ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
LONG NIGHT


__ADS_3

Olivia sudah selesai mempersiapkan diri nya. Membersihkan tubuhnya dan memakai parfum beraroma lembut yang di sukai Oliver.


Ia keluar walk in closet.


"Say–"


Olivia menatap ketempat tidur berukuran besar yang berada di tengah-tengah kamar.


"Huhh..."


Olivia menarik nafas, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Oliver yang ternyata malah tertidur terlentang dengan kaki bersilang. Sementara kepalanya di atas kedua tangannya yang bertaut di di atas bantal. Olivia naik ke peraduan, masuk kedalam dekapan Oliver sambil menyelusupkan jemari lentiknya di sela kimono tidur Oliver, mengusap dada bidang laki-laki itu.


"Kau malah tertidur sayang. Kata mu ingin melihat ku memakai lingerie ini. Ternyata masih muat di tubuh ku", ucap Olivia pelan sembari menempelkan wajahnya pada dada bidang Oliver. Menghirup aroma musk yang sangat di sukainya sedari dulu.


Jemari Olivia masih menari-nari di dada Oliver.


"Kau tahu sayang, dulu saat kau memintaku memakai lingerie ini aku sangat gugup sekaligus bahagia. Artinya kau akan melaksanakan tugas mu sebagai suami".


"Ketika itu aku tidak tahu harus apa agar kau menyukai ku dan hanya mengingat ku disaat bercinta ataupun sesudah kita bercinta. Namun setiap kali percintaan usai kau selalu melontarkan kata-kata yang menyakiti ku. Kau bilang aku tidak bisa memuaskan mu. Kau juga kerap kali mengatakan aku seperti patung, yang tidak bisa apa-apa membangkitkan gairah mu", ucap Olivia pelan. Ia mengingat saat-saat pertama bersama Oliver dulu.


Oliver tak bergeming sedikitpun. Nafasnya pun teratur, menandakan laki-laki itu sudah tertidur pulas.


Menit berikutnya Oliv kian membenamkan wajahnya pada dada bidang Oliver, menghirup dalam-dalam aroma tubuh laki-laki itu seraya memejamkan matanya.


"Huhh... sekarang rasa kantukku sudah datang–"


"Kau sudah selesai?"


Seketika kelopak Olivia kembali terbuka dan mengangkat wajahnya melihat suaminya. "Oli, kau belum tidur? Kau mempermainkan aku?"


Oliver membuka matanya dan menyunggingkan senyuman di wajahnya.


"Tentu saja belum. Aku sudah katakan akan menunggumu".


"Oliver apa yang kau lakukan. Aku sudah mengantuk–"


"Sekarang tunjukkan padaku. Kata mu lingerie nya masih muat".


Oliver mengangkat tubuh Olivia ke atas tubuhnya. Mendudukkan tubuh seksi itu tepat di atas perut ratanya.


Netra hitam silver Oliver tak berkedip menatap keindahan yang tersaji di depan matanya. Bahkan sangat dekat, sekali jangkauan tangannya bisa merasakan lekukan tubuh Olivia.

__ADS_1


"Seperti yang aku pikirkan, kau semakin seksi memakainya sayang. Melihat mu seperti ini saja milik ku sudah bangun. Kau harus bertanggung jawab", ucap Oliver dengan suara serak berbalut hasrat yang sudah menguasai dirinya sambil mengusap lembut dada Olivia.


Olivia melebarkan kedua matanya. Ia pun bisa merasakan milik suaminya berdiri. Olivia menatap Oliver dengan mulut terbuka. Seketika tubuhnya bergetar. "S-ayang–"


Oliver tidak bisa mendiamkan istrinya seperti itu. Oli menarik lengan Olivia hingga tubuh seksi itu menindih tubuhnya.


Oliver membingkai wajah cantik Olivia tepat di atas wajah nya. "Kau tahu artinya itu, hem? Artinya kau bisa membuatku bergairah dalam sekejap. Dulu aku selalu berusaha menolak mengakuinya karena aku ingin sekali membenci dan melupakanmu. Tapi nyatanya aku tidak bisa".


"Kau mau tahu perasaan ku setelah bercinta dengan mu, hem? Aku berusaha keras menghapus semua kenangan itu, tapi semakin aku berusaha wajah polos dan pasrah mu selalu ada dalam kepalaku, Olivia".


"Aku bodoh, karena berusaha menghapus mu dari pikiran ku. Namun nyatanya akulah yang tersiksa pada akhirnya".


Tanpa menunggu jawaban Olivia, Oliver menyatukan bibirnya pada bibir wanita itu. Me*umat hingga dalam. Lidah keduanya saling membelit. Saling menyapu menjelajahi seluruh rongga mulut yang mampu memberikan sensasi gelenyar luar biasa bagi tubuh keduanya.


Sontak tubuh Olivia bergetar hebat. "Ahh sayang.."


Olivia memejamkan matanya, merasakan sensasi sentuhan tangan Oliver menyusuri tubuhnya yang hanya tertutup lingerie seksi menerawang berwarna merah terang kesukaan Oliver sedari dulu.


Perlahan Oliv membuka matanya, menatap kedua netra abu-abu terang suaminya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan memuja.


Tangan Olivia mengusap bahu berotot Oliver, perlahan jemari lentik itu melanjutkan pekerjaannya melepaskan kimono tidur Oliver yang menutupi tubuh maskulin tersebut.


Oliver menggenggam tangan Oliv. Saling menatap lekat penuh perasaan cinta.


Keduanya kembali menautkan bibirnya. Memangut dengan liar.


Beberapa kali Olivia menelan salivanya sendiri dengan susah payah, menatap memuja pahatan sempurna tubuh laki-laki yang sangat dipujanya sejak pertama kali bertemu. Dan kini Oliv tak sendirian merasakan perasaan mendalam itu. Cintanya berbalas, Oliver benar-benar menginginkannya.


Jemari lentik Olivia bergerak menyusuri tubuh bagian depan Oliver. Bergerak mengusap dada yang tercetak sempurna hingga mengusap lembut perut sixpack dan memutar jemari tangannya menyusuri dada bidang di hadapannya. Oliv sudah begitu bergairah, matanya semakin berkabut dan membuka mulutnya. Membiarkan Oliver melakukan yang laki-laki itu inginkan.


Pengalaman tidak bisa bohong. Dalam sekejap Olivia di buat tak berhenti mende*sah Oliver.


Sementara Oliver berhasil melucuti kain yang melekat di tubuh istrinya itu hingga teronggok di lantai. Yang tertinggal di tubuh putih mulus Olivia hanya panties berwarna senada. Tak mau mengulur waktu, Oliver menarik panties itu, dalam sekejap sisa kain yang menutupi tubuh bagian bawah Oliv terlepas.


Tubuh seksi Olivia terpampang di hadapan Oliver. Laki-laki itu menatap lekat setiap jengkal tubuh indah nan seksi istrinya dengan penuh kekaguman. "Tubuh mu semakin seksi sayang. Aku menyukai ukuran dada mu yang sekarang", bisik Oliver menatap puncak gundukan berwarna merah muda istrinya.


Jemari Oliver meremas perlahan gundukan yang berdiri begitu menantangnya itu. Kemudian mengusap lembut puncaknya, bermain-main disana memutar dan memilin.


Olivia menatap manik silver tepat di atas wajahnya. Membalas sentuhan Oliver dengan jari lentik jemari-jemari tangannya. "Aku menyukai tubuh mu. A-ku selalu ingin merasakannya Oli. Kau yang pertama dan terakhir untuk ku", balas Olivia tanpa malu-malu lagi.


Oliver merasakan sentuhan jemari lentik Oliv di dadanya, membuat tubuh itu begitu panas. Ditambah baru saja mendengar pengakuan istrinya, semakin membuat laki-laki itu sulit mengontrol dirinya.

__ADS_1


"Ah, shitt kau sangat menggodaku sayang", ucap Oliver mencium dan me*umat bibir Oliv yang begitu menantang di hadapannya. Lidah Oliver dengan mudahnya menerobos masuk menjelajahi rongga mulut Olivia yang sedari tadi sudah terbuka seakan memangilnya.


Tubuh Oliv bergetar hebat, sekujur tubuh merasakan gelenyar liar yang menguasainya. Persediaan oksigen dikamar itu kian menipis, Olivia merasakan dadanya begitu sesak. Apalagi tanpa ampun jemari-jemari Oliver meraup gundukan kenyal miliknya, me*umatnya bergantian kiri dan kanan. Mulut Oliver bergantian mengulum puncak yang menantang dan keras itu.


"Ahh, sayang..."


Suara de*ahan lolos dari bibir Olivia, saat merasakan tangan suaminya meremas dan mencubit puncak dadanya.


"Kau sangat indah Olivia Ramires", ucap Oliver sambil mengusap lembut punca dihadapannya. Oliver kembali mencium bibir Oliv. Keduanya saling membelit. Olivia juga sangat aktif membangkitkan gairah suaminya, membuat Oliver mengeluarkan suara mengerang dari mulutnya.


Tersisa boxer berwarna hitam yang menutupi inti Oliver yang terlihat sudah sangat menonjol. Seperti ada ular berukuran besar yang meringkuk didalamnya.


Olivia duduk ditepi tempat tidur dan menurunkan boxer yang masih menutupi inti Oli. Mulutnya spontan mengeluarkan suara desisan saat melihat milik suaminya berukuran besar dan keras berdiri tegak menantang tepat di depan wajahnya.


Oliver membaringkan tubuh istrinya. Terlihat senyum samar dibibir Oliver melihat tubuh polos istrinya yang begitu indah di atas tempat tidur berukuran king size itu.


Olivia susah payah menguasai dirinya yang sudah berkabut gairah saat melihat tubuh polos suaminya. Tubuh yang begitu sempurna. Terutama saat menatap bagian bawah yang berdiri begitu perkasa dan menggoda sedari tadi.


Oliver menatap lembut kedua netra bening Oliv, ia mensejajarkan wajahnya pada wajah istrinya yang terlihat semakin memutih. Oliver kembali membuai dan mengusap lembut puncak Oliv. Di sentuh seperti itu membuat Olivia menggigit bibir bawahnya menahan letupan gairah yang terus-menerus menguasai dirinya.


Oliver kembali mencium bibir hingga dada dan memainkan lidahnya yang basah di puncak dada Olivia Meninggalkan tanda merah di sana. Menghisap kuat dan memberikan gigitan kecil di puncaknya.


"Akh O-li jangan di gigit. Sakit". Olivia berulang kali melenguh dan menyebut nama suaminya dengan begitu lirih.


Oliver tidak perduli, sapuan lidah nya semakin menurun menyusuri tubuh Oliv hingga ke inti. Jemari tangannya membuka lebar-lebar kedua paha Olivia yang berusaha menghentikan suaminya dengan merapatkan pahanya.


"Jangan ditutup, aku menyukainya". Oliver menatap takjub inti istrinya yang berwarna merah muda. Dan begitu menggugah hasrat ingin merasakannya semakin mendalam.


Oliver ingin merasakan didalam sana dengan mulut nya, membuka kedua paha yang di rapatkan Olivia.


"Jangan di tutup sayang, aku ingin merasakan semua kenikmatan yang ada pada tubuh mu", ucap Oliver dengan suara terdengar serak.


Detik berikutnya..


"Ah...Akh"


Olivia men*esah tak karuan saat merasakan lidah suaminya bermain-main di intinya. Oliv menjerit sambil meremas kuat seprai berwarna putih. Sesekali ia mengangkat wajahnya menatap apa yang di lakukan suaminya di bawah sana hingga wanita itu merasakan miliknya berkedut meledak. Oliv menjerit lirih, namun bukannya menghentikan aktivitas nya, Oli semakin menjadi menggelitik milik istrinya dengan lidahnya yang basah.


"Owh God, sayang aku mohon hentikan! Kau membuatku ingin meledak". Racau Olivia mengelijang sementara tangannya menekan kepala Oliver, sesekali meremas rambut nya. Tidak bisa di pungkiri Olivia meminta lebih.


"O-li aku mohon.."

__ADS_1


__ADS_2