
Kirana kini sudah resmi dengan status barunya sebagai janda. satu minggu setelah ikrar talaq, Kirana pergi ke restoran miliknya yang sudah ia tinggalkan dan ia percayakan kepada Mia selama ia pergi mengurus perceraiannya.
Sesampainya di restoran, Kirana langsung di ajak ke ruangannya dan tentu saja di interogasi.
"Kiran, apa benar berita yang aku denger kalo kamu dan Rian sudah bercerai?"tanya Mia dengan mimik wajah yang serius.
Kirana langsung mengangguk cepat.
"Iya Mia, itu benar." jawab Kirana tanpa beban.
Sekarang, Kirana sudah mulai perlahan melupakan Rian, walaupun belum sepenuhnya hilang kenangannya bersama Rian di memori otaknya, tapi ia yakin, perlahan pasti akan hilang.
Dan untuk membantunya melupakan Rian, ia kembali menyibukkan dirinya mengurus restoran miliknya.
Setelah Mia mendapat jawaban dari Kirana, Mia langsung memeluk Kirana.
"Sabar ya Ran, Rian mungkin bukan jodohmu."ucap Mia, lalu melepaskan pelukannya.
Kirana hanya tersenyum menanggapi ucapan Mia.
"Yasudah, berikan aku laporan selama aku cuti kemarin." ucap Kirana.
Mia lalu mengambil sebuah map yang berisi laporan pemasukan dan juga pengeluaran, lalu memberikannya pada Kirana.
Kirana pun langsung menerimanya dan mengeceknya, namun, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, ia pun memijit pelipisnya.
Belum reda rasa pusing, perutnya serasa di kocok, cairan asam mulai naik ke tenggorokanya, Kirana sudah tak bisa lagi menahan rasa ingin muntahnya, dengan sedikit berlari, ia pergi ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Hoek ... hoek..
Mia yang melihat ada yang tidak beres dengan Kirana, langsung menyusul Kirana ke toilet.
"Kiran, tok tok tok, buka pintunya Kiran !" seru Mia panik sambil terus mengetuk pintu toilet.
Tidak ada jawaban dari Kirana, hanya terdengar suara seperti Kirana sedang muntah.
Tak lama kemudian, Kirana keluar dari toilet dengan wajah yang pucat, berbeda dengan waktu ia datang, Mia langsung hawatir.
"Kiran, apa kamu sakit?" tanya Mia sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Kirana.
"Sepertinya begitu Mia, kepalaku pusing dan perutku mual, mungkin asam lambungku sedang kambuh." ucap Kirana.
"Yasudah, aku akan mengantarkan mu ke apartemen mu." kata Mia.
"Tidak usah Mia, antarkan aku ke ruanganku saja, aku ingin istirahat sebentar."kata Kirana sambil mengambil tas miliknya.
"Baiklah."ucap Mia, ia kemudian menuntun Kirana ke ruangan Kirana yang ada di lantai 2.
"Istirahatlah, kalo kau butuh sesuatu, panggil saja aku, aku tinggal dulu." ucap Mia.
Kirana pun mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur yang memang sudah tersedia disana untuk Kirana biasa beristirahat. Mia pun pergi meninggalkan Kirana.
__ADS_1
Setelah Mia pergi, Kirana kembali merasakan sesuatu yang sudah mengganjal di tenggorokannya, ia pun bergegas bangun dan pergi ke toilet untuk kembali memuntahkan isi perutnya, sampai tidak ada lagi yang keluar.
Kirana merasa sangat lemas, perlahan ia kembali ke atas kasur untuk merebahkan tubuhnya.
Selang beberapa menit, Mia masuk membawakan makanan untuk Kirana.
Mia yang melihat keadaan Kirana tentu saja merasa sangat khawatir. Mia lalu duduk di tepian kasur, punggung tanggannya ia tempelkan di dahi Kirana, dan terasa panas.
"Ran, kamu demam, aku akan panggilkan Dokter." ucap Mia.
"Tidak usah Mi, nanti juga reda, aku hanya perlu istirahat saja."kata Kirana.
"Memangnya kau Dokter ! sudah, jangan menolak, aku akan panggilkan Dokter."ujar Mia.
Kirana pun sudah tidak bisa menolak lagi.
"Baiklah, tapi antar saja aku ke rumah sakit, jangan panggil Dokter kesini."ucapnya dengan suaranya yang terdengar lemah.
"Baiklah, tapi kau harus makan dulu, kau harus mengisi perutmu dulu." ucap Mia.
"Cepat buka mulutmu."ujar Mia.
Jangankan ingin membuka mulut, mencium aroma makanan itu saja Kirana rasanya sangat mual, ia kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang hanya tinggal cairan kuning yang teramat pahit.
Mia langsung mengerutkan dahinya melihat Kirana yang tiba-tiba muntah saat hendak ia suapi.
Mia pun menaruh makanan itu di atas meja, dan menyusul Kirana ke kamar mandi.
"Kiran, tadi pagi apa yang kau makan?"tanya Mia.
"Mia, makanan apa yang tadi mau kau berikan padaku?"tanya kirana.
"Bubur."jawab Mia.
"Kenapa bau sekali? itu membuatku mual, apa bubur itu sudah berhari-hari? apa kau mau meracuniku?"tanya Kirana dengan suara pelan.
"Sembarangan, itu bubur baru matang, masih fresh dan dibuat dengan bahan-bahan yang fresh juga." jawab Mia.
Mia lalu berpikir dan coba menebak-nebak apa yang terjadi dengan Kirana.
Astagaa, apa jangan-jangan Kirana hamil? jika benar Kirana hamil, dia pasti akan sangat terluka. Walaupun dia sangat menginginkan seorang anak, tapi keadaannya saat ini sangatlah berbeda. Sebaiknya aku harus segera membawa Kirana ke Dokter supaya lebih jelas. Mia.
"Yasudah, ayo kita ke Dokter." ucap Mia sambil menggandeng tangan Kirana.
Setelah sampai di rumah sakit, Kirana dan Mia pun menunggu di ruang tunggu.
"Ibu Kirana !" seru seorang perawat.
Kirana lalu beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke ruangan Dokter.
"Suster, apa saya boleh masuk?" tanya Mia.
__ADS_1
"Boleh bu, silahkan." jawab suster.
"Terimakasih."ujar Mia.
Dokter mulai menanyakan keluhan yang dirasakan oleh Kirana, Kirana pun menyebutkan keluhannya dengan sangat detail.
"Silahkan ibu berbaring." ucap Dokter.
Kirana pun langsung berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Dokter mulai menempelkan stetoskop ke perut Kirana, Dokter lalu sedikit menekan-nekan perut kirana.
"Apa ibu sedang hamil?"tanya Dokter.
"Tidak Dokter."jawab Kiran sambil menggeleng cepat.
"Kapan terakhir ibu datang bulan?"tanya Dokter.
Mia yang mendengar pertanyaan Dokter, langsung memfokuskan pendengarnya, berharap apa yang ia duga tidaklah benar.
"Terakhir datang bulan.. " Kirana menggantung ucapannya.
Aku bahkan lupa, kapan terakhir aku datang bulan karna memikirkan masalahku dengan mas Rian. Kirana.
"Saya tidak ingat Dokter, tapi, saya merasa bulan ini saya belum mendapatkan haid."ucap Kirana.
"Kalo begitu, saya akan mengantarkan ibu ke Dokter Hera." ucap Dokter.
"Dokter Hera?"tanya Kirana.
"Dokter Hera adalah Dokter spesialis kandungan, karna saya menduga, saat ini ibu sedang mengandung." apa yang di katakan Dokter membuat Mia langsung beranjak dari duduknya, sedangkan Kirana tentu saja merasa terkejut juga.
"Apa Dok, saya hamil?"tanya Kirana.
"Itu hanya dugaan saya, untuk lebih memastikan, biar Dokter Hera yang memeriksa ibu." ucap Dokter.
Kirana tidak menjawab, ia hanya diam dan mengikuti Dokter ke ruangan Dokter Hera.
Dokter Ratna terlihat berbicara pada Dokter Hera, lalu ia menghampiri Kirana.
"Ibu Kirana, ini Dokter Hera yang akan memeriksa ibu lebih lanjut."ucap Dokter Ratna.
Kirana dan Dokter Hera pun saling berjabat tangan.
"Halo Dokter, selamat siang, saya Kirana."ucap Kirana.
"Oh ibu Kirana, saya Dokter Hera, mari ikut saya." ucap Dokter Hera ramah.
Kirana pun mengikuti Dokter Hera yang berjalan ke arah ranjang rumah sakit yang di sebelahnya terdapat sebuah komputer monitor USG.
"Silahkan ibu berbaring." ucap Dokter Hera.
__ADS_1
Kirana pun langsung berbaring, Dokter mulai mengoleskan gel ke perut Kirana, lalu menempelkan Transducer ke perut Kirana, Kirana dan Dokter Hera fokus pada layar monitor yang memperlihatkan kondisi rahim Kirana, begitupun dengan Mia.
Sebelum Dokter memberikan penjelasan tentang keadaannya, Kirana sangat merasa gelisah, bagaimana jika dia benar-benar hamil.