
Mobil yang di kendarai sopir Max memasuki kawasan salah satu hotel mewah yang ada di kota Houston.
Netra Elara melebar saat menyadari mobil Max memasuki kawasan hotel itu, tiba-tiba perasaannya tidak enak. Jantung nya pun berdegup kencang. Tidak bisa di pungkiri kedua iris hitam Elara menatap lekat bangunan mega yang berdiri kokoh, nampak jelas di depannya.
Ela merasakan kepalanya mendadak pusing. Gadis itu spontan memijat kening. Tingkah Elara tak luput dari perhatian Maxxie.
"Ada apa dengan mu, Ela? Apa kau baik-baik saja? Atau kamu sedang sakit? Aku perhatikan sejak kita pergi tadi wajah mu pucat dan kau lebih banyak diam Ela", ujar Maxxie menatap lekat Elara yang masih memijat keningnya.
"Atau kita pulang saja kalau kau merasa tidak enak badan. Bagaimana?"
Ela mengangkat wajahnya membalas tatapan Maxxie. "Tapi undangan teman mu? Kata mu yang mengundang mu adalah teman baik mu dan kalian sudah lama tidak bertemu".
"Tidak masalah, Elland pasti mengerti. Kami bisa bertemu kapan pun karena dia akan menetap di kota ini juga".
"E-lland?"
Ela menghela nafasnya. Seketika merasakan tubuhnya lemas. Sementara jantungnya kian berdebar-debar. Jika saja Maxxie memeluknya saat ini bisa saja laki-laki itu mendengar detak jantung Ela yang kian berdetak cepat.
"Iya. Elland teman ku itu pemilik hotel ini. Selama ini ia tinggal di Amsterdam. Sejak tiga minggu yang lalu ia memutuskan kembali ke Houston dan memegang kendali perusahaan orangtuanya. Kami akrab saat kuliah di jurusan yang sama. Setelah tamat kuliah, ia memilih kota Amsterdam sebagai tempat tinggal nya dan melanjutkan pendidikan master di sana".
Mendengar perkataan Maxxie, semakin membuat kepala Ela berdenyut-denyut seperti ditusuk duri yang tajam sekali. Bahkan gadis itu tidak bisa menahan sakitnya lagi. Mulutnya mengeluarkan suara meringis. Sementara kepalanya bersandar di jok mobil. Elara mengatur nafasnya yang kian menderu.
"Kamu kenapa Elara? Apa kau benar-benar sakit?", tanya Maxxie sedikit panik. Ia merasa kening dan pipi Ela. "Dave sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!"
"Baik tuan.."
"Antar aku pulang saja. Yang aku butuhkan hanya beristirahat. Aku hanya kelelahan. Kemarin pesawat yang aku tumpangi delay cukup lama. Sampai aku bosan menunggu keberangkatan", ucap Ela pelan sedikit lirih. Sekuat tenaga ia menutupi perasaan yang sebenarnya ia rasakan.
"Sayang jangan anggap remeh keluhan yang kau rasakan, jika kau sakit sebaiknya kita periksakan diri mu ke dokter sekarang. Aku tidak mau ada apa-apa dengan mu", ucap Maxxie kuatir melihat kondisi kekasihnya itu.
"Aku tidak apa-apa Max. Hm... Bagaimana kalau kau tetap menemui teman-teman mu di dalam, sementara Dave mengantar ku pulang?"
__ADS_1
"No Ela. Tentu saja aku akan menemanimu. Bukan hal penting juga berkumpul dengan teman-teman ku, besok-besok aku bisa menemui mereka. Kau yang paling penting bagiku, Ela", jawab Maxxie sambil membawa Elara kedalam dekapannya sambil mengecup pucuk kepala kekasihnya itu.
Sungguh penuturan Maxxie membuat kedua mata Ela berkaca-kaca. Gadis itu kian membenamkan wajahnya yang nampak sendu pada dada bidang Maxxie.
Jika saja saat ini ia sendirian mungkin air mata Elara akan tumpah tak terbendung lagi, namun sekarang ia bersama Max. Elara hanya bisa menenangkan dirinya sendiri. Setenang mungkin. Agar tidak ada yang tahu tentang perasaan nya.
"Terimakasih, Max".
Selanjutnya hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Sesaat Elara memejamkan matanya. Menit berikutnya gadis itu kembali membuka mata. Sementara jemari tangannya memainkan kancing-kancing kemeja hitam yang di pakai Maxxie.
"Max...sepertinya besok aku harus kembali ke New York. Ak–"
"Hei kenapa begitu, hem? Bukankan kau yang membuat aturan, kita akan bergantian saling mengunjungi dan minggu ini kau akan menghabiskan weekend bersama ku di sini", ucap Max sambil mengangkat dagu Ela agar menatapnya. Max juga menekan tombol sekat agar memiliki privasi dari Dave sopir nya.
Elara menatap manik Maxxie dengan sorot mata masih terlihat sendu seperti menyimpan berjuta beban yang sedang menghimpitnya.
Maxxie menyadari perubahan Elara. Tidak seperti biasanya. "Sayang ada apa dengan mu? Kenapa kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. Ingat Ela aku paling tidak suka jika ada yang kau rahasiakan dari ku", ucap Maxxie serius menatap Elara.
"Aku tidak apa-apa, tapi aku lupa besok malam aku harus menghadiri pertunjukan balet salah satu siswa ku. Aku sudah janji padanya untuk hadir di pementasan pertama nya ini", jawab Elara sambil menundukkan kepalanya. Berusaha mengalihkan perhatian Maxxie. Ela tidak mau Max mengetahui isi hati nya yang sedang berkecamuk.
"Jadi kau lebih mementingkan siswa mu di bandingkan kekasih mu sendiri? Kau tetap di sini bersama ku, Ela. Kau akan kembali ke New York bersama ku seperti rencana semula. Tidak ada alasan lagi, hem?", ucap Maxxie dengan lembut. Jemari tangannya mengusap wajah Elara.
Manik hitam Maxxie menatap penuh cinta kekasihnya itu. "Apa kau tidak merindukan kekasih mu?", ucap Maxxie mendekatkan bibirnya pada bibir seksi Elara yang terbuka.
Elara memejamkan kedua matanya ketika merasakan lu*atan lembut di bibirnya.
Maxxie tidak menyia-nyiakan kesempatan begitu Elara melingkarkan tangannya pada lehernya. Keduanya berciuman mesra saling menjelajah hingga jauh.
Penyatuan itu terhenti ketika handphone milik Maxxie berbunyi.
"Shitt.."
__ADS_1
Max mengumpat sambil mengambil handphone miliknya di sisi pintu mobil. Sementara Ela masih mengatur nafasnya yang menderu.
Maxxie menggeser tombol hijau menerima panggilan telepon tersebut.
*Dude kenapa kau tidak datang. Kau di tunggu teman-teman yang lain juga. Apa kau sudah tidak mau berkumpul dengan teman-teman mu lagi, Maxxie?*
"Huhh .."
Terdengar hembusan nafas Maxxie.
"Bukankah aku sudah mengirimi mu pesan. Aku tidak bisa datang karena kekasih ku mendadak tidak enak badan. Aku harus mengantarnya pulang. Aku janji lain waktu akan mengenalkan kalian semua dengan kekasih ku", jawab Maxxie.
*Well...aku tunggu janjimu itu dude*
Menit berikutnya Max menaruh kembali handphone miliknya di tempat semula.
Max mengalihkan perhatiannya pada Ela yang menatap keluar jendela. Maxxie tidak mengetahui bahwa sedari tadi saat terdengar suara Elland di ujung telpon membuat Elara beringsut menjauh dengan pikiran tak karuan. Bahkan kedua mata Elara memanas begitu tahu siapa yang menghubungi Maxxie.
Max mendekap tubuh Ela. Ela pun membalasnya, menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Max sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang laki-laki itu.
"Maxxie, aku ingin kita mengikat hubungan kita. Aku ingin kita bertunangan–"
Maxxie yang sedang mengecup puncak kepala Ela seketika terdiam. Permintaan Ela membuatnya kaget.
"Kau serius dengan ucapan mu Ela?", tanya Maxxie sambil memegang kedua bahu Ela, menatap intens wajah kekasihnya itu.
Ela menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Iya. Aku yakin", jawabnya dengan suara bergetar.
Bagai di guyur air hujan di tanah yang tandus, Maxxie tersenyum bahagia. Sejujurnya itulah yang akan ia lakukan pada Elara. Melamar gadis itu di akhir minggu ini. Siapa sangka ternyata Ela mengutarakan keinginannya duluan padanya.
...***...
__ADS_1
To be continue
Ayo, udah ada yg tahu belum siapa si Elland ini bagi Ela?