
"Max...hentikan!", Ucap Oliver melangkah cepat mendekati Maxxie dan Elland yang masih bersitegang. Oliver sempat melihat Max memukul Elland dengan tangan kosong meskipun sudah banyak yang melerai keduanya.
"Aku tidak peduli pada mu Max. Sampai kapanpun Elara milikku! Kalau kau mau tahu yang sebenarnya, karena Elara lah aku kembali ke kota ini", seru Elland sambil memegang wajahnya yang terlihat memerah dan ujung bibirnya mengeluarkan darah kena bogem mentah yang di berikan Maxxie.
Perkataan Elland semakin membuat amarah Maxxie membuncah, seketika membuatnya kembali naik pitam lagi. "Bajingan kau, brengsek!"
"Apa-apaan kalian berdua ini, berkelahi di tempat umum begini. Apa kalian tidak malu di lihat semua orang di sini", bentak Oliver.
Sementara Javier dan keamanan perusahaan membubarkan kerumunan orang-orang yang ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya di sana.
Sebagian besar dari mereka adalah karyawan Lucifer yang artinya anak buah Oliver. Sebagian lagi tamu yang datang ke sana karena suatu urusan pekerjaan.
Melihat pemilik perusahaan langsung yang memisahkan pertengkaran itu, orang-orang langsung membubarkan diri mengikuti perintah Javier. Tentu saja mereka tidak mau mengambil resiko pekerjaan mereka di perusahaan tersebut.
*
"Karena bajingan brengsek ini hubungan ku dan Elara terancam. Kau harus membantu ku Oli, di mana tunangan ku? Semalaman aku menunggu di apartemen, tapi Elara tidak pulang ke sana. Aku yakin kau tahu di mana Ela", ujar Maxxie masih dengan amarah yang menguasai dirinya.
Saat ini ketiganya sudah berada di ruang kerja Oliver, namun Maxxie dan Elland masih saling menghunuskan tatapan tajam penuh kebencian.
__ADS_1
"Kau tidak perlu memberi tahu keberadaan Ela padanya Oli. Elara bersamanya bukanlah jaminan adikmu akan bahagia. Apa yang kau harapkan dari laki-laki yang belum move on dari masa lalu nya atas kematian istrinya. Maxxie masih berduka dengan kepergian istri nya meskipun peristiwa itu sudah lama berlalu. Bahkan hingga kini, ia masih menangis di pusara orang yang sudah lama mati. Laki-laki ini akan membuat Elara menderita", ketus Elland mengebu-gebu.
"Brengsek kau!"
Maxxie tidak bisa lagi mengontrol emosinya, laki-laki itu spontan melemparkan pajangan yang ada di hadapannya pada Elland yang dengan sigap menangkap pajangan itu sebelum mengenai wajahnya.
"Lihatlah apa kau mau memiliki ipar seperti dia, temperamen. Sementara kita sudah berteman sedari kecil Oli. Keluarga kita sudah berteman lama".
"Tutup mulutmu itu Ellando, atau kau akan menyesal dilahirkan ke dunia ini! Kau sudah berani membohongi ku selama ini. Kau bukan sahabat ku lagi sejak kau berani menyentuh adikku dan meninggalkan nya dalam keadaan hamil anak mu. Kau itu sungguh memalukan, seorang laki-laki pengecut yang tidak bertanggung jawab. Jangan harap Elara mau bersama mu lagi bajingan. Beruntung aku tidak menjebloskan mu ke penjara, karena persahabatan orang tua kita", ketus Oliver sembari
"Sekarang tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan! Kau sudah mengkhianati kepercayaan ku dan keluargaku pada mu. Pergilah sebelum orang-orang ku mengusir mu. Aku ingatkan...ini terakhir kalinya kau menampakkan diri mu di hadapan ku!", ucap Oliver dengan tegas.
"Dengarkan aku dulu Oli. Tentu saja aku tidak akan kemana-mana. Kita harus bicara teman. Aku dan Elara saling mencintai sejak lama, aku pergi karena keinginan daddy. Kau tahu kan bagaimana daddy jika telah memutuskan sesuatu".
"Ia ingin agar aku kuliah di tempat yang sama dengannya. Dan saat mengetahui Ela hamil, benar-benar membuatku bingung. Aku masih sangat muda saat itu, aku belum siap menjadi seorang ayah. Mengerti lah teman. Tapi sekarang aku sudah memutuskan. Aku ingin bersama Elara, wanita yang aku cintai dan menjadi cinta pertama ku", ucap Elland bersungguh-sungguh.
Mendengar perkataan laki-laki itu, Maxxie langsung mengepalkan jemari tangannya, sementara wajahnya menggelap menahan emosi dalam dirinya yang kembali menguasai nya.
"Alasan mu sudah terlambat. Tidak ada lagi gunanya kau jabarkan di sini. Kau sudah menyakiti adik ku, apapun alasan mu di balik itu semua kau tetap seorang pecundang yang egois. Ela sudah menceritakan semuanya pada ku. Adikku sudah lama melupakan mu. Dan ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun lagi pada mu".
__ADS_1
"Aku ingatkan pada mu Ellando, jangan mengusik kehidupan Elara lagi. Elara bukan lagi gadis belia yang rapuh seperti dulu. Sekarang ia wanita kuat dan akan selalu mendapatkan dukungan dari ku dan Maxxie. Laki-laki yang sangat di cintainya saat ini!", Tegas Oliver sembari menghunuskan tatapan tajam pada Elland yang terdiam.
Sementara, mendengar perkataan Oliver membuat perasaan Maxxie menghangat. Sembari menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh arti. Max tersenyum sinis melihat perubahan raut wajah Elland yang terlihat tegang.
Tok
Tok
"Masuk!"
Terlihat Javier yang membuka pintu. "Maaf tuan mengganggu, nona Elara tidak ada di apartemen nya. Menurut keamanan di sana, sejak senja kemarin nona Elara pergi dan belum kembali hingga kini".
Seketika Maxxie berdiri dari tempatnya. "Oliver...jadi kau juga tidak tahu keberadaan Ela?"
"Tentu saja aku tidak tahu", jawab Oliver cepat.
Jawaban Oliver membuat Maxxie terdiam sejenak. Tiba-tiba perasaannya tidak enak dan perasaan bersalah langsung menghinggapinya.
"Di mana kau sayang?"
__ADS_1
...***...