ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Sinar matahari mulai meredup menuju sore hari. Angin berhembus sangat kencang. Menjelang sore hari perkebunan terasa sangat dingin hingga menusuk tulang.


Elara berjalan perlahan keluar kamar. Sejak sampai tadi pagi ia langsung mengurung diri di kamar masa kecilnya. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua rasa yang saat ini melandanya. Perasaan sedih dan merindu yang begitu dalam.


Sweater berwarna putih tebal membalut tubuh ramping Elara. Tak ketinggalan gadis itu menggunakan topi rajut tebal agar tubuhnya tetap hangat. Elara mendekap tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.


Suasana villa terasa sepi. Hanya terlihat seorang pelayan nampak masih beberes dengan pekerjaannya. Sementara dari kejauhan para petani masih bekerja di ladang bunga matahari yang terhampar luas membentang. Elara bisa melihat kesibukan pekerja-pekerja itu dari tempatnya.


Seketika perasaan sepi itu datang lagi. Hampa begitu terasa melingkupi sanubari Elara saat ini. Bahkan Ela merasakan kesepian teramat sangat melebihi dari sebelumnya.


Berjam-jam Ela mengendarai mobilnya menuju desa Collin, tempat di mana ia dan keluarganya menghabiskan masa kecil. Ia memilih perkebunan milik keluarganya saat ini untuk menenangkan diri setelah mengalami malam yang berat.


Terlihat Elara menghembuskan nafasnya dalam-dalam, sejenak memejamkan mata. Menghirup udara segar di sekitarnya.


Elara melangkahkan kakinya perlahan, menuju danau yang berada tepat di samping villa. Gadis itu duduk seorang diri di kursi panjang sambil menatap hamparan air tenang di hadapannya. Sisa sinar matahari sore memantul dari riak danau yang tenang.


Tiba-tiba Elara terisak dengan sendirinya. Jemari tangannya menutup wajahnya. Tangisan kembali pecah.


Beberapa saat kemudian..


"Nona Elara, lihatlah siapa yang datang ingin bertemu nona".


Suara pelayan yang sudah lama bekerja dengan keluarga Lucifer membuyarkan lamunan Elara.


"Maxxie..?", batin Elara. Hanya laki-laki itu yang di butuhkan Ela saat ini. Tapi rasanya tidak mungkin Max akan datang, mengingat semalam laki-laki itu mengusirnya.


Ela mengusap air matanya dan menolehkan wajah. Ia tak bergeming dari tempatnya menatap sosok yang berdiri di belakangnya.


Yang ada dalam pikirannya benar. Ia bukan Maxxie. Justru laki-laki yang tidak diharapkan yang datang menemuinya.


"Kenapa kau kemari. Pergi lah!"

__ADS_1


"Bibi Bertha, terimakasih mengantar ku. Aku harus bicara pada Ela sekarang".


Bertha menyadari hubungan keduanya tidak baik-baik saja. Bertha merasa bersalah. "Maafkan saya non. Saya pikir nona sedang menunggu kedatangan tuan Elland", ujar Bertha memberikan alasan. Karena yang ia tahu keduanya sangat dekat. Yang ia tahu anak majikan nya itu selalu bahagia ketika bertemu Elland.


"Jika nona membutuhkan saya, saya ada di pantry", ucap pelayan paruh baya tersebut berlalu.


*


Waktu yang di tempuh terasa panjang sekali. Max menatap keluar jendela, pandangan matanya jauh ke depan dengan pikiran harap-harap cemas.


Sejujurnya Max mulai kuatir pada Elara. Bagaimana jika Ela tidak ada di tempat yang akan ia tuju sekarang. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Karena amarah sesaat yang menguasai dirinya semalam, membuat wanita yang di cintainya pergi.


"Huhh.."


"Bill, berapa lama lagi kita sampai? Kenapa lama sekali".


"Sekitar lima belas menit lagi tuan. Beberapa saat lagi kita memasuki kota kecil yang sangat indah di pinggiran kota Dallas", jawab Billy yang memang berasal dari Dallas. Ia sangat paham daerah-daerah di sana.


Manik hitam Maxxie menatap hamparan bunga matahari yang sedang bermekaran di ladang yang di lalui mobil mereka. Ia tahu kawasan itu memang banyak petani sun flower.


"Sangat indah sekali", gumam Maxxie menatap kagum ladang-ladang yang di lalui.


"Kawasan ini memang perkebunan bunga matahari, tuan. Sepertinya keluarga Lucifer salah satu pemilik perkebunan bunga matahari yang terluas di daerah sini", jawab Bill sambil memperlihatkan foto perkebunan bunga matahari yang sangat indah sekali.


Maxxie memperhatikan satu persatu gambar melalui iPad milik asistennya itu. Ia tidak tahu bahwa keluarga Lucifer memiliki perkebunan indah dan arena pacuan kuda juga.


Maxxie memang belum lama mengenal Oliver dan Elara. Ela juga selama bersamanya tidak banyak menceritakan keluarganya, ia hanya bercerita sebagian saja. Dan Max juga tidak menanyakan lebih jauh tentang kehidupan pribadi Ela dan keluarganya.


"Kita sudah sampai tuan. Kita sudah memasuki perkebunan milik keluarga nona Elara", ucap Bill sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.

__ADS_1


Bill memberi perintah pada Andy sang sopir agar berhenti. Billy turun dari mobil ketika penjaga di gerbang utama menghampiri mobil mereka. Beruntungnya para penjaga itu sudah mendapatkan perintah langsung dari pemilik perkebunan tempat mereka bekerja untuk menerima kedatangan Maxxie dan orang-orangnya.


"Bagaimana Bill?", tanya Maxxie sesaat asisten nya itu masuk ke dalam mobil kembali.


"Sekarang tuan tidak perlu kuatir lagi, menurut mereka nona Elara ada di sini sejak beberapa jam yang lalu, tuan", jawab Bill tersenyum.


"Huhh.."


Maxxie mengusap wajahnya. Perasaannya langsung menghangat. Ia sangat bahagia mendengar Elara ada di perkebunan milik keluarganya ini.


"Andy...tambah kecepatan mobil ini, kenapa lambat sekali. Perkebunan ini sangat luas, aku sudah tidak sabar menemui tunangan ku".


"Baik tuan". Andy menambah kecepatan laju mobil yang di kendarai nya. Ia dan Bill bertukar pandang sesaat sambil tersenyum. Keduanya ikut senang melihat bos-nya bahagia seperti itu.


"Itu Villa nya, tuan". Billy menunjuk ke sisi sebelah kanan. Terlihat bangunan megah berdiri di lahan yang sangat luas.


Tak lama, mobil yang dikendarai Andy berhenti sempurna. Tanpa menunggu lama Maxxie berjalan cepat menuju pintu masuk. Ia berjumpa dengan seorang pelayan muda yang masih memegang telepon wireless, menatap kaget Maxxie yang tiba-tiba sudah datang dan berdiri di depan pintu masuk.


"T-uan–"


"Dimana tunangan ku, Elara?"


"Ehm...N-ona muda ada di danau", jawab pelayan itu gelagapan sambil menunjuk arah pintu samping. Ia tidak berani mencegah karena baru saja menerima perintah pemilik perkebunan ini, tuan Oliver yang memerintahkan langsung agar para pekerja villa menerima Maxxie tunangan adiknya yang akan datang.


Tanpa menunda, Max segera melangkahkan kakinya menuju pintu yang di tunjuk pelayan itu. Ketika sampai di luar manik hitamnya langsung menangkap sosok wanita yang sangat di rindukan nya. Elara.


Senyum bahagia tersungging di bibirnya.


Namun hanya sesaat saja. Senyuman itu berganti desis amarah yang tertahan melihat saat ini Elara tidak sendirian. "Ternyata mereka masih berhubungan erat".


Ela bersama Elland duduk berdampingan di kursi, membelakangi Maxxie. Keduanya tidak menyadari kedatangan Max.

__ADS_1


Kedua tangan Maxxie terkepal erat. Sekuat tenaga menahan diri agar Ela dan Elland tidak mengetahui kehadirannya. Perlahan Max melangkah mendekati dan berdiam di balik pohon oak berukuran besar yang berdiri kokoh di samping kursi besi panjang tempat duduk Ela dan Elland. Max ingin tahu apa yang sedang keduanya bicarakan. "Apa Ela yang menghubungi Elland agar datang menemuinya?", batin Maxxie bertanya-tanya.


...***...


__ADS_2