
Di lantai dua tepatnya di sebuah kamar mewah lainnya Elara meringkus sambil terisak-isak.
"Demi Tuhan Ela, Casandra itu bukan wanita mana pun tapi seekor kuda kecil yang baru dilahirkan induknya perkebunan mu ini. Tidak mungkin kau cemburu pada seekor kuda sayang".
"Sial. Kalau tahu seperti ini jadinya aku tidak akan mengikuti ide Oliver. Benar-benar konyol". Maxxie menggerutu kesal.
"Mau itu anak kuda atau bukan kau tega sekali mengolok-olok istri mu. Membuat aku sedih seperti ini. Huhh...Huhh".
Elara terisak. Terdengar begitu pilu.
"Maafkan aku sayang. Sekarang bagai mana caranya menebus kesalahanku, hem?".
Max duduk ditepi tempat tidur sambil mengusap lembut punggung istrinya yang masih meringkuk sambil menangis.
"Ah Elara, baru kali ini kau menangis begini. Aku harus bagaimana?", gumam Maxxie.
Tiba-tiba Elara merubah posisi tidurnya terlentang sambil memijat-mijat keningnya. "Akh..."
"Ela, ada apa? Apa kau sakit sayang?", tanya Maxxie melihat perubahan istrinya.
"Kepala ku pusing. Kau yang membuatku seperti ini", jawab Ela sambil meringis. Detik kemudian terdengar suara melenguh dari bibir Ela, seperti orang yang sedang menggigil karena demam.
Melihat istrinya seperti itu tentu saja Maxxie semakin panik. Dan meraba kening istrinya. Tubuh Elara normal saja tidak hangat atau pun berkeringat sama sekali. Namun melihat Ela semakin meringis semakin membuat Maxxie kuatir akan kondisi istri nya.
"Kau harus di periksa dokter".
"T-idak perlu. Aku mau minum", ucap Elara dengan suara bergetar.
Cepat-cepat Maxxie menuang minuman dan membantu Elara untuk duduk bersandar di punggung tempat tidur. Membantu Ela memegang gelas air.
"Ada apa dengan mu sayang. Kalau karena menggoda mu tentang anak kuda itu maafkan aku. Aku mohon jangan sakit. Tenang kan diri mu. Sekarang sebaiknya kamu istirahat saja, aku akan menemui Billy di bawah yang baru tiba.
Elara menganggukkan kepalanya. Dengan bantuan Maxxie ia kembali rebahan. Max menarik selimut menutupi sebagian tubuh istrinya.
Ketika Maxxie hendak beranjak, tangan Ela menahannya. "Aku tidak mau kamu memanggil dokter. Sebentar lagi juga sakit ku akan hilang. Aku hanya syok saja karena kau begitu tega mempermainkan ku".
__ADS_1
Max tersenyum mendengarnya. Max mendekatkan wajahnya mengecup kening istrinya sembari mengusap wajah Elara. "Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Semuanya ide kakak mu, Ela", sanggah Maxxie.
"Kau dan Oli sama saja. Kalian kompak sekali".
Max tersenyum. "Sekarang pejamkan mata mu, istirahat lah. Aku meminta pelayan membawakan makan malam kita di kamar saja. Nanti aku bilang dengan Oli dan Oliv kau kurang enak badan".
Elara menganggukkan kepalanya sembari memejamkan kedua matanya.
*
Senja baru saja berganti malam.
Elara duduk bersandar di atas tempat tidur. Setelah makan malam, ia masih nyaman berada di atas pembaringan.
Tok..
Tok..
"Masuk!"
Nampak Olivia yang membuka pintu, ia menatap Ela. "Ela...kamu sakit?"
"Oh my God Ela, kau membuatku kuatir. Lihatlah aku sampai menaiki tangga untuk melihat mu. Oliver dan Maxxie masih berada di ruang kerja".
Olivia duduk juga di tepi tempat tidur. "Kau nekat sekali sampai bersandiwara seperti ini. Kalau aku hanya memberikan hukuman kecil saja pada Oli".
"Ckck...hukuman kecil yang berakhir di atas tempat tidur?", ledek Elara.
Olivia melebarkan kedua matanya.
"Kau tidak bisa mengelak. Leher mu merah semua begitu, semua orang pasti tahu kalian sehabis bercinta yang sangat panas dan liar", seloroh Elara tertawa melihat wajah Olivia yang langsung merona begitu.
"Ya ampun kenapa aku tidak memperhatikannya. Aku malu sekali, Ela. Huhh Oli suka sekali membuat cap begini", gerutu Olivia sembari mengusap lehernya yang banyak tanda merah.
*
__ADS_1
Fajar baru saja menyingsing. Terdengar kicau burung dari luar jendela.
Elara menggerjap-ngerjap kan matanya yang masih terasa berat. Ia meringis.
"Owh, kenapa kepala ku pusing". Gumamnya dengan lirih.
Elara merasakan perutnya terasa berat sekali karena tangan Maxxie yang masih terlelap melingkar di atas perut nya. Cepat-cepat Ela memindahkan tangan itu. Ia merasakan mual. Ela hendak bangkit, namum belum sempurna berdiri tubuhnya limbung kembali terduduk di atas tempat tidur yang menyebabkan guncangan.
Max membuka matanya melihat istrinya menahan sakit. Memijat keningnya dan menekan pembagian bawah perutnya.
"Ela...ada apa. Kamu masih sakit?"
Max sigap melompat turun dan memegangi bahu Elara. Maxxie menatap wajah istrinya sangat pucat sekali.
"Sayang ada apa dengan mu?"
Tidak ada jawaban Ela. Yang terdengar hanya nafas Elara yang kian menderu.
Max merasakan suhu tubuh istrinya sangat panas. Max membantu Ela untuk minum. Kemudian Maxxie merebahkan kembali tubuh itu. "Kau harus di periksa dokter sayang. Dari semalam kau sakit".
Tak ada jawaban Ela. Tubuhnya benar-benar lemah.
Detik berikutnya Max berlari kebawah dan mengendor kamar Oliver dan Olivia.
"Max ada apa, kenapa kau panik begitu", tanya Oli di ikuti Olivia di belakangnya yang terlihat sedang memasang jubah tidur menutupi tubuhnya yang terekspos. Kebetulan keduanya sudah bangun.
"Istri ku sakit. Dokter mana yang bisa di panggil di desa ini Oli. Tubuh Ela panas tinggi".
"Tenang lah jangan panik. Aku akan memanggil dokter keluarga", jawab Oliver sembari mengambil handphone miliknya.
"Elara hanya pura-pura sakit Max. Ia hanya ber sandiwara, membalas perbuatan mu tentang Casandra", ucap Olivia menahan tawanya. "Semalam Ela mengatakannya pada ku".
"No Oliv. Sekarang Elara benar-benar sakit. Wajah pucat dan tubuhnya demam tinggi. Aku tahu itu".
Jawaban Maxxie sontak membuat Olivia terdiam dengan wajah berubah menjadi kuatir juga. "Elara, aku bilang juga apa. Kau nekat sekali pura-pura sakit. Lihatlah sekarang kamu benar-benar sakit kan".
__ADS_1
...***...
To be continue