ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
KEBAHAGIAAN ELA DAN OLIVIA


__ADS_3

Malibu, California


Ela menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Nampak begitu begitu indah di jarinya. Kedua netra gadis itu tak henti menitihkan air mata haru. Seakan tak percaya dengan peristiwa sakral yang baru saja ia alami dalam hidupnya.


Bertunangan dengan Maxxie, laki-laki yang di cintai nya. Dan Ela lah yang meminta mengikat hubungan mereka, ternyata Max langsung menyetujui kemauan nya itu.


Kemarin malam Maxxie menyetujui ide Ela untuk mengikat hubungan mereka dengan bertunangan terlebih dahulu. Ela pikir Maxxie akan memikirkan terlebih dahulu idenya itu atau bisa juga belum bersedia ke jenjang yang lebih serius namun ternyata dugaan Ela meleset. Maxxie tidak mau berlama-lama, hari ini dihari Sabtu laki-laki itu langsung menjemput Elara dan membawanya ke sebuah resort mewah nan indah yang berada di luar kota Houston.


Maxxie memilih kota pantai yang terkenal dengan keromantisannya. Kota Malibu. Max sengaja memilih kota tersebut sebagai tempatnya mengikat janji pertunangan dengan wanita yang dicintainya.


Keduanya bertunangan. Hanya untuk mereka saja. Bahkan Ela masih merahasiakan tujuan Maxxie mengajaknya pergi dari Oliver dan Olivia ketika ia pamit tadi pagi.


Maxxie menyematkan cincin berlian kejari manis Ela beberapa saat yang lalu. Mengikat hubungan mereka kejenjang yang lebih serius lagi.


"Apa kau menyukai cincin itu? Aku membelinya secara mendadak pagi tadi sebelum menjemput mu. Aku sudah memesan cincin yang baru untuk mu. Karena butuh waktu pemesanan, kau pakai dulu yang itu. Tidak apa-apa kan?", ucap Maxxie menatap lekat wajah cantik Elara.


Elara tak berkedip menatap jari manisnya dengan wajah terlihat sangat bahagia. "Aku menyukainya sayang. Cincin ini sangat indah", jawab Ela sambil mengangkat wajahnya membalas tatapan Maxxie dengan penuh perasaan cinta.


"Aku mencintaimu sayang", ucap Elara mendekatkan bibirnya pada wajah Maxxie. Mengecupnya dengan lembut.


"Apa begitu caramu menunjukkan perasaan cinta, hem? Aku akan menunjukan pada mu cara mencintai pasangan yang sebenarnya", ucap Max langsung me*umat bibir ranum Elara tanpa jeda sedikit pun.


Max semakin memperdalam ciumannya ketika merasakan tubuh Ela bergetar hebat dan membalas buaiannya.

__ADS_1


Keduanya berciuman mesra di balkon resort mewah yang sudah di sewa Maxxie beberapa jam yang lalu.


Tautan itu harus terhenti ketika suara bel di pintu. Menyadarkan keduanya.


"Sayang...apa kau menunggu kedatangan seseorang?", Tanya Ela mengurai pelukannya pada tubuh Maxxie.


"Aku memesan makan malam kita. Bukankah kita harus merayakan pertunangan kita ini dengan romantis?", Jawab Maxxie dengan jemari tangannya yang membelai wajah Elara yang terlihat sangat bahagia saat ini.


Keduanya masih berdiri sangat dekat dengan tubuh saling menempel intim. Saking dekatnya Ela bisa mendengar deru nafas Maxxie. Di tambah lagi aroma parfum Woody milik laki-laki itu membuat aliran darah Elara nyaris terhenti. Benar-benar mempengaruhi pikirannya.


"Bagaimana kalau kita menikmati dinner di balkon ini, pemandangan malam di sini sangat indah, Max. Aku menyukainya", ujar Elara antusias.


"Pilihan tepat. Kita habiskan malam di sini sambil menikmati juta-an bintang yang bersinar terang memancarkan cahaya indah seperti diri mu", balas Maxxie tersenyum sebelum berlalu membuka pintu untuk pelayan yang membawa hidangan makan malam mereka.


Houston, Texas


Oliver memeluk pinggang Olivia masuk kedalam kamar mereka. Keduanya baru saja dari kamar Asley menemani putra kesayangannya itu sebelum Asley terlelap ketika Oliver membacakan dongeng sebelum tidur kesukaan Asley.


Senyum bahagia tersungging di bibir Olivia ketika Oliver bersedia membacakan dongeng untuk Asley sesuai permintaan anaknya.


Untuk yang pertama kalinya Oliver membaca dongeng dalam hidupnya. Tentu membuat Asley tenang dalam dekapan sang ayah hingga tertidur pulas.


"Sayang, terimakasih kau sudah mau menuruti permintaan Asley, membaca dongeng untuk nya", ucap Olivia ketika keduanya suda berada di kamar mereka.

__ADS_1


Oliver tersenyum mendengarnya. "Tapi kau harus membayarnya. Tentu saja tidak gratis", seloroh Oliver langsung menarik tangan istrinya agar mengikuti nya ke walk in closet milik keduanya.


Oliver mengambil sesuatu di dalam laci lemarinya. "Aku ingin kau memakai lingerie ini. Aku rasa masih muat dengan mu", ucap Oliver sambil merentangkan lingerie seksi menerawang berwarna merah terang ke depan Olivia yang melebarkan kedua matanya.


"Oli...kau masih menyimpannya? Aku tidak yakin apa masih muat dengan tubuh ku. Itu sudah sangat lama sayang. Tubuh ku tidak seperti dulu lagi".


"Tubuh mu semakin seksi sekarang aku menyukainya. Sementara lima tahun yang lalu tubuh mu gadis belia yang baru merekah".


"Malam ini aku ingin melihatmu memakai lingerie yang aku sukai dulu", ucap Oliver menatap Olivia sembari menempelkan lingerie itu ke depan tubuh Oliv. Oliver tersenyum penuh makna melihatnya.


Sejenak Olivia terdiam. Namun ia ingat betul, memang dulu saat ingin tidur dengannya Oliver selalu memintanya mengenakan lingerie seksi itu. Meskipun Oliver tidak pernah sekalipun memujinya ketika ia mengenakannya kala itu, tapi Oliver selalu dan selalu meminta Olivia memakainya.


"Aku akan coba memakainya tuan Oliver. Tapi kau di larang melihat ku mengganti pakaian ku. Tunggu istri mu di kamar saja oke", bisik Olivia menggoda Oliver dengan suara terdengar mendesah dan mengusap dada bidang suaminya.


Sontak saja perbuatan Olivia membangkitkan hasrat dalam diri Oliver.


"Aku akan menunggumu di tempat tidur. Jangan lama-lama atau aku akan menghukum mu di ruangan ini", ucap Oliver dengan suara tertahan dan terdengar berat.


Olivia menggigit bibir bawahnya. Sambil menganggukkan kepalanya sambil mendorong tubuh suaminya keluar. Sementara ia bersiap-siap akan membahagiakan Oliver malam ini.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2