ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BERDUA II


__ADS_3

"Kau sudah siap?"


"Ayo kejar aku, sayang", teriak Elara sambil menghentakkan tali kekang kuda tunggangannya. "Huh kau lambat sekali. Aku bilang juga apa, kau percaya diri sekali mau melawan ku", teriak Ela sambil tertawa puas karena mendahului Maxxie yang jauh tertinggal dibelakangnya.


Menit berikutnya, Elara melototkan kedua matanya ketika kuda Maxxie sudah sejajar dengan Little kuda miliknya.


"Kau curang, kau mencuri start. Akan aku tunjukkan siapa pemimpin sebenarnya. Aku tidak akan memberikan kemenangan pada mu sayang. Ayo susul aku!"


Elara tidak percaya melihat Maxxie dan Rocky kuda yang ditungganginya melesat jauh ke depan hingga mencapai pohon oak yang sudah di sepakati sebagai garis finis.


"Bagaimana mungkin", ucap Elara tidak percaya.


Dengan nafas terengah-engah, Elara menatap tidak percaya Max yang masih berada di atas kuda. "Kau sengaja mempermainkan aku? Ternyata kau jago menunggang kuda. Huhh".


"Kau lambats sekali, Elara", ledek Maxxie membalikkan ucapan Ela beberapa saat yang lalu.


"Jangan lupa hadiah kemenangan ku. Aku akan menagihnya".


Maxxie menahan tawanya, melihat kekesalan di wajah Elara karena kalah darinya. "Apa kau mengakui kalah dari ku, hem? Aku ingin kau tidur di kamar ku malam ini. Ingat itu".


"Seharusnya kemenangan mu bisa di diskualifikasi karena telah berbohong mengatakan kau tidak bisa berkuda. Menghabiskan waktu saja mengajari mu tadi", komplain Elara masih dengan raut muka kesalnya.


"Well, sekarang kau mau mengajak ku kemana? Aku tidak sabar berkeliling-keliling perkebunan indah ini".


"Kita melihat para petani panen di sebelah sana", tunjuk Elara jauh ke depan. Saat ini posisi keduanya di atas tebing yang tidak terlalu tinggi sehingga bisa melihat ladang bunga matahari hingga di kejauhan. "Kemudian aku akan mengajak mu menikmati pemandangan danau yang ada di sini. Itu salah satu tempat favorit ku ketika masih kecil. Tempat ku bermain", ujar Elara mengenang masa kecilnya dulu.


Maxxie menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Sepertinya menarik".


"Kau sangat lihai menunggang kuda, apa kau seorang atlet, Max? Kau membuatku terkejut. Ternyata banyak yang belum aku ketahui tentang diri mu".


Kuda keduanya melangkah berdampingan menyusuri jalanan di tengah hamparan bunga matahari berukuran besar yang sudah bermekaran.


"Aku bukan atlet, tapi berkuda adalah salah satu kegiatan yang aku sukai sejak kecil. Yang paling aku sukai saat berkuda dengan papa ku. Semenjak papa meninggal aku sudah jarang berkuda. Sekarang aku sudah menemukan pasangan yang cocok lagi untuk berkuda dan itu calon istri ku".

__ADS_1


Maxxie menggenggam erat jemari tangan Elara yang berada di sampingnya. Keduanya sudah turun dari kuda karena jarak area panen sudah dekat.


Kedua netra Max melihat pohon cukup besar. Ia menarik tangan Ela. Tanpa menunggu persetujuan Ela, Max langsung mencium bibir Elara. Tentu saja Ela kaget. Hanya sesaat saja, detik berikutnya Elara membuka mulutnya memberikan izin pada kekasihnya itu menjelajah hingga dalam.


Pasangan yang sedang di mabuk cinta itu, berciuman dengan mesra di balik pohon yang bisa menyembunyikan keduanya dari para petani yang sedang bekerja.


Ciuman penuh hasrat Maxxie, membuat tubuh Elara bergetar hebat. Sesaat keduanya saling berpandangan. Kedua jemari tangan Maxxie membingkai wajah polos Elara. "Aku mencintaimu Ela".


Senyuman manis terlukis di bibir Elara. Kedua tangannya melingkar mesra di leher Maxxie. Sementara punggung Ela bersandar pada pohon. "Aku juga mencintaimu sayang", jawab Ela dengan pasti.


Maxxie kembali menyatukan bibirnya pada bibir seksi Elara. Keduanya kembali berciuman mesra dengan penuh hasrat yang menggelora.


"Sayang, sekarang kita lihat para petani. Lihatlah mereka sudah memetik banyak bunga yang sudah siap dipanen", ucap Ela menunjuk ke tumpukan bunga yang sudah di petik.


Maxxie menganggukkan kepalanya, ia menggenggam erat jemari tangan Elara mendekati petani.


Para pekerja makin bersemangat melihat kedatangan pemilik perkebunan tempat mereka bekerja.


"Ukuran bunga matahari kalian sangat besar, ini yang pertama kalinya aku melihat bunga matahari sebesar ini", ujar Max sembari mengangkat salah satu bunga.


Maxxie menganggukkan kepalanya.


*


"Apa danau itu salah satu keindahan yang tersembunyi di perkebunan ini?"


"Iya. Sekarang kita makan siang dulu. Perutku sudah sangat lapar".


Elara menarik tangan Maxxie. Nampak dua orang pelayan sedang mempersiapkan hidangan di atas kain lebar di pinggir danau yang nampak tenang.


Melihat kedatangan Ela dan Max, kedua pelayan muda itu tersenyum ramah. "Semua sudah siap nona, seperti yang anda inginkan".


"Terimakasih. Kalian bisa kembali ke villa", perintah Elara.

__ADS_1


"Baik nona. Permisi tuan", jawab kedua pelayan itu dengan hormat.


"Ternyata tempat ini sangat indah sekali. Aku sangat menyukainya", ucap Maxxie berdecak kagum melihat hamparan danau berair jernih di hadapannya.


"Sepertinya aku ingin berenang sekarang".


"Nanti saja berenangnya, sayang. Sekarang kita makan dulu saja". Elara memberikan piring berisi makanan pada Max.


Keduanya menyantap sajian dengan lahap dan dalam suasana romantis. Saling menyuapi makanan dan berbagi cerita masa lalu masing-masing yang belum di ketahui.


Beberapa saat kemudian...


Elara yang sudah membereskan semua perlengkapan makan ke dalam keranjang, bergabung bersama Max yang sedari tadi terlentang di atas alas kain tebal.


"Besok kita kembali ke Houston. Aku segera menemui Oliver. Aku ingin kita segera menikah, Ela".


Elara masih terlentang di sebelah Maxxie dan menatap daun-daun berwarna oranye di atas pepohonan yang membuat rindang tempat mereka berada saat ini.


"Aku dan Elland melakukanya hanya satu kali. Malam itu saja. Ketika itu kondisi ku benar-benar rapuh sehabis daddy marah dengan keputusan ku, menolak melanjutkan bisnis seperti yang ia mau".


Maxxie menarik tubuh Elara kedalam dekapannya. "Aku tidak menuntut mu menceritakan semuanya, Ela. Yang terpenting masa depan kita berdua".


"Lupakan masa lalu. Seperti kau tahu, aku juga kehilangan Vivienne. Kemarin aku kaget saja ketika kau memberi tahu semuanya tentang mu dan Ellando. Apalagi kau mengatakan hamil dan menggugurkan kandungan mu. Sekarang aku mengerti dengan keadaan mu saat itu. Kau masih sangat muda. Bahkan saat kau hamil usia mu lebih muda dari usia Olivia ketika mengetahui ia hamil anak Oliver. Aku bisa menerima semua tentang masa lalu mu, Ela. Yang terpenting buatku sekarang adalah masa depan kita", ucap Maxxie serius dan bersungguh-sungguh.


Elara mengangkat wajahnya, menatap lembut wajah tampan Maxxie. Jemari lentik Ela mengusap rahang keras tunangannya itu.


"Aku mencintaimu sayang. Tentu saja aku bersedia menjadi istri mu", ucap Elara mendekatkan wajahnya pada wajah Maxxie.


"Dan melahirkan anak-anak ku?"


Elara menganggukkan kepalanya. "Menjadi ibu anak-anak mu", jawab Elara dengan pasti dan tersenyum bahagia.


...***...

__ADS_1


To be continue


Maaf slow update. Karena akhirnya bulan dan akhir tahun juga. Kerjaan kantor benar-benar sibuk dan melelahkan, smg mengerti.


__ADS_2