
Ela menghabiskan sisa malam dengan tangisan. Bahkan ditubuh nya masih melekat pakaian kemarin. Baju itu masih terasa lembab. Namun Ela tidak perduli.
Ia hanya meringkuk sambil memeluk batal di atas tempat tidur. Keduanya matanya nampak bengkak dan merah sementara bibirnya tak henti bergumam lirih.
"Maafkan aku sayang. Aku benar-benar mencintaimu".
Kata-kata itulah yang selalu keluar dari bibirnya sedari tadi setelah Maxxie meninggalkan nya seorang diri. Elara menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua rasa yang dipendamnya seorang diri selama ini.
"Disaat aku menemukan cinta yang sesungguhnya, namun harus kembali ke titik awal lagi. Laki-laki itu datang, membuyarkan semua kebahagiaan ku. Aku tidak bisa mencegahnya, kami memang memiliki masa lalu yang menyakitkan dan menghantui ku..."
Suara Elara semakin mengecil. Matanya pun terpejam dengan nafas tersengal-sengal karena menangis. Ela tertidur dalam tangisan pilu, membasahi bantal tempat wajahnya bersandar.
"Aku mencintaimu Max. Aku sudah memutuskan menetap di sini karena mu. Aku ingin dekat dengan mu", lirih Ela dengan mata terpejam.
*
"Brengsek!"
"Prang.."
__ADS_1
Maxxie melempar gelas berisi wine ke dinding ruang kerja dari genggaman tangannya.
Tak lama berselang pintu ruang kerja itu di buka oleh asistennya, Bill. Billy kuatir kalau ada apa-apa dengan bos-nya itu. Karena ia tahu Max tidak baik-baik saja ketika datang kembali ke kantor nya tengah malam dalam keadaan kacau.
Security memberi tahu Bill, kalau bos mereka datang ke kantor tengah malam buta. Dan Bill pun langsung datang melihat apa yang terjadi pada Maxxie.
"Kenapa kau datang Billy. Sekarang waktu mu istirahat".
"Saya ingin memastikan keadaan anda tuan", jawab Billy dengan hormat. Sementara Max menatap keluar melalui dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan malam kota Houston.
"Pulanglah. Aku ingin sendiri. Aku akan tidur di private room", ujar Maxxie tanpa menolehkan kepalanya pada Bill yang sedang membersihkan pecahan gelas yang di lemparnya beberapa saat yang lalu.
Menit berikutnya...
Bill yang ditanya seperti itu tentu saja kaget. Jarang sekali Maxxie meminta pendapatnya tentang masalah pribadi selama ia menjadi asistennya. Bahkan kala Olivia di dekatnya, tak sekalipun Maxxie meminta pendapatnya tentang Olivia. ini pertama kali, Max bertanya tentang hal pribadi. Tentang Elara kekasihnya.
"Yang saya tahu nona Elara sangat baik tuan. Ia baik dengan semua orang, bahkan karyawan anda sangat menyukainya. Nona Ela hangat pada siapa pun tanpa memandang status. Ia pantas bersanding dengan anda", jawab Bill memberikan penilaian dengan jujur.
"Bagaimana jika ia sebenarnya wanita munafik yang pandai menutupi kedok aslinya, padahal sebenarnya ia wanita pembohong? Layaknya wajah yang memakai topeng untuk menutupi kemunafikannya", ucap Maxxie tanpa mengalihkan perhatiannya jauh ke depan.
__ADS_1
Bill terdiam mendengar perkataan Maxxie. Namun ia tahu arah dari ucapan bos-nya itu.
"Maaf tuan jika saya salah. Tapi bukankah nona Elara manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Tidak ada manusia sempurna. Bagi saya yang terpenting bagaimana orang yang telah melakukan kesalahan-kesalahan tersebut ingin berubah dan memperbaiki diri. Itu yang terpenting. Jika saya ada di posisi itu, saya tidak akan ragu memberikan kesempatan kedua bagi orang tersebut. Jangan sampai menyesal dengan keputusan yang diambil tanpa mendengarkan penjelasan yang bersangkutan", jawab Bill dengan kata-kata bijak yang membuat Maxxie terdiam sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana kerjanya menatap jauh ke depan keluar dinding kaca.
"Sekarang keluar lah aku ingin sendiri", perintah Maxxie pada Billy.
"Baik tuan, jika tuan membutuhkan sesuatu saya ada di ruangan saya", jawab Bill dengan hormat.
Tak ada jawaban apapun dari Maxxie.
Tatapan Maxxie masih jauh ke depan ketika terdengar pintu tertutup rapat.
"Sebenarnya sejauh mana hubungan kalian".
"Yang aku tahu Elland telah memiliki kekasih di Amsterdam. Apa karena Elara ia memutuskan kembali ke kota ini? Apa sedalam itu perasaan nya pada Ela sehingga mau meninggalkan kehidupan di sana".
"Tapi tetap saja kau tidak menghargai persahabatan kita, Elland. Kau tahu sekarang Ela bersama ku tapi kau nekat membawanya pergi. Kau bajingan!"
Tangan kokoh Maxxie memukul dinding kaca di hadapannya. Rahangnya mengeras menahan emosi yang membuncah dalam dirinya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkan kalian berdua jika telah terjadi sesuatu selama kalian pergi bersama tadi. Tidak akan...!"
...***...