ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
KILAS BALIK


__ADS_3

Olivia terjaga di tengah malam. Sesaat ia merasa asing dengan tempatnya tidur. Perutnya pun terasa berat karena ada tangan yang memeluknya. Ia benar-benar tersadar ketika ingatannya terkumpul semua.


Perlahan Olivia membalikkan tubuh menghadap Oliver yang tertidur pulas di sebelahnya dengan posisi menghadap Olivia.


Jemari lentik Olivia membelai lembut wajah hingga bibir laki-laki tampan itu. Oliver tak bergeming sedikitpun. Olivia tersenyum melihatnya. "Ternyata dia tertidur sangat nyenyak. Kau selalu tampan setiap saat", gumam Olivia yang pelan-pelan turun dari tempat tidur ingin melihat anaknya yang juga tertidur sangat nyenyak.


Olivia mengeratkan selimut menutupi tubuh Asley. Jam di dinding masih menunjukkan pukul tiga dini hari, udara kota Houston terasa sangat dingin meskipun tanpa pendingin ruangan.


Olivia kembali ke peraduan. Ia merebahkan tubuhnya kembali di samping Oliver. Seakan menyadari keberadaan Olivia, tangan Oliver menarik tubuh wanita yang sangat di cintainya itu kedalam dekapannya. "Kau dari mana, hem?", ucap Oliver terdengar serak masih memejamkan kedua matanya.


Olivia membalikkan tubuhnya dengan kepala bersandar pada dada bidang laki-laki itu. "Aku terjaga tadi. Aku melihat Asley, anak itu kalau tidur selalu tidak mau memakai selimut. Padahal cuaca sekarang sangat dingin".

__ADS_1


Oliver menyunggingkan senyuman di bibirnya, masih dengan mata terpejam.


"Asley mirip aku kan? Aku juga tidak menyukai tidur memakai selimut atau apapun", balas Oliver sambil melingkarkan tangannya pada leher Olivia.


"Kau contoh yang buruk", seru Olivia sambil menautkan jemari tangan kirinya pada jemari tangan kanan Oliver yang berada di depan dadanya.


"Artinya aku tidak perlu melakukan tes DNA lagi pada anak itu. Wajah dan kelakuan nya benar-benar cerminan ku", seloroh Oliver.


Oliver tersenyum mendengarnya. "Tentu saja tidak. Anakku harus lebih baik dari ku", jawab Oliver membuka kedua matanya.


"Saat aku menikahi mu usia ku masih sangat muda, dua puluh lima tahun. Sementara kau sembilan belas tahun. Aku menjalin hubungan sudah lama dengan Claudia. Ketika itu aku merasakan cinta mendalam pada wanita itu. Aku nyaman bersamanya hingga hubungan kami bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Tapi saat ayahku meninggal dunia, dalam wasiatnya tertulis semua aset yang ada akan menjadi milik ku dan Elara. Dengan syarat aku akan menerimanya setelah aku menikah dan Ela tidak melanjutkan keinginannya menjadi balerina. Ela harus menjadi salah satu komisaris di perusahaan Lucifer, namun Ela lebih memilih jalannya sendiri. Ia meninggalkan semuanya dan hidup sesuai pilihannya. Sementara aku menginginkan warisan itu. Sejak lama aku menyukai dunia bisnis", ucap Oliver sambil meremas jemari tangan Olivia yang bertaut dengan jemarinya.

__ADS_1


Olivia tidak berkomentar apapun ia mendengarkan cerita Oliver. Ini untuk yang pertama kalinya laki-laki itu bercerita mengenai dirinya pada Olivia.


Sesaat hanya terdengar hembusan nafas masing-masing. Hening.


"Kau dan Claudia saling mencintai dan menjadi kekasih sudah lama, kenapa kau tidak menikahi nya untuk mendapatkan warisan mu?"


Olivia merasa lega setelah mengutarakan pertanyaan itu pada Oliver. Sudah sejak lama ia memendam rasa ingin tahunya.


"Aku tahu kau tidak pernah mencintai ku Oliver. Tapi kau selalu menuntut hak mu saat bersama ku.."


...***...

__ADS_1


__ADS_2