
Langit kian berwarna kelabu, sore perlahan berganti senja. Mobil Oliver berhenti sempurna di depan mansion berarsitektur American classic yang menjadi tempat tinggalnya selama ini.
Nampak sopir membukakan pintu untuk atasannya itu.
Tanpa menunggu lama, Oliver melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Selamat malam tuan". Sapa pelayan ketika melihat kedatangan pemilik mansion tempatnya bekerja.
"Hem", balas Oliver singkat. "Di mana istri dan anak ku?"
"Nona Olivia ada di ruang makan bersama nona Elara, sementara tuan muda Asley beristirahat di kamarnya setelah meminum obatnya, tuan", jawab pelayan muda itu dengan hormat.
Oliver menganggukkan kepalanya sambil berlalu, menuju ruang makan. Kedua matanya menangkap Olivia sedang mengambil makanan, sementara Elara sudah menyuapkan makanan kemulutnya. Senyum bahagia menghiasi wajah tampan laki-laki itu. Baginya pemandangan seperti ini sudah lama sekali tak di lihatnya. Bersama dua wanita yang sangat di sayanginya.
"Sayang, kau sudah pulang?", ujar Olivia ketika menyadari Oliver sudah datang. Wanita itu menaruh piring berisi makanan dan segera menghampiri Oliver.
"Aku menunggumu untuk makan malam, tapi ternyata kau tidak pulang-pulang. Perutku lapar".
Olivia memeluk pinggang suaminya, bergelayut manja. Sementara Oliver tersenyum mendengarnya sambil mendaratkan sebuah kecupan ringan pada wajah cantik istrinya.
__ADS_1
Melihat keduanya bermesraan seperti itu membuat Ela tergelak.
"Huhh...seperti setahun tidak bertemu saja. Kalian semua yang bekerja di sini siap-siap akan sering melihat bos kalian bermesraan di sembarang tempat di rumah ini sekarang", seloroh Ela pada kedua pelayan yang mengantarkan potongan buah segar dan salad sebagai dessert ke atas meja.
Kedua pelayan itu tersenyum mendengar perkataan Ela. Namun tidak berani membalasnya hanya senyuman saja dan segera menundukkan kepalanya mereka lagi, kemudian pamit ke pantry.
"Sayang, kau mau langsung makan atau membersihkan badan mu dulu?", tanya Olivia penuh perhatian.
"Sebaiknya makan saja dulu, bukan kah kau sudah kelaparan hem? Kita makan dulu, kemudian...aku akan memakan mu. Milik ku juga sudah kelaparan", bisik Oliver ditelinga Olivia.
Sontak membuat wajah Olivia merona dan melebarkan kedua matanya, tanpa ampun Oliv mencubit pinggang suaminya. Olivia malu pada Elara yang ada di antara mereka saat ini. Sedangkan Oliver terlihat tertawa jahil. Sepertinya ia sangat menikmati melihat Olivia tersipu malu seperti itu.
Olivia dan Oliver duduk di hadapan Ela. Olivia mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Iya. Max mengajakku menghadiri reuni teman kuliahnya malam ini. Ia bilang salah satu teman lamanya baru di angkat menjadi pimpinan perusahaan keluarga nya. Sebenarnya aku enggan untuk ikut tapi Max memaksa agar aku ikut dengannya dan berkenalan dengan teman-temannya", jawab Ela tidak bersemangat.
"Oh ya karena Ela menyebut teman lama, aku hampir lupa mengatakan nya pada mu sayang. Aku terlambat pulang tadi karena menghadiri meeting bersama teman lama ku yang baru kembali ke Houston. Elland. Ia teman baikku sejak kecil. Ia menitip salam untuk mu, kapan-kapan aku akan mengenalkan kalian berdua".
"Uhuk..
__ADS_1
"Uhukkk..
Olivia dan Oliver serentak menatap Elara yang terbatuk-batuk.
"Ela, ada apa. Apa kau tersedak?", tanya Olivia menatap Ela. Wajah gadis itu terlihat memerah. Bahkan matanya berair.
Elara tercekat. Sesaat ia meneguk minuman. Nampak mengatur nafasnya yang menderu.
"Aku sudah selesai, kalian lanjutkan saja makan malam kalian. Aku harus bersiap-siap, sebentar lagi Max akan menjemput ku", ucap Elara cepat sambil berdiri dan pergi begitu saja ke kamarnya tanpa menunggu jawaban Oliver dan Olivia.
Olivia dan Oliver saling bertukar pandang.
"Ada apa dengan Ela sayang? Bahkan ia belum menghabiskan makanannya", kata Olivia menatap Oliver dengan tatapan bertanya-tanya.
"Ah sudahlah tidak usah di pikiran. Mungkin Ela terburu-buru karena Max tadi juga bilang akan pergi bersama Ela saat menemui ku di kantor sore tadi. Sebaiknya kita makan sekarang. Kemudian aku ingin melihat anak ku".
Saat berada di kamar, Ela mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Wajahnya nampak pucat sementara jemari tangannya mengepal. Bahkan kuatnya kepalan itu membuat buku-buku tangannya memutih. Tanpa sadar kristal bening menetes menyentuh wajahnya.
"Kenapa dia kembali?".
__ADS_1
"Setelah sekian lama kenapa kau kembali Elland?".
...***...