ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BALERINA


__ADS_3

New York


Alunan musik classic membahana ke penjuru teater yang memiliki nilai artistik tinggi dengan ukiran serta lukisan seniman-seniman terkenal tertempel di dinding.


Hingga terdengar tepuk tangan dari kursi penonton, ketika seorang balerina yang menjadi icon pementasan tersebut dengan lemah gemulai bergerak mengikuti irama musik klasik. Penonton ikut terhanyut dalam gerakan tubuh balerina itu.


"Apa aku sudah melewatkan pertunjukan utama acara ini?"


Asley dan Olivia yang sedang fokus melihat Elara di atas panggung menolehkan kepalanya.


"Kak...


"Daddy...


"Lihatlah Ela sangat hebat sekali", ujar Olivia dengan suara pelan saat Maxxie duduk di sampingnya. Ia tidak mau mengganggu penonton lain yang sedang menikmati pertunjukan hebat Elara.


Maxxie menyandarkan punggungnya, sembari menatap intens ke atas panggung. Netranya tak berkedip melihat balerina yang sedang melakukan pertunjukan solo diiringi musik klasik.


Tepuk tangan terdengar membahana disertai decak kagum dari mulut penonton saat balerina itu melakukan gerakan split memegang kaki di sebelah kepala dengan kaki lurus sempurna. Bahkan semakin lama berputar-putar dengan cepat mengikuti irama musik.


Tubuh Elara begitu lentur berputar-putar dengan satu kaki yang tertekuk.


"Ternyata ia seorang gadis sederhana multitalenta. Ia bukan saja cantik tapi berprestasi sehingga bisa mengadakan pergelaran sebesar ini", batin Maxxie kagum.

__ADS_1


Menit berikutnya terdengar musik waltz. Tubuh Elara masih bergerak dengan fleksibel di atas panggung nan megah itu. Namun kali ini ia tidak sendirian, Ela menari bersama seorang pria. Ballerino.


Irama Waltz tampak lebih cepat. Kali ini gerakan terkesan romantis, tubuh Elara terlihat melompat tinggi yang di tangkap oleh ballerino yang berpakaian hitam. Keduanya tampak intim ketika jemari tangan ballerino memeluk erat tubuh Elara. Keduanya terus berputar hingga musik pun habis.


Tepuk tangan penonton bergemuruh, termasuk dari Olivia dan Asley yang begitu kagum melihat pertunjukan Elara dan ballerino di atas panggung yang baru saja usai.


Namun tidak untuk Maxxie. Sorot matanya menajam menatap Elara yang sedang memberikan penghormatan dihadapan penonton yang berdiri memberikan applause atas pertunjukan spektakuler yang luar biasa tersebut.


Maxxie masih duduk sambil menatap tajam Elara yang nampak tersenyum bahagia. Gadis itu sedang berpelukan dengan pasangannya beberapa saat yang lalu. Maxxie mengetatkan rahangnya sementara jemari tangannya mengusap-usap dagunya sendiri.


Sesaat penjuru ruangan menjadi benderang setelah pencahayaan di hidupkan kembali. Nampak wajah-wajah puas dari penonton menikmati pertunjukan balet yang baru saja mereka lihat. Tak sedikit terdengar memuji kecantikan dan kehebatan balerina dan ballerino yang mereka saksikan barusan.


Telinga Maxxie bisa mendengar perkataan orang-orang di sekitarnya ketika mereka keluar.


Elara tersenyum pada semuanya. Gadis itu masih menggunakan pakaian balet berwarna putih dengan rok tutu di atas lutut. Namun tubuh atasnya sudah tertutup coat tebal hingga lutut. Pun rambut bergelombang panjang miliknya telah terurai membuat gadis itu nampak begitu mempesona.


Maxxie tidak menampik, gadis itu sangat cantik alami.


"Terimakasih kalian sudah datang", ucap Elara tersenyum ramah termasuk pada Maxxie yang menatapnya sekilas dengan dingin.


"Wah Ela, kau hebat sekali. Pertunjukan mu benar-benar spektakuler. Kau tahu ini pertama kali nya aku menonton pertunjukan balet terhebat Ela", puji Olivia sambil memeluk Elara.


"Hm...kau berlebihan sekali, Olivia. Masih banyak balerina yang lebih hebat dari ku. Tapi, terima kasih untuk dukungan mu", balas Ela tersenyum manis. Jemari Ela mencubit pipi berisi Asley.

__ADS_1


"Daddy, auntie Ela hebat sekali kan? Kalau aku besar nanti aku mau seperti teman auntie Ela saja. Nanti auntie bisa bersama ku di atas panggung itu", ucap Asley sambil mendongakkan wajahnya menatap Maxxie yang nampak jengah. Sementara Elara dan Olivia tertawa mendengarnya.


"Auntie pastikan saat kau mahir menjadi ballerino, tubuh auntie sudah tua dan tidak kuat lagi berputar seperti tadi", seru Elara tertawa renyah.


Maxxie menatap lekat wajah cantik dihadapannya. Jemari tangan mengusap tengkuknya. "Boy...balet bukan olahraga, kau tidak akan berkeringat. Kau pilih olahraga laki-laki saja seperti basket, football, softball saja itu jauh lebih keras", ketus Maxxie tanpa tedeng aling-aling ketika berucap.


"Kau salah sekali kalau mengatakan balet bukan olahraga tuan Maxxie. Bahkan balet sangat membutuhkan kekuatan tulang tubuh mu. Aku berani bertaruh kau tidak akan mampu melakukannya. Ucapan intimidasi mu ini terlalu sering aku dengar dari mulut kakak ku yang selalu tidak menghargai seorang balerina. Padahal kalian tidak tahu sama sekali tentang balet", jawab Elara terlihat kesal.


Olivia tersenyum mendengar perdebatan singkat antara Max dan Ela. "Sebaiknya kita pulang, karena sudah malam. Ela ikut kita saja kak. Ia tidak membawa kendaraan, tadi kami pergi kemari memakai taxi menghindari macet di jalanan menuju kesini", ujar Olivia menjelaskan.


"Tidak perlu Olivia. Aku bisa memesan taxi sekarang. Kalian pulang saja", jawab Ela cepat. Ia benar-benar tidak berminat satu mobil dengan Maxxie.


"Auntie Ela ikut mobil daddy saja. Nanti auntie di ganggu orang jahat seperti mommy, ia kan dad?", ujar Asley meminta pendapat Maxxie.


Laki-laki tampan itu spontan menganggukkan kepalanya. "Kau benar sekali. Ayo, sekarang sudah malam tidak baik kau sendirian", ucap Maxxie menatap Elara yang juga menatapnya. Olivia menarik tangan Ela agar ikut mereka.


"Kakak antar aku dan Asley saja dulu pulang, kemudian antar Ela pulang. Kasihan Asley pasti sudah kelelahan", ucap Olivia ketika semua sudah berada di dalam mobil.


Ela melebarkan kedua matanya menatap Olivia yang menahan tawanya.


"Katamu kau akan meminta maaf pada Maxxie karena sudah menjadikannya karakter pohon saat latihan balet di sekolah. Sekarang lah saatnya", ucap Olivia berbisik-bisik di kursi belakang. Sementara Asley berceloteh terus menerus pada Maxxie di kursi depan.


...***...

__ADS_1


Kalau ada typo nanti author revisi ya. Harap maklum kejar tayang sambil kerja.


__ADS_2