ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BERBAGI CERITA


__ADS_3

"Daddy Maxxie, aunty Ela..."


Asley berlari menghampiri keduanya begitu turun dari mobil.


"Sayang jangan lari nanti kau jatuh", ucap Elara. Sementara Max langsung mengangkat tubuh Asley dan membawanya ke pundaknya, hal yang selalu dilakukannya pada anak itu kala bermain berdua.


"Daddy, turunkan aku. Aku sudah besar sekarang", teriak Asley.


"Max, awas anak ku jatuh! Makanya kau cepat hamil Ela. Lihatlah suami mu ini sudah ingin memiliki anak. Bagaimana kalian ini sudah berbulan madu tapi belum jadi juga", seloroh Oliver setengah meledek Elara dan Maxxie.


"Sebelum kami memiliki anak, maka anak kalianlah yang akan menjadi rebutan kami".


Olivia dan Ela hanya bisa menggelengkan kepala melihat melihat suami-suami mereka jika sedang berbicara.


"Oliv, bagaimana keadaan kandungan mu? Kau nampak semakin segar sekarang".


"Kemarin tepat tujuh bulan Ela. Iya sekarang aku bisa sedikit nyaman tidak seperti di awal kehamilan sering mengalami morning sickness".


"Kakak ku terlihat sangat bahagia. Ia lebih hangat pada siapapun sekarang. Senyum pun selalu menghiasi wajahnya. Terima kasih Olivia, kau lah yang membuat Oliver seperti itu", ucap Elara sambil menggenggam tangan Olivia. Keduanya memilih duduk di ruang keluarga. Sementara Oliver dan Maxxie bersama Asley sedang berkeliling, memilih kuda yang cocok untuk Asley.


Olivia tersenyum mendengar penuturan Elara. "Karena sejak dulu aku mencintai kakak mu, Ela. Oli juga menunjukkan cintanya pada ku dan Asley. Dan lihatlah hasilnya sekarang", jawab Olivia tersenyum bahagia sembari mengusap perutnya yang kian membesar.


"Ah Oliv, aku juga menginginkan hamil seperti mu. Suamiku juga sangat menginginkan nya, namun hingga kini belum ada juga tanda-tanda aku akan hamil, huhh mau bagaimana lagi kami sudah berusaha".


"Itu tandanya kalian berdua masih diberi kesempatan untuk menikmati honeymoon, Ela. Memperbanyak kebersamaan kalian".


"Atau bisa jadi aku mendapatkan karma, atas berbuatan ku dulu. Membuang janin yang aku kandung", ucap Elara sedih. "Aku benar-benar menyesal apa yang sudah aku lakukan dulu. Kakak benar, mengatakan aku sangat tega. Waktu itu aku begitu putus asa dan ketakutan. Kini...di saat aku menikah dengan laki-laki yang sangat aku cinta, aku belum bisa membahagiakan nya", ucap Ela lirih dan tertunduk.


"Hei...kalian belum lama menikah Ela. Kau pun masih mudah. Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak semakin membuat mu stress yang akan mempengaruhi kesehatan mu".


"Sebenarnya jadwal haid ku sudah terlambat tiga hari. Tapi aku sengaja tidak mau memeriksa nya, pasti itu bukan karena hamil. Besok-besok pasti haid ku akan datang juga seperti yang sudah-sudah".


"Apa kau membawa testpack?".


"Tidak. Sdh beberapa bulan ini aku tidak menyimpan testpack. Aku tidak mau berharap lagi kalau pada akhirnya kecewa lagi", jawab Elara putus asa.

__ADS_1


"Huhh..."


"Elara pernikahan kalian baru empat bulan, belum juga setahun. Kamu tidak usah putus asa begitu. Nanti kita suruh orang membeli testpack nya–"


"Tidak usah Oliv. Jika melihat aku melakukannya, Max membuatku gugup. Bahkan ia selalu menunggu hasilnya di dekat ku", ucap Elara.


"Baiklah kalau begitu. Tapi kau tetap harus berhati-hati, bisa jadi anak yang kalian nantikan sekarang ada di perut mu–"


"Anak? Anak siapa yang kalian bicarakan sayang?"


Tiba-tiba Oliver, sudah ada di ruang keluarga. Elara melebarkan kedua matanya menatap Olivia.


Oliv mengerti, cepat-cepat ia beranjak dan memeluk pinggang suaminya. "Ela bertanya tentang kehamilan ku sayang? Tidak ada salahnya kan aku berbagi cerita dengan adik mu".


Oliver tersenyum mendengarnya. "Tentu saja tidak ada yang salah".


Tak lama kemudian terdengar suara Asley. Anak itu masuk bersama Maxxie. Begitu melihat Olivia ia langsung berlari menghampiri Oliv.


"Mommy, aku sudah menunggang kuda bersama daddy Max. Kata daddy kalau aku sudah lancar menunggang kuda, nanti aku bisa mengajari adik kembar ku juga".


Olivia dan Elara tertawa mendengar perkataan Asley.


"Sekarang waktunya Asley istirahat", ucap Oliver pada baby sitter.


Joanna menganggukkan kepalanya. "Baik tuan", jawabnya.


"Oli, apa kita tidak melihat petani-petani itu panen? Aku lihat para pekerja sangat sibuk di arah timur", ucap Maxxie yang duduk di samping istrinya.


"Sebentar lagi. Apa kau sudah tidak sabar menemui Casandra lagi?", ucap Oliver.


"Casandra siapa, sayang?". Tanya Elara penuh selidik menatap suaminya.


Maxxie mengusap tengkuknya. "Ala, seperti kau tidak ingin menemui nya saja", balas Max pada Oliver dengan lantang.


Olivia yang berada di samping Oliver menatap tajam suaminya. "Casandra siapa? Apa dia pekerja di perkebunan ini?"

__ADS_1


Olivia menatap Ela, namun Ela mengangkat bahunya menandakan tidak tahu menahu.


"Oli...Kau jangan macam-macam. Dari tadi kau membuatku kesal", ketus Olivia kesal.


"Kau juga. Siapa Casandra itu. Kenapa kalian menyebut namanya secara mendalam begitu", seru Elara sambil memukul pundak Maxxie.


"Eh kamu...kemari!", teriak Ela pada seorang pelayan muda yang berjalan ke arah pantry. Cepat-cepat pelayan muda itu menghampiri Elara.


"Iya nona, Ela?", ucapnya dengan hormat.


"Siapa Casandra? Apa ia pekerja baru di perkebunan?", tanya Elara menatap tajam pelayan itu.


Tiba-tiba pelayan itu tersenyum sumringah. Sampai-sampai Ela menatap penuh selidik pelayan itu.


"Iya nona, Casandra penghuni baru perkebunan. Ia sangat cantik. Sama halnya nona berdua yang sangat cantik".


Jawaban pelayan itu membuat dada Ela bergemuruh kencang. Tak kecuali Olivia pun merasakan hal yang sama.


Dengan mengibaskan tangannya, Elara meminta pelayan itu pergi.


"Kalian berdua ini sama brengseknya!", hardik Ela kesal.


"Sebaiknya nya kita tinggalkan saja mereka berdua ini, Ela. Biarkan mereka tidur di luar!"


"Iya, kau benar", jawab Ela berdiri berbarengan dengan Olivia. Keduanya membalikkan badan dan berlalu.


Oliver dan Max bertukar pandang.


"Semua ini gara-gara mu Oli. Tentu saja aku tidak mau tidur sendiri malam ini gara-gara anak kuda itu".


"Shitt. Yang benar saja Max, aku juga tidak mau tidur di luar. Sebaiknya kita susul istri kita. Bisa-bisa aku tidak dapat jatah malam ini".


Sebenarnya Olivia dan Elara masih berdiri di balik dinding mendengarkan suami mereka bicara. Keduanya melototkan mata, saat mengetahui Cassandra ternyata hanyalah seekor anak kuda.


"Huhh...mereka kompak sekali mengerjai kita, Oliv. Aku akan membalas Max. Lihat saja", ujar Ela dengan bibir menipis karena geram.

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2