ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
PARANOID


__ADS_3

Hari sudah senja ketika Maxxie sampai ke mansion. Nampak pelayan sedang merapikan meja. Begitu melihat kedatangan bos mereka, dua orang pelayan yang sedang menyusun menu di atas meja itu segera memberi salam.


"Di mana Istri ku?", tanya Maxxie sembari melangkahkan kakinya hendak menuju kamar yang ada di lantai itu juga. Karena semenjak Ela hamil, ia dan istrinya memang memutuskan pindah kamar di lantai bawah agar tidak membahayakan kandungan Ela harus naik-turun tangga.


"Nona Ela ada di kamar tuan", jawab salah satunya dengan hormat.


Max menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis dan langsung menuju ke kamar mereka.


Max membuka handle pintu, ia tersenyum melihat Elara yang sedang membaca buku.


Elara masih di atas tempat tidur, tak bergeming sedikitpun. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran suaminya di kamar. Ela tampaknya fokus sekali membaca buku miliknya.


"Ehem..."


Ela mengangkat wajahnya. "Sayang, kau sudah pulang?"


"Kau membaca buku apa, sangat serius begitu. Sampai-sampai tidak sadar suami mu ada".


"Seharian rebahan ditempat tidur membuat ku bosan. Tadi aku meminta sekertaris mu membeli buku ini. Ceritanya sangat menyedihkan sayang. Aku sampai menangis membacanya. Lihatlah hanya beberapa jam saja membaca, aku hampir menamatkan nya", cicit Elara sambil melebarkan kedua matanya memperlihatkan buku yang di bacanya.


Maxxie tersenyum mendengarnya, ia mendekati Elara membungkukkan badannya mencium bibir istrinya. Kemudian duduk di dekat Ela.

__ADS_1


"Bagaimana jagoan ku hari ini, apa ia menyulitkan mu, hem?"


Maxxie mengusap lembut perut Elara yang sudah semakin membesar. Di perkirakan akhir bulan depan anak mereka akan segera lahir. Max mengecup perut Elara seperti biasa yang ia lakukan saat tiba di rumah.


"Sayang jangan memanggil anak kita jagoan, bagaimana kalau ternyata perempuan? Kau kan tidak mau mengetahui jenis kelamin nak kita ketika kontrol kandungan ku", protes Elara.


Maxxie menjadikan paha istrinya untuk kepalanya. "Tidak apa-apa juga, jika perempuan. Tapi entah kenapa aku merasa sepertinya anakku laki-laki".


"Itu karena kau membiasakan dirimu memanggilnya sebagai laki-laki sayang", jawab Elara tersenyum sembari mengendurkan simpul dasi Maxxie.


Ela selesai dengan membuka simpul dasi Max dan menarik tangannya. Namun Maxxie menahannya. Mengarahkan tangan Ela membuka satu persatu kancing kemeja kerjanya. Ela mengerti. Jemari lentik itu membuka satu persatu kancing kemeja Max.


Sementara Maxxie mengangkat sedikit tubuhnya, menarik tengkuk leher Elara menyatukan bibirnya pada bibir ranum Ela. Ela menyambut nya. Keduanya berciuman mesra dengan intens. Menjelajah hingga kedalam.


Jemari Maxxie kian naik ke atas. Mengusap dada padat istrinya. Tanpa menunggu lama, Max membenamkan wajahnya diantara gunung kembar yang berdiri menantang itu. Bergantian mengulum puncak kiri dan kanan.


"Sepertinya sebentar lagi aku harus merelakan milik ku ini berbagi dengan anak ku", ujar Max dengan mulut dipenuhi benda kenyal itu.


Elara menyandarkan punggungnya pada ujung tempat tidur sambil mengenadahkan wajahnya ke atas. "Akh..."


"Sayang... Aku menginginkan mu", bisik Maxxie. Sementara tangannya melepaskan dress Elara. "Sudah lama sekali aku menahannya. Sejak kandungan mu masuk trimester ketiga, kita sudah jarang melakukannya bahkan bisa di hitung dengan jari saja. Aku tidak puas jika kau hanya menyentuh milik ku dengan tangan dan mulut mu, Ela", ucap Maxxie dengan suara serak menyapukan lidahnya pada tengkuk Elara yang mengenadah ke atas.

__ADS_1


Elara memejamkan kedua matanya merasakan gelenyar dalam tubuhnya akibat godaan Maxxie.


Sebenarnya dokter kandungan Ela sudah mengizinkan berhubungan in*im secara rutin namun Elara merasa ketakutan. Perasaan cemas melanda dirinya saat memasuki trimester ketiga. Max mengerti kondisi istrinya ia lebih banyak mengalah. Apalagi Ela ada masalah dengan tekanan darah rendah. Sehingga di awal kehamilan mengalami morning sickness yang cukup parah.


Meskipun Maxxie melakukan foreplay di zona e*otis tubuh istrinya namun saat Max siap memasuki pusat tubuh Ela, Elara langsung dihinggapi perasaan takut yang teramat sangat. Max harus mengerti keadaan itu.


Pada akhirnya Ela membantu Maxxie mengeluarkan miliknya dengan permainan tangan dan mulutnya. Mau tidak mau, puas tidak puas Max harus menerimanya. Maxxie mengerti kondisi istrinya itu, apalagi beberapa tahun yang lalu Ela sempat melakukan aborsi. Meskipun Ela tidak menunjukkan traumatis lagi akan masalah itu, namun menghadapi kehamilan kali ini Ela begitu menjaga kandungannya.


Ia malah menjadi paranoid takut kehilangan janinnya ketika bercinta.


Elara menatap sayu Maxxie yang nampak sudah tidak bisa menahan hasrat. Sejujurnya ada perasaan bersalah dalam diri Ela karena terlalu paranoid pada kandungannya.


Ela mengusap lembut wajah tampan suaminya itu. "Aku tidak mau kau tersiksa sayang. Lakukanlah pelan-pelan. Aku juga tidak mau membuat anak kita syok karena gempuran daddy-nya", cicit Elara.


Max tersenyum mendengar penuturan Elara. "Tentu saja aku tidak akan menyakiti mu dan anak ku".


Perlahan Maxxie merebahkan tubuh Elara. Tentu saja ia ingin malam ini berhasil memasuki istrinya. Cukup lama miliknya puasa menahan gairah, malam ini Max tidak mau membuat Ela cemas. Dengan hati-hati menyusuri lekuk tubuh istrinya yang menurut Maxxie semakin seksi itu. Apalagi beberapa bagian mengalami perubahan yang membuat Maxxie semakin menyukainya.


"Kau semakin seksi sayang, aku menyukai perubahan tubuh mu. Aku sangat mencintaimu Elara", racau Maxxie dengan suara serak sambil mengangkat tubuh Ela ke atasnya.


...***...

__ADS_1


Karya baru Emily ( PERNIKAHAN PALSU IVANA) sudah publish ya. Yuk merapat.


__ADS_2