
Ada senyuman di wajah Dokter Hera, Dokter Hera lalu menoleh ke arah Kirana, dan kembali fokus pada layar.
"Selamat ibu Kirana, anda sedang mengandung, dan usia kandungannya sudah 6minggu."ucap Dokter Hera.
"Apa Dok, saya hamil?" ucap Kirana terkejut, begitu juga dengan Mia.
"Iya, ini adalah janinnya, calon bayi anda." ucap Dokter Hera sambil mengarahkan .. pada penampakan janin di layar monitor.
Ada rasa haru di hati Kirana saat melihat calon bayinya, ia pun tersenyum bahagia.
Mia yang melihat Kirana tersenyum, merasa sedikit lega, karna apa yang ia bayangkan bahwa Kirana akan syok dengan kabar ini, tidaklah terjadi.
Mia pun ikut tersenyum, lalu mengusap wajah Kirana, Kirana lalu menoleh pada Mia sambil tersenyum.
"Mi, lihat itu Mi, anakku."ucap Kirana tersenyum haru.
"Selamat ya Ran, mimpimu untuk menjadi seorang ibu akan segera terwujud."ucap Mia.
Senyuman Kirana langsung pudar.
"Tapi Mi, aku sudah bercerai dengan Mas Rian, itu artinya, anakku akan tumbuh tanpa seorang ayah."kata Kirana.
"Kiran, aku mengerti perasaanmu, tapi untuk sekarang, kau harus fokus pada kesehatanmu, jangan terlalu banyak fikiran, karna itu akan mempengaruhi kesehatanmu, dan itu tidak baik bagi calon anakmu."kata Mia.
Dokter Hera yang mendengar pembicaraan mereka merasa iba dengan Kirana.
"Apa yang dikatakannya benar, maaf saya menguping pembicaraan kalian. Apapun masalah yang sedang anda hadapi saat ini, singkirkan dulu, fokus pada kesehatan anda dan juga calon bayi anda, karna stres akan berdampak buruk pada calon bayi anda."ucap Dokter Hera menjelaskan.
__ADS_1
Kirana pun tersenyum.
"Baiklah, aku akan berusaha menjaga calon bayiku."
"Mas, katanya setelah urusan perceraianmu, kau akan meresmikan pernikahan kita, tapi sampai sekarang kau masih belum meresmikan pernikahan kita." kata Bella kesal.
Rian tidak memperdulikan ucapan Bella, ia hanya fokus pada layar komputernya.
Bella semakin kesal karna merasa diabaikan oleh Rian, ia pun beranjak dari tempat tidurnya menghampiri Rian.
"Mas, kamu denger aku gak sih?"tanya Bella kesal sambil menggoyangkan bahu Rian.
"Bella, bisa kita bicarakan itu nanti? aku sedang banyak pekerjaan, kembalilah ke tempat tidur dan istirahat, kau harus banyak istirahat, supaya bayi kita sehat." ucap Rian sambil mencium perut buncit Bella.
Walaupun kesal, Bella menuruti perintah Rian untuk kembali ke tempat tidur.
Kirana mengangguk sambil tersenyum.
"Itu artinya, ibu akan menjadi Nenek?" Kirana kembali mengangguk.
Bu Rahma langsung memeluk Putri kesayangannya itu, ada rasa bahagia, karna mimpinya untuk menjadi Nenek akan segera terwujud, tapi tidak dipungkiri, ada kesedihan dihatinya, mengingat status Kirana yang seorang Janda.
Bu Rahma melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat kedua bola mata berwarna coklat milik Putrinya itu.
"Sayang, apa kau memikirkan Rian?"tanya Bu Rahma.
Kirana lalu menunduk tak menjawab pertanyaan ibunya.
__ADS_1
"Sayang, hari ini Tuhan sedang menunjukkan kuasanya pada Kita, percayalah selalu ada kebaikan di balik rencana Tuhan. Fokuslah pada kesehatanmu dan bayimu, jangan pikirkan yang lain, mengerti."ucap Bu Rahma lembut.
"Iya bu, Kirana mengerti."ujar Kirana sambil tersenyum.
"Yasudah, sekarang kamu mandi, lalu makan, setelah itu istirahat."kata Bu Rahma.
Kirana mengangguk, lalu pergi ke kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Kirana lalu duduk di tepi tempat tidur.
Di usapnya lembut perut ratanya.
"Sayang, walaupun kamu akan dibesarkan tanpa seorang ayah, kamu tidak perlu khawatir, karna masih banyak orang yang menyayangimu, ada Nenek, ada Kakek, ada paman, ada Mbok Jum, ada pak Tio, mereka sangat menyayangimu, jadi, tumbuhlah dengan baik di dalam perut Bunda, Bunda sangat menyayangimu."ucap Kirana seakan sedang berbicara dengan seseorang yang berdiri di depannya.
Setelah puas mengobrol dengan calon bayinya, Kirana bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.
Bu Rahma langsung memberitahukan kehamilan Kirana pada Pak Hendra dan juga Dimas melalui telepon, mereka merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Bu Rahma. Mereka senang, tapi juga sedih.
Setelah di beritau kabar itu, Pak Hendra memilih pulang lebih cepat, karena ingin memastikan keadaan Putrinya baik-baik saja.
"Aldo, tolong kamu urus jadwal untuk besok, karna setelah saya menandatangani semua dokumen ini, saya akan pulang."ucap Pak Hendra pada sekertaris nya.
"Baik pak."ujar Aldo.
Setelah selesai menandatangani, Pak Hendra pun pamit pada Aldo.
Disepanjang perjalanan, Pak Hendra terus memikirkan nasib Putrinya, ia sangat marah pada Rian yang sudah bertindak seenaknya tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia pun bertekad untuk melarang Kirana pergi ke Restoran lagi, karna ia khawatir, Kirana akan bertemu dengan Rian, dan Jika Rian tau kalau Kirana sedang hamil, ia takut Rian akan meminta Putrinya rujuk, ia tidak ingin Putrinya disakiti untuk yang kedua kalinya.