
"Kau ikut dengan ku, Ellya!"
Ela melototkan kedua matanya saat menyadari tangannya di tarik Elland masuk ke dalam lift dengan paksa.
"A-pa mau mu? Lepaskan aku!", Protes Elara menatap Elland dan menyadari lift turun dengan cepat.
Elland tidak menjawab sepatah katapun.
Ketika pintu lift terbuka, dengan cepat laki-laki itu menarik tangan Ela agar mengikutinya. Elland yang sangat paham seluk beluk perusahaan Lucifer dengan mudahnya mencari jalan pintas untuk sampai ke mobilnya tanpa perlu di ketahui seorang pun.
"Lepaskan aku kak! Aku ingin mengambil handphone ku. Aku harus kembali ke atas".
Ela berusaha keras melepaskan cengkeraman tangan Elland pada lengannya. Namun sia-sia tenaga laki-laki itu sangat kuat. Bahkan tanpa ampun, Elland membawa tubuh Elara seperti karung beras.
"Kak turunkan aku!", teriak Elara sambil memukul-mukul punggung Elland.
Beberapa saat kemudian...
"T-uan Elland?"
"Kau pulanglah! Aku akan membawa mobil ku sendiri".
"Baik tuan", jawab laki-laki berperawakan tinggi yang merupakan sopir Elland.
Elland menurunkan tubuh Elara dari punggungnya. "Masuklah, kita bicara sekarang".
"Tidak mau. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi!", Ketus Ela membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan laki-laki itu.
__ADS_1
"Kalau kau masih pergi juga, aku akan membeberkan masa lalu kita pada tunangan mu dan kakak mu sekarang juga, Elara!"
"Silakan kau tentukan sendiri, ikut dengan ku sekarang atau mereka semuanya akan mengetahui hubungan rahasia kita. Aku tidak perduli dengan konsekuensinya, jika Oliver dan Maxxie akan murka padaku. Masalah ini sudah lama aku pendam, Ellya!", ketus Elland dengan nada meninggi.
Mendengar ancaman Elland, membuat langkah kaki Ela terhenti seketika. Tubuhnya gemetaran, sementara kepalanya mendadak pusing. Elland melihat perubahan itu. Ia menuntun Ela masuk ke dalam mobilnya. Ela tidak memberikan perlawanan lagi.
Elland mengendarai mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan perusahaan Lucifer. Sementara Ela menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Jemari tangannya memijat pelipisnya.
"Kenapa kau bertunangan dengan Maxxie, Ela. Di antara banyak pria kenapa kau memilihnya. Teman baik ku, Ela!"
Ela membuka matanya sekaligus merubah posisi duduknya. Gadis itu menatap tajam Elland.
"Bukan urusan mu! Aku bebas berhubungan dengan siapapun", jawab Elara ketus.
"Asal kau tahu, aku sangat mencintai tunangan ku. Yang sebentar lagi akan menjadi suami ku–"
"Ahh. A-pa yang kau lakukan? kita bisa celaka!", teriak Ela ketika Elland menginjak rem secara mendadak. Tubuh Ela sampai terguncang hingga ke dasbor, beruntung ia mengunakan seatbelt.
Tak ada yang memulai pembicaraan setelah itu. Hanya ada keheningan. Alam seakan tahu suasana di dalam mobil mewah itu, tiba-tiba turun hujan yang membasahi bumi dengan derasnya.
"Aku mencintaimu Ellya. Kau yang membawa ku kembali ke kota ini. Tidak ada hal lainnya", ucap Elland terdengar begitu lembut ditelinga Ela.
"Tidak ada gunanya lagi pengakuan mu itu. Aku tidak membutuhkan laki-laki pengecut seperti diri mu. Aku tidak akan menghabiskan sisa waktu ku dengan laki-laki pembohong seperti mu!".
"Karena kepengecutan mu itulah telah merubah ku menjadi wanita pendosa dan dosa ku tak terampuni lagi", lirih Elara dengan suara bergetar menahan tangisannya.
Namun air mata yang menganak di sudut matanya tak terbendung lagi. Elara terisak. Tubuhnya berguncang hebat menahan deritanya yang sebenarnya sudah mulai terlupakan. Namun pertemuan dengan Elland kembali menyibakkan luka lama Elara.
__ADS_1
Elland tak bergeming, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Sementara jemari tangannya mencengkram kuat setir mobil, hingga buku-buku tangannya memutih.
"Maafkan aku Ellya–"
"Jangan pernah lagi memanggil ku dengan nama itu! Kau hanya meninggalkan luka terdalam bagi ku, kak. Sekuat tenaga aku menutupi semua ini dari keluarga ku. Aku bersalah besar pada mereka. Bahkan untuk masuk ke perusahaan Lucifer saja membuat dada ku sesak dan semakin merasa bersalah. Pada daddy...pada kakak ku", isak Elara berucap pelan.
"Lupakan semua yang terjadi di masa lalu kita, aku akan memulai hidup baru setelah bertahun-tahun berusaha menyembuhkan diri dari rasa bersalah". Elara mengusap bulir-bulir bening yang membasahi wajahnya yang nampak pucat dengan punggung tangannya.
Menit berikutnya Ela hendak membuka pintu mobil, namun tangan Elland menahannya.
"Ellya maafkan aku. Mengerti lah Ellya, saat itu aku masih sangat muda aku belum siap memiliki anak. Saat mengetahui kau hamil aku panik. Aku bingung. Sementara orang tua ku selalu mendesak ku agar melanjutkan pendidikan master di Amsterdam. Pada akhirnya aku lebih memilih keinginan mereka, dan meninggalkan mu".
"Namun setelah aku pergi, aku tidak pernah melupakan mu. Kau selalu ada dalam pikiranku–"
"Bohong! Berhentilah membohongi ku, kau sangat bahagia setelah itu. Kau bisa dengan leluasa memamerkan masalah percintaan mu dengan wanita-wanita lainnya. Aku melihatmu di internet. Kau sangat bahagia dan menikmati hidupmu. Berbeda dengan ku yang harus menerima konsekuensinya. Menerima ketika di masukkan ke asrama dan jauh dari keluarga".
"Aku menerima semua itu, karena aku lah yang bersalah. Aku juga menolak ketika daddy memberikan warisan, karena aku merasa sebagai anak yang tidak berguna baginya. Aku membohongi daddy hingga ia meninggal dunia, seolah-olah daddy lah yang salah atas penolakan ku".
"Sekarang biarkan aku hidup tenang. Biarkan semua cerita masa lalu kita seperti itu, menjadi rahasia diantara kita. Sekarang aku sudah membuka diriku, menerima kembali cinta yang pernah aku rasakan seperti dulu. Namun cinta yang kini aku miliki untuk Maxxie. Aku sangat mencintainya. Max mampu mengobati luka ku".
Mendengar perkataan Elara membuat dada Elland bergemuruh, namun ia berusaha menahan dirinya. Bagaimana pun, apa yang di ucapkan Elara semuanya benar. Laki-laki itu tak henti mengumpati dirinya sendiri.
"Ini terakhir kalinya kita bersama. Aku sudah memaafkan mu. Aku berharap kau pun menemukan kebahagiaan mu, kak..."
Elara membuka pintu mobil, kali ini Elland tidak mencegahnya. Ia hanya melihat Ela memberhentikan taxi yang melintas dalam derasnya hujan.
"Maaf kan aku Ellya. Aku yang salah meninggalkan luka pada mu. Ya...kau harus bahagia. Aku harus mengikhlaskan mu, Ellya.."
__ADS_1
...***...