
"Yang benar saja Oliver. Kau belum bisa melakukannya!", seru Hillary melebarkan kedua matanya.
Oliver menatap Olivia dan Asley yang berjarak dari tempat mereka saat ini. Wajah Oliver terlihat sendu.
"Tentu saja aku akan melakukan yang terbaik untuk Asley. Aku sudah banyak melakukan kesalahan pada istri dan anak ku, Lary. Apalagi sekarang anakku terluka akibat perbuatan Claudia. Aku tidak bisa tenang".
"Kau tahu...di balik kesedihan ku, aku merasakan bahagia sekarang karena bisa dekat dengan istri dan anak ku".
Tampak Hillary menarik nafasnya dalam-dalam. "Sebaiknya besok kita koordinasikan dengan Ryan. sebelum kau mengambil resiko menjadi pendonor sumsum tulang belakang itu Oli. Ryan harus memeriksa keadaan mu secara menyeluruh sebelumnya".
Oliver menganggukkan kepalanya. "Ya, aku akan melakukannya".
"Dok, pasien sudah bisa di pindahkan sekarang", ujar perawat yang bertugas melapor pada Hillary.
Oliver segera menghampiri Olivia dan Asley, mendorong kursi roda Asley menuju ruangan khusus yang sudah di pesannya.
*
Waktu sudah menunjukkan semakin malam. Olivia menarik selimut menutup separuh tubuh Asley. Cuaca saat malam terasa menusuk tulang.
Tidak terlihat Oliver. Laki-laki itu masih berada di ruang kerja yang dibatasi pintu bersekat di sebelah kamar tersebut.
Olivia tersenyum melihat Asley tertidur pulas. Anak itu sudah terlihat lebih baik sekarang meskipun sebenarnya hati Olivia masih di kuasai berjuta kekuatiran tentang kesehatan anaknya itu.
__ADS_1
Olivia mencium lembut kening Asley. "Mom mencintaimu melebihi apapun. Mom akan berjuang untuk kesembuhan mu", bisik Olivia.
Kemudian Oliv melangkahkan kakinya ke tempat tidur berukuran luas tidak jauh dari ranjang Asley. Olivia duduk bersandar. Sesaat wanita itu memejamkan matanya.
"Huhh...sekarang aku benar-benar merasakan tubuh ku begitu penat dan lelah–"
"Asley sudah tidur?"
Suara Oliver membuyarkan lamunan Olivia, seketika kelopak mata Oliv terbuka menatap Oliver yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Ehh..iya. Cepat-cepat Olivia bangkit. Mengambil batal dan selimut. Tindakan Olivia tak luput dari perhatian Oliver. Oliver menahan tangan Olivia.
"Kau sedang apa Oliv?"
"Aku lelah, dari semalam aku tidak bisa tidur. Sekarang aku sudah sangat mengantuk", jawab Olivia.
Olivia mengerjapkan matanya. Oliver menatap intens wajah Olivia yang begitu dekat dengan nya. "Aku juga merindukanmu Olivia. Semalaman aku tidak bisa memejamkan mataku memikirkan kalian", ucap Oliver dengan suara terdengar serak.
Tubuh Olivia gemetaran mendengar pengakuan Oliver. Kedua matanya mengerjap-ngerjap. Olivia memejamkan matanya ketika merasakan bibir Oliver menyentuh bibirnya.
Pikiran Olivia blank. Merasakan untuk yang pertama kali buaian Oliver begitu lembut. Mungkin karena sedang kalut dan banyaknya masalah yang di rasakan Olivia hari ini membuat nya membutuhkan belaian.
Olivia membuka mulutnya perlahan. Memberikan izin Oliver menjelajah hingga jauh, ketika jemari lentik Olivia meremas sisi kemeja yang masih di pakai Oliver.
__ADS_1
Tautan bibir Oliver benar-benar membuat permasalahan yang di rasakan Olivia lenyap seketika. Untuk sesaat perasaan Olivia sangat membuncah dalam kebahagiaan. Untuk yang pertama kalinya ia membalas pelukan dan ciuman Oliver. Keduanya cukup lama melakukannya dengan nafas menderu.
Hingga Oliver merebahkan tubuh Oliv di atas tempat tidur bersprai biru muda itu. Seakan-akan melepas rindu yang sudah begitu membuncah dalam diri keduanya.
"Oliver...aku belum siap. Apalagi kita sedang berada di rumah sakit", ucap Olivia menahan jemari-jemari tangan kokoh Oliver yang ingin membuka kancing baju tidur nya.
Keduanya bertatapan mesra dengan hasrat menggelora. Bahkan nafas pun masih terdengar menderu.
"Iya. Aku akan menunggumu, sampai kau siap".
"Tapi aku ingin kita tidur bersama di sini, kita sama-sama menjaga Asley", ucap Oliver sambil mengusap lembut wajah putih mulus Olivia.
Olivia menganggukkan kepalanya. "Iya aku tidur di sini. Gantilah pakaian mu".
"Apa kau lupa aku terbiasa tidur memakai pakaian kerja begini atau tanpa pakaian sama sekali, hem?", jawab Oliver sembari mengingatkan Olivia yang tampak tercekat.
"Tapi ini rumah sakit, dan ada pasien di sini Oliver. Kau bisa membawa virus lainnya ke tubuh Asley", ujar Olivia melototkan kedua matanya.
"Alright, aku akan menuruti mu. Membersihkan tubuh ku dan berganti pakaian".
Oliver turun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di sisi sebelah kiri. Sementara Olivia tersenyum menatap punggung lebar laki-laki itu.
Untuk yang pertama kalinya Oliver mau menuruti Olivia. Dulu tak pernah sekalipun Oliver mau menghiraukan ucapan Oliv. Jangankan membalas ungkapan perasaan Olivia, yang ada Oliver langsung membalasnya dengan umpatan-umpatan sarkas yang membuat panas telinga.
__ADS_1
"Sekeras apapun aku berusaha untuk membenci mu, namun sesungguhnya aku tidak pernah bisa Oli. Aku tidak pernah bisa membencinya..."
...***...