ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
PERKEBUNAN LUCIFER


__ADS_3

Begitu memasuki kota Dallas, mobil Oliver langsung menuju ke perkebunan yang jaraknya sekitar tiga puluh menit saja dari pusat kota.


"Apa kau tidak mengantuk, hem? Dari rest area kau hanya melihat keluar jendela", ucap Oliver mengusap tengkuk Olivia.


"Lihatlah anak kita sepanjang perjalanan hanya terlelap".


Olivia menolehkan kepalanya menatap Asley yang tertidur di kursi belakang. "Asley tidak pernah berkendara jauh seperti ini sayang. Ia sangat antusias ketika kau mengajaknya ke perkebunan. Apalagi kau akan mengajari menunggang kuda, ia tidak sabaran sekali menunggu hari ini. Asley sangat mirip dengan mu, tidak sabaran", ujar Olivia tersenyum.


"Tentu saja ia mirip daddy-nya, begitu pun adik-adiknya nanti akan mirip juga dengan ku. Karena aku sangat mengharapkan kehadiran mereka", jawab Oli tersenyum sambil menarik jemari tangan Oliv mengecupnya dengan lembut kemudian Membawanya ke atas paha dan menggenggamnya dengan erat.


"Yah ya...semua anak-anak mu mirip dengan mu", jawab Olivia sambil menyandarkan kepala pada bahu Oliver yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Senyum kebahagiaan terpancar nyata dari wajahnya yang berseri-seri.


Setelah tiga jam lebih perjalanan, akhirnya mobil yang di kendarai Oliver memasuki kawasan perkebunan miliknya. Plang besar terpampang di pintu gerbang bertuliskan Perkebunan Lucifer. Namun untuk sampai ke Villa, masih cukup jauh karena lahan perkebunan itu sangat luas sekali.


Nampak beberapa orang berjaga-jaga di gerbang utama. Sembari membungkukkan badan memberi hormat pada Oliver yang berada di dalam mobil. Mereka sudah mengetahui kedatangan bos mereka itu makanya mengetatkan penjagaan di luar perkebunan.


"Oli, apa semua lahan ini milik mu?", Tanya Olivia sambil melihat keluar kaca mobil bahkan ia sempat menurunkan kaca mobil mengedarkan pandangannya ke semua arah. Kagum akan keindahan perkebunan berukuran luas tersebut. Hamparan bunga matahari yang sedang bermekaran begitu indah. Olivia tak berkedip memandangi nya.


"Iya. Semua di bagian depan milik ku. Sementara milik Ela di bagian belakang".


Olivia manggut-manggut mendengar penjelasan Oliver. Sekali lagi ia membuka habis jendela, melipat tangannya di atas kaca yang terbuka dan menyandarkan dagunya sana. Senyum bahagia terlukis di wajah cantik Oliv. Olivia memejamkan kedua matanya menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit wajahnya.

__ADS_1


"Tutup kacanya Oliv, angin di sini sangat kencang nanti kau kedinginan".


"Aku tidak apa-apa Oli. Perkebunan mu sangat indah, aku suka berada di sini", jawab Olivia.


"Kita akan sering kemari jika kau menyukai nya sayang. Lihatlah ke depan itu Villa nya, kita tinggal di sana selama di sini".


Olivia mengikuti arah telunjuk Oliver, dengan kedua mata fokus Oliv membetulkan posisi duduknya. Menatap jauh kedepan tepatnya ke arah bangunan megah yang di dominasi warna baby yellow. Persis seperti warna bunga matahari yang bermekaran di belakang bangunan megah itu.


Olivia tidak bisa menutupi decak kagum ketika melihat villa milik suaminya"Oli sangat indah".


"Baju mu cocok sekali berada di perkebunan ini sayang. Segar dan cantik", goda Oliver sembari mengusap lembut wajah istrinya.


"Uhh, dasar perayu ulung. Selain aku, apa kau sering menghabiskan waktu dengan wanita lain di tempat ini?", tanya Olivia mendadak penuh selidik. Sorot matanya tajam menatap kearah suaminya. Bersamaan dengan mobil berhenti tepat di carport Villa.


"Kenapa? Huhh ..aku yakin dulunya pasti kau sering membawa wanita mu kemari. Pasti kau dan Claudia sering kemari kan, Oli?"


"Apa kau cemburu sayang? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba kau bertanya seperti itu".


"Siapa juga yang cemburu. Aku hanya ingin tahu saja", seru Olivia dengan wajah sedikit cemberut. Entahlah, tiba-tiba hatinya panas.


"Oh begitu. Kau tidak cemburu rupanya".

__ADS_1


Oliver mencondongkan tubuhnya ke arah Olivia. "Nanti di dalam saja aku menjawab pertanyaan mu sayang, karena aku lupa siapa saja yang aku bawa kemari".


Olivia melototkan matanya. "Berarti banyak wanita yang kau bawa kemari Oliver?!"


Oliver mengangkat satu bahunya, dengan wajah konyolnya.


"Kamu–"


"Mommy...Apa kita sudah sampai di perkebunan? Aku mau menunggang kuda". Tiba-tiba Asley yang tadinya tidur, terbangun.


"Tentu saja, ayo kita turun daddy akan mengajarkan mu caranya menunggang kuda dan menaklukkan hati wanita–"


"Oliver!"


Olivia melototkan kedua matanya, sementara Oliver dengan cueknya tertawa. Ia tahu istrinya kesal padanya. Dan akan terus menuntut penjelasan dari nya hingga merasa diberikan jawaban atas pertanyaan nya.


Oliver tertawa dalam hati. "Malam nanti saja aku menjawab pertanyaan mu, sayang", batinnya.


"Uhh Oli, awas saja kalau masih main-main dengan wanita lain. Aku tidak akan membiarkannya. Lihat saja.."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2