ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
BERKATA JUJUR


__ADS_3

Setelah seharian menenangkan dirinya, menjelang senja Ela memutuskan akan menemui Maxxie, menjelaskan semuanya pada tunangannya itu.


Ela menatap wajahnya di depan cermin kamar. Ia mengusap wajah yang nampak pucat itu, menyapukan concealer untuk menutupi mata panda karena kebanyakan menangis dan kurang istirahat.


Ela sadar betul konsekuensi yang akan ia dapatkan nantinya setelah Max mengetahui masa lalunya yang kelam. Terlalu banyak rahasia yang ia simpan sendiri. Ela sudah siap menerima keputusan Maxxie. Termasuk hal terburuk yang akan ia dapatkan. Max akan membatalkan pertunangan mereka dan memutuskan hubungan dengan nya.


Elara mengikuti nasihat Oliver dan Olivia, ia harus terbuka dan jujur meskipun pada akhirnya akan sangat menyakitkan.


*


Ela memarkirkan mobilnya di carport luas milik Maxxie, tepat berada di sebelah mansion tunangannya itu.


Saat melihat kehadiran Elara, Rosa pelayan yang sudah sangat dikenalnya menyapa hormat Ela.


"Bibi Rosa, apa Max ada?"


Raut wajah Rosa berubah seketika.


"Dari kemarin tuan muda tidak pulang ke mansion, non", jawab Rosa terlihat sedih.


"Biasanya tuan Maxxie bermalam di kantor jika tidak pulang", ucap Rosa lagi.

__ADS_1


Olivia terdiam sesaat.


"Kalau begitu aku ke kantor Max saja bibi", ucap Elara selanjutnya.


"Baik non", jawab Rosa menganggukkan kepalanya.


Langit masih berwarna jingga ketika Ela melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kota Houston.


Sebelum menuju ke perusahaan Max, Ela mampir ke restoran untuk membeli makanan dan minuman. Sekarang Ela benar-benar merasakan perutnya lapar.


Tiga puluh menit terlewati. Mobil Ela tiba di gedung pencakar langit yang berada di kawasan perkantoran kota. Mobil Ela berhenti di carport perusahaan Maxxie. Tepatnya di sebelah mobil Max. Ela tersenyum mengetahui Max ada di sana. Tanpa menunggu lama Ela melangkah masuk sambil membawa paper bag berisi makan malam untuk ia dan Maxxie.


Elara bisa langsung masuk ke lift khusus karena sudah memiliki akses ke ruangan Maxxie. Security perusahaan itu pun sudah mengenal Elara sebagai kekasih pemilik perusahaan.


Elara melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Maxxie. Ia sempat melihat Bill asisten Maxxie yang nampak masih berkutat dengan pekerjaannya. "Billy", panggil Ela.


Bill menolehkan kepalanya menatap Ela. "Nona Ela?". Sapa Bill segera berdiri.


"Hm...apa atasan mu ada di ruangannya?"


"Iya, ada nona. Tapi kondisi tuan Maxxie sedang tidak baik-baik saja, sejak semalam hanya berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan saya perhatikan seharian ini tuan Maxxie belum makan apapun", jawab Bill menjelaskan pada Ela. "Mari saya antar nona menemui tuan–"

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku bisa menemui nya sendiri, Bill. Kau lanjutkan saja pekerjaan mu, kau nampak sibuk sekali. Aku sudah membawakan juga makanan untuk bos-mu itu", ucap Elara tersenyum ramah sambil mengangkat paper bag memperlihatkan pada laki-laki muda tersebut.


Bill tersenyum melihat kekasih atasannya itu begitu perhatian walaupun ia tahu sebenarnya hubungan Ela dan Max sedang dirundung masalah. Namun Bill tidak berani bertanya-tanya apapun karena ia tahu posisinya.


"Baik nona", jawab Bill tersenyum hangat.


*


Tiba di depan pintu ruang kerja Maxxie, Elara menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya sedikit gemetaran. Sejujurnya ia sangat gugup, takut jika Max langsung menolaknya atau pun tidak mau melihatnya lagi. Namun Ela menguatkan dirinya sendiri, apalagi tadi pagi Olivia dan Oliver memberikan support padanya. Elara sedikit tenang sekarang.


Tok..


Tok..


Tok..


Tiga kali Elara mengetuk pintu ruang kerja Maxxie, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ela memberanikan diri membuka pintu berwarna coklat tua tersebut dan melihat Maxxie sedang berkutat dengan pekerjaannya.


Ela melihat botol wine yang sudah kosong di dekat tumpukan berkas di atas meja.


Penampilannya terlihat kacau. Kemeja kerja berwarna biru dongker masih membalut tubuhnya. Lengan kemeja itu sudah di naikkan hingga siku tangan nya. Sementara simpul dasinya pun sudah di longgarkan. Rambut hitam tebal yang biasanya selalu terlihat rapi, sekarang berantakan.

__ADS_1


"Ada apa Billy. Kenapa kau masih di kantor, bukankah aku sudah menyuruh mu pulang dari tadi. Kau ini sudah berani membantah ku rupanya! Apa kau sudah bosan menjadi asisten ku–"


"S-ayang.."


__ADS_2