
Olivia dan Elara cepat-cepat masuk kamar masing-masing. Kamar Olivia dan Oliver yang terletak di lantai bawah memudahkan Oliv, sementara kamar Elara dan Maxxie berada di lantai dua.
Tiba di kamar Oliv, duduk di dekat jendela sambil mengusap perutnya, sesekali netra nya menatap para petani yang sedang bekerja di ladang.
"Uhh daddy kalian suka sekali menggoda mom. Maafkan mommy hampir membuat kalian syok sayang. Ternyata daddy tidak melakukan apa-apa", ucap Olivia tersenyum.
"Ceklek..."
Olivia memejamkan matanya sesaat, ia tahu yang membuka pintu pasti Oliver.
"Sayang, maafkan aku. Jangan salah paham Cassandra bukan siapa-siapa hanya seekor anak kuda yang lucu. Aku tidak melakukan apa-apa, aku juga tidak mungkin mengkhianati mu, sayang", tegas Oliver serius.
Meskipun Oliv tidak menatap mata suaminya, namun ia tahu Oli bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tentu Olivia senang mendengarnya sekaligus menahan tawanya dalam hati melihat Oliver seperti itu. "Huhh... Aku akan membalas mu, sayang", batin Olivia sambil tertawa dalam hati.
Oliver menghampiri istrinya, sembari berjongkok di depan Olivia.
Tangan Oliver berada diantara paha Oliv. Oliver menatap wajah istrinya yang nampak muram durja. Sungguh Oliver merasa bersalah karena sudah membuat Olivia sedih dan panik.
"Aku tidak membohongi mu, Oliv. Casandra itu anak kuda. Tadi kami melihatnya di istal. Bahkan Asley melihatnya juga, tanya saja anak kita kalau kau tidak percaya".
Olivia memalingkan wajahnya, seperti enggan bertatapan dengan Oliver. Namun Oli mencegahnya memalingkan wajah yang nampak sedih itu. Jemari Oliver menarik dagu Olivia agar menatapnya. Mau tidak mau pada akhirnya keduanya saling berpandangan.
Oliver mendekatkan wajahnya. Mencium bibir istrinya. Awalnya untuk menenangkan Oliv saja, namun berganti lu*atan penuh gairah. Begitu pun Olivia, awalnya enggan membalas, dan terus berpura-pura bahwa ia masih di liputi amarah pada suaminya itu. Namun Oliver menciumnya begitu hebat, tubuh Olivia meremang. Kupu-kupu berterbangan menggelitik perutnya. Oliv pun luluh, tenyata ia tidak bisa membohongi diri. Tubuhnya justru berkhianat.
Keduanya berciuman mesra. Lama dan mendalam. Hingga terdengar nafas Olivia tersengal-sengal. Oliver tersadar. Tentu saja ia tidak mau membuat istrinya yang sedang hamil mengalami sesak karena tidak bisa menghirup udara di sekitar.
"Apa kau merasa sesak, hem?"
__ADS_1
Olivia menggelengkan kepalanya. "Tapi aku masih marah pada mu. Jangan kira karena aku membalas ciuman mu lantas kita berdamai. Karena kau belum menjelaskan siapa saja wanita yang kau bawa ke sini! Oke masalah Cassandra sudah usai, karena kau dan Max bekerja sama membuat aku dan Ela cemburu".
Oliver tersenyum mendengar pertanyaan Olivia. "Oh tentang itu? Aku juga sengaja menggoda mu, membuat mu cemburu. Karena selama bersama ku kau tidak pernah menunjukkan rasa cemburu mu pada ku, aku ingin merasakannya bagaimana jika kau cemburu. Hm... ternyata aku senang jika wanita yang aku cinta ada rasa cemburunya", seloroh Oliver sambil mengusap wajah Olivia.
Sementara Oliv menatap selidik wajah Oliver.
"Tidak ada satu wanita mana pun yang aku bawa kemari selain istriku", tegas Oliver.
"Bohong!"
"Kau tidak percaya? Tanya saja dengan bibi Mercedez yang sudah lama bekerja di Villa atau Antonio yang bekerja sebagai mandor, mereka berdua berada di perkebunan ini sejak kedua orang tua ku masih hidup".
"Termasuk Claudia?", Tanya Olivia masih sangsi atas penjelasan suaminya.
"Ya tentu saja. Apa kau lupa waktu pertama aku menikahi mu, bahkan kau asing bagi ku. Aku belum memiliki perasaan apapun padamu, karena yang aku rasakan hanya mencintai Claudia. Apa pernah kau melihat aku membawa wanita itu ke mansion. Atau wanita lainnya? Tidak pernah kan?"
Olivia terdiam. Ia melangkahkan kakinya duduk di tepi tempat tidur dan berpikir sejenak, menelaah setiap kata yang terucap dari mulut suaminya. Memang benar sejak ia menjadi istri Oliver tak sekalipun laki-laki itu membawa wanita lain ke rumahnya. Meskipun kala itu mereka masih tidur terpisah. Namun Oliv tidak pernah melihat kedatangan wanita lain termasuk Claudia yang saat itu menjadi orang terdekat Oliver. Meskipun Oliver bisa saja membawa wanita itu kerumahnya karena pernikahan mereka hanya di atas kertas saja meskipun resmi dan di akui negara.
"Saat itu kau dan Claudia sepasang kekasih, kenapa kau tidak pernah membawanya ke rumah mu?"
"Entahlah. Selain masalah prinsip, aku juga bingung. Mulutku selalu ingin menyakiti mu, tapi tidak dengan hati ku. Bahkan saat kau pergi wanita itu langsung memintaku agar tinggal bersama ku namun dengan tegas aku menolaknya".
Oliver mendekati Olivia yang tak bergeming di tempatnya. Tangan Oli mengusap lembut wajah istrinya. "Kau tahu kenapa? Karena yang berhak berada di rumah ku hanya kau, Oliv. Tidak ada wanita mana pun yang berhak selain diri mu", ucap Oliver bersungguh-sungguh.
Perlahan Olivia mengangkat wajahnya menatap manik hitam Oliver. Olivia tahu ada kejujuran di sana. Seketika perasaannya bergemuruh, melompat kegirangan dan bahagia.
Senyum lebar tersungging di wajah cantik itu. "Satu sama. Aku puas membalas mu, tuan Oliver", ucapnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Oh my God Olivia, aku pikir kau benar-benar marah pada ku".
Oliver mendudukkan tubuhnya di samping Olivia yang tertawa terbahak-bahak. Oliver mengusap wajah.
"Kau sekarang berani mempermainkan suami mu, ya!"
Tanpa ampun Oliver menarik tengkuk Olivia, menyatukan bibirnya. Dengan rakus ia melahap habis bibir ranum istrinya, saking liarnya ciuman Oli membuat Olivia ngos-ngosan dengan nafas menderu. Tubuhnya terlentang, sementara tangan Oliver bergerilya kemana-mana.
"Akh, Oli..."
"Kau memang layak di hukum. Sebenarnya aku akan menjawab pertanyaan mu malam nanti. Namun kau mendesak ku. Baiklah sekarang juga tidak apa-apa. Bukankah semakin cepat semakin baik", ucap Oliver membuka satu persatu kancing dress yang di pakai istrinya.
Olivia memejamkan mata, sambil menggigit bibir bawahnya ketika merasakan mulut Oliver mengulum puncak gunung kembar milik nya dengan penuh hasrat.
De*ahan lolos dari mulut Olivia. Oliver tersenyum mendengarnya.
"Ah sayang.."
"Wait!"
Olivia berusaha untuk bangun, namun Oliver melarangnya. Laki-laki itu enggan menghentikan pekerjaannya.
"Sayang bukankan kau akan melihat para petani panen".
"Aku sedang sibuk!".
...***...
__ADS_1
Next balas dendam Elara. Ayo apa yang akan di lakukan Ela ada yg tahu nggak?