamu saja yang menghabiskan. Ini terlalu pagi untuk sarapan. Aku akan menemani mu makan. Setelah itu aku harus segera membersihkan tubuh dan kekantor. Jadwal ku sangat padat hari ini, sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini".


"Sayang, semalam aku mendengar perusahaan mu kerjasama dengan perusahaan Elland, apa masih terus berlanjut?"


"Iya. Laki-laki itu sudah mengakui kesalahannya. Ia juga memilih untuk menetap di Amsterdam dan bisa menerima keputusan Elara yang memilih Maxxie. Aku sebagai kakak Elara bisa menerima itu. Makanya aku masih mau melanjutkan kerja sama dengan Elland. Bagaimana pun tadinya kami memang berteman baik".


Olivia mendengarkan penuturan Oliver. "Aku senang Max dan Ela sekarang sudah berbaikan. Dan membawa kabar baik juga untuk kita semua beberapa minggu yang lalu", ucap Olivia sumringah.


"Huh siapa sangka Maxxie dan adik mu akhirnya akan menikah beberapa hari lagi. Aku sangat senang melihat mereka. Max laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Ela juga wanita baik-baik, mereka memang berjodoh", ucap Olivia sembari mengigit potongan sandwich di tangannya.


Sudah sekitar tiga kali gigitan Olivia pada sandwich buatan nya, tiba-tiba ia merasakan mual. "Hm...kenapa rasanya jadi begini. Perutku mual, sayang".

__ADS_1


Oliver menyadari perubahan istrinya.


"Oliv, kau kenapa?"


Olivia menaruh sisa sandwich ke atas piring dan berlari masuk ke kamar mandi sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


Oliver segera mengikuti istrinya masuk ke kamar mandi. Olivia memuntahkan makanan yang baru saja di telannya.


Melihat itu semua membuat Oliver sangat panik. Apalagi Olivia sampai terbatuk-batuk tiada henti. "Sayang ada apa dengan mu. Apa kau menambahkan cabai di makanan mu?"


Huekk..


Huekk..


Olivia kembali muntah, namun kali ini tidak ada yang keluar dari mulutnya. Oliver semakin panik melihat wajah Olivia memerah dan mengeluarkan air mata. Tangan Oliv, memegangi perutnya. Sementara wajahnya masih berada di atas wastafel. Air mengucur deras dari keran.


"Perut ku mual, Oli", lirih Olivia dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Terlihat sangat lesu.


Oliver meraba kening Olivia. Begitu berkeringat. "Ada apa dengan mu Oliv tiba-tiba sakit seperti ini". Oliver menatap wajah Olivia yang nampak begitu pucat hanya dalam beberapa menit saja.


Tanpa pikir panjang Oliver mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Oliver mengambil handphone miliknya dan segera menghubungi dokter Ryan temannya. Meminta Ryan datang saat ini juga untuk memeriksa Olivia.


"Aku benar-benar kuatir dengan kondisi mu sayang.."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2