
"Kondisi mu sudah membaik. Ternyata kau cepat juga pulih Oli, apa karena ada Olivia di samping mu?", ucap Ryan sambil memeriksa Oliver yang duduk bersandar di ujung tempat tidur pasien.
"Tapi beberapa kasus yang sering aku tangani, banyak pasien mengalami sakit punggung dan area pinggang nya setelah menjadi pendonor sumsum tulang belakang seperti mu", ujar Ryan lagi menjelaskan kondisi Oliver pada temannya itu juga Olivia yang setia menemaninya.
"Aku sudah sehat Ryan. Aku tidak merasakan sakit apapun. Tunggu apalagi, segera pindahkan aku keruangan rawat inap. Aku lebih nyaman jika dekat Asley anak ku".
"Ck kau ini tidak sabaran sekali. Bilang saja kau ingin di manja Olivia di sana. Setelah ini kau sudah bisa satu ruangan dengan anak mu", jawab Ryan meledek Oliver. Sementara Olivia tersenyum dengan wajah merona malu, apalagi Oliver memeluk pinggangnya sekarang ini.
"Ingat teman, kau belum pulih benar. Kau masih harus banyak istirahat untuk mengembalikan tenaga mu itu. Jangan banyak bergerak yang menguras tenaga, karena tubuhmu kembali drop".
"Kau ini banyak aturan sekali. Aku sudah merasa baik, jadi kau berikan saja vitamin untuk stamina ku", seru Oliver berdecak kesal pada Ryan.
"Oli, kau harus menuruti ucapan dokter Ryan. Sekarang pasien ku ada dua, kalau kau masih membandel aku akan menyewa wanita tua yang akan merawat mu. Bagaimana?", ucap Olivia sambil melebarkan kedua matanya menatap Oliver setengah mengancam
"Iya, kau benar Oliv. Aku setuju dengan ide mu itu", jawab Ryan tidak bisa menahan tawanya. Apalagi melihat raut wajah temannya sekarang ini sangat lucu begitu.
"Shitt. Kau jangan tega begitu sayang. Aku janji tidak akan menyulitkan mu", jawab Oliver cepat-cepat.
*
"Sayang lihatlah siapa yang datang?"
"Mommy... daddy?", teriak Asley girang. Anak itu sedang di suapi Elara snack menjelang sore.
"Halo jagoan daddy, bagaimana keadaan mu, hem?", ujar Oliver duduk di kursi roda yang di dorong Javier. Sementara dua orang perawat bersiap-siap membantunya naik ke teman tidur pasien.
"Daddy, aku makan banyak. kata aunty Ela agar cepat sembuh dan tali di tangan ku cepat di lepas", ucap Asley begitu menggemaskan berada di tempat tidurnya.
Olivia tersenyum mendengar penuturan anaknya itu. "Anak pintar mommy", ujar Olivia sambil mencium pucuk kepala Asley penuh kasih sayang. "Ela, terimakasih kau sudah merawat Asley".
Elara menggenggam tangan Olivia. "Asley keponakan ku Oliv, kau jangan sungkan menitipkan Asley pada ku. Apalagi konsentrasi mu sekarang bercabang, harus merawat pasien menyebalkan satu nya lagi". Elara menunjuk Oliver dengan bibirnya.
Olivia tertawa mendengar perkataan Elara. "Iya. Kakak mu memang menyebalkan sekali Ela. Tapi aku sangat mencintai nya dari dulu hingga kini. Entah lah kenapa bisa begitu", ujar Olivia jujur mengakui perasaannya.
__ADS_1
Ela dan Olivia tertawa cekikikan sambil menutup mulut mereka.
"Kenapa kalian seperti itu?
Jagoan...apa mommy dan tante mu membicarakan daddy, hem?"
Asley cepat-cepat menganggukkan kepalanya karena mulutnya penuh berisi makanan yang disuapkan Elara.
Olivia tertawa melihat tingkah putra kesayangannya itu. "Sayang ternyata kau sekarang menjadi pengkhianat kecil ya". Olivia menciumi pucuk kepala Asley sambil tertawa. "Semalam tidak melihat mu, anak mom semakin menggemaskan saja", ujar Olivia menggelitik perut Asley.
"Mommy...geli", protes Asley pada Olivia sambil tertawa.
Olivier tersenyum bahagia melihat keduanya. "Terimakasih Tuhan. Hidupku sekarang sudah lengkap. Kau memberikan kami ujian, ternyata ada hikmahnya. Aku bisa merekatkan hubungan ku dan istriku lagi", batin Oliver yang sudah rebahan di atas tempat tidur dengan posisi ranjang di naikkan bagian kepalanya.
Tok..
Tok..
Ceklek
"Bagaimana kabar mu boy? Lihat daddy bawa apa untuk mu", ujar Max membawa kotak berukuran besar keatas meja.
"Mainan untuk ku. Hore daddy membelikan mobil-mobilan untuk ku", teriak Asley senang dan bersemangat. "Aunty..aku sudah kenyang. Aku mau membuka hadiah daddy Max".
"Hm...sayang habiskan dulu makanan mu, setelah itu baru kau boleh membuka hadiah daddy Max, oke?", ucap Elara tersenyum menatap keponakannya yang sudah tidak sabaran membuka kotak besar yang di bawa Maxxie.
"Iya aunty", jawab anak itu kembali membuka mulutnya menerima suapan Ela.
Sementara Max mendekati Oliver.
"Bagaimana keadaan mu, Oli?"
"Aku sudah merasa baik. Max, terimakasih kau sudah menemani Ela dan anakku semalam", ucap Oliver dengan tulus.
__ADS_1
"Jangan sungkan Oli, Asley sudah seperti anak ku. Olivia juga sudah aku anggap adik bagi ku. Aku senang sekarang kalian bersama lagi. Oliv terlihat sangat bahagia sekarang. Kemarin dia sangat syok melihat kondisi mu".
Oliver mengalihkan perhatiannya pada istrinya yang sedang tertawa lepas menemani Asley. Memang benar wajah itu terlihat lebih bersemangat dan berseri-seri. Tidak nampak lagi kesedihan di mata indahnya.
"Aku sangat mencintai nya, Max. Apapun akan aku berikan untuk membahagiakan anak istri ku", ujar Oliver penuh perasaan.
*
"Kak, aku pulang dulu. Sekarang sudah malam, kau dan Olivia pun harus beristirahat. Lihatlah keponakan ku sudah terlelap sekarang", ucap Elara menatap Asley yang sudah tertidur.
"Javi akan mengantar mu ke mansion ku!".
"Tidak perlu Oli. Aku akan mengantar Ela. Adikmu aman bersama ku", jawab Max cepat.
Sontak saja membuat Olivia dan Oliver bertukar pandang. Terlebih Ela tidak menolak Max, ia hanya diam saja. Oli sangat tahu adiknya tidak akan pernah mau di antar orang lain jika ia tidak menyukainya.
Terlebih sesaat hendak keluar ruangan Oliver, Max memeluk pinggang adiknya dan Ela tidak menolaknya.
"Apa kau tahu ada apa dengan mereka?", tanya Oliver pada Olivia yang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Olivia tersenyum mendengar pertanyaan yang menyiratkan rasa keingintahuan laki-laki itu.
"Kita tunggu saja kabar dari mereka sayang. Melihat kedekatan Ela dan Max, aku yakin mereka memiliki hubungan istimewa. Kau tahu, bahkan kemarin mereka bersama-sama terbang ke Houston. Bisa kau bayangkan hubungan apa yang ada di antara keduanya", jawab Olivia tersenyum hendak menurunkan posisi kepala Oliver. Namun tangannya di tarik Oliver hingga tubuhnya menindih laki-laki itu.
"Oli ..apa yang kau lakukan. Kau masih sakit–"
Oliver tidak menggubris ucapan Olivia. Tangan kokoh nya memeluk pinggang Olivia. "Persetan dengan peringatan Ryan. Aku akan cepat sembuh jika menyentuh mu. Kita buktikan saja sekarang", seloroh Oliver tanpa aba-aba langsung me*umat bibir ranum istrinya yang terbuka.
Olivia kelimpungan mendapatkan ciuman liar Oliver seperti itu. Namun hanya sesaat saja wanita itu blank, menit berikutnya ia pun membalas tak kalah liarnya buaian laki-laki yang sangat dirindukan nya tersebut.
"Akh–"
"Ah Olivia aku sangat menginginkan mu. Aku sangat merindukanmu sayang–"
__ADS_1
"Mommy aku haus.."
...***...