
Elara menghentikan langkah kakinya dan menahan tangan Maxxie.
"Ada apa?"
"Lihatlah taman itu indah sekali", ucap Ela sambil menunjuk sebuah taman kota yang banyak di habiskan warga kota sebagai tempat bersantai maupun sekedar menikmati keindahan malam kota Wina sambil menikmati street food yang berjejer rapi di pinggir taman.
"Kau mau ke sana?".
Cepat-cepat Ela menganggukkan kepalanya. Tanpa menunggu jawaban Max, Ela menarik tangan Maxxie. "Tentu saja aku mau sayang".
Max hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya seperti gadis belia saja. Berlarian seperti itu.
"Aku ingin mencicipi street food nya juga".
"No Ela. Kali ini aku tidak mengizinkannya, nanti kau sakit perut membeli makanan sembarang begitu".
"Huh kau ini selalu saja melarang ku. Tidak boleh begini tidak boleh begitu. Lantas apa yang boleh aku lakukan?", Seru Ela kesal dengan wajah cemberut.
Max tersenyum mendengar komplain istrinya. Cepat-cepat ia menarik pinggang Elara, merapatkan tubuh Ela padanya lalu membingkai wajah cantik Ela. "Dan kau akhir-akhir ini cepat sekali marah. tapi aku suka melihat mu dengan wajah kesal begitu. Kau semakin cantik".
"Jangan menggoda ku", seru Ela sambil memukul dada bidang Maxxie.
"Yang ini boleh kau lakukan kapan pun. Aku tidak akan melarang mu".
Jemari tangan Max menarik tengkuk Elara. Menyatukan bibirnya pada bibir ranum istrinya. Sesaat Ela melototkan matanya. Hanya sesaat saja. selanjutnya perlahan Ela membuka mulutnya membalas lu*atan itu. Hingga terdengar teriakan kegirangan dari beberapa orang yang ada di taman.
Elara menghentikan ciuman dan menatap sekeliling. Ia mendongakkan kepalanya sambil merentangkan kedua tangannya. Wajah Ela nampak berseri-seri.
__ADS_1
"Salju. Sayang lihatlah salju pertama tahun ini telah turun", teriak Ela tertawa bahagia melompat kegirangan layaknya anak kecil.
Maxxie bernafas lega, ia pun mendongakkan wajahnya menatap ke atas.
"Ahh sayang akhirnya". Max menghampiri Ela, menarik tengkuk istrinya yang tertutup syal tebal sebagai penghangat tubuh. Laki-laki itu me*umat lembut bibir istrinya hingga dalam, bahkan lidahnya menyapu langit-langit rongga mulut Elara.
Ela yang diperlakukan dengan spontan seperti itu tentu saja kaget melihat tingkah suaminya, ia tidak siap menerima serangan Maxxie begitu intens. Apalagi sekarang mereka berada di tempat umum. Namun Ela tidak bisa menolaknya. Ia menyadari bahwa salju yang di harapkan Maxxie benar-benar turun dikala mereka sedang berada di taman kota. Seperti sebuah anugerah.
Bahkan semua pasangan berciuman mesra, yang datang bersama keluarga anak-anak mereka pun berpelukan erat. Ternyata turun nya salju pertama bukan hanya Maxxie dan Ela yang menantikan nya. Namun di nantikan oleh semua orang.
"Sayang, salju pertama benar-benar turun sekarang", teriak Elara sambil tertawa dan melingkarkan tangannya pada leher Maxxie.
Sementara Max mengabadikan moment-moment bahagia itu dalam sebuah foto dan video.
Kini Ela naik ke punggung suaminya sambil tersenyum bahagia. Maxxie meminta seseorang untuk mengambil gambar mereka yang begitu menikmati suasana romantis tersebut.
"Ayo kita kembali ke hotel, nanti kita bisa mengalami penurunan suhu tubuh secara drastis jika lama-lama di luar saat salju sudah turun begini", ucap Maxxie sambil memeluk tubuh istrinya.
Maxxie dan Elara hanya butuh waktu singkat untuk sampai di hotel mereka menginap selama berada di kota Wina.
"Ayo segera bersihkan tubuh mu dan ganti pakaian mu dengan pakaian hangat".
"Iya". Tanpa menunda Elara masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya yang terasa lembab dengan sweater tebal. Saat menatap cermin terlihat wajahnya yang sudah memutih karena dinginnya cuaca di luar. Benar kata suaminya, akan sangat berbahaya jika berlama-lama di alam terbuka saat salju turun apalagi di waktu malam.
Beberapa saat berlalu...
Ela sudah selesai membersihkan tubuhnya dan berganti dengan pakaian hangat. Max masuk kedalam kamar dengan nampan berisi minuman dan cemilan.
__ADS_1
"Minum lah. Aku memesan Vanila latte panas untuk menghangatkan tubuh mu", ucap Max saat melihat istrinya sudah keluar kamar mandi.
Elara langsung mencecap minuman itu, berasa sangat pas untuk tubuhnya yang kedinginan seperti sekarang.
"Kau juga harus mengganti pakaian lembab itu, aku sudah menyiapkan pakaian mu".
"Hem..."
Tanpa sungkan Maxxie langsung saja membuka pakaiannya dihadapan istrinya "Kemari, ambilkan pakaian ku itu", ucapnya yang sudah membuka semua pakaiannya. Yang tersisa hanya boxer berwarna hitam dengan inti yang menegang.
Seakan terhipnotis, Elara mendekati pahatan sempurna tubuh maskulin Max. Bukannya langsung memberikan pakaian namun Ela malah terdiam mengatur nafasnya hingga menelan saliva nya sendiri.
"Sayang, mana baju ku, aku kedinginan", ujar Maxxie menyadarkan lamunan istrinya yang tak bergeming dihadapan nya. Malahan meremas pakaian yang ada di genggamannya.
Seakan tahu apa yang ada di pikiran Elara saat ini Maxxie menarik pinggang istrinya. "Kenapa kau diam saja, apa kau menginginkan kita saling menghangatkan tubuh sekarang, hem?"
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Maxxie mencium lembut bibir Ela dengan liar. Membuat Elara tersengal-sengal. "Kalau kau menginginkan suami mu, kau tidak perlu sungkan mengatakannya aku juga sangat menginginkan mu", bisik Maxxie menyelusup kan jemari tangannya dari bagian bawah sweater rajut yang dipakai Elara. Perlahan merambat naik ke atas hingga menyentuh gundukan kenyal Ela yang sudah mengeras sempurna. jemari-jemari tangan Max meremas dada dan mengecup leher jenjang Elara.
"Akh–".
"I-ya sayang, A-ku... a-kuu menginginkan mu", lirih Elara pelan nyaris tak terdengar.
Maxxie tersenyum mendengarnya. "Memang itu gunanya kita honeymoon. Bercinta dengan intens agar kau cepat hamil", bisik Maxxie sambil menyapukan lidahnya di sepanjang leher Ela. Tubuh Elara bergetar hebat menahan gairah yang sudah menguasai nya.
Hingga terjadilah pergumulan panas di sepanjang malam. Bergantian memimpin pertarungan hingga keduanya terlelap dalam kondisi kelelahan di kamar presidential suite room di kota Wina yang menjadi saksi bisu betapa liarnya percintaan panas kedua pasangan suami-istri itu.
...***...
__ADS_1
To be continue