ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
WELCOME TO VIENNA CITY


__ADS_3

"Sayang...apakah kita harus membawa banyak coat dan sweater tebal ini?"


"Hm... sekarang akhir bulan November. Di Eropa sedang mengalami musim gugur. Hari-hari terasa lebih pendek dan semakin dingin, daun-daun akan berguguran dari pohon. Kita membutuhkan pakaian tebal sebagai penghangat tubuh", ujar Elara sambil menatap pakaian yang sudah tersusun rapi di dalam dua koper berukuran besar dan satu koper berukuran sedang.


"Bawa pakaian mu seperlunya saja, karena asisten ku sudah mengurus semua kebutuhan kita selama di sana".


"Selain melihat pertunjukan balet yang menjadi impian mu, aku sengaja memilih bulan madu kita untuk menikmati dua pergantian musim sekaligus. Kau bisa melihat masyarakat disana akan merayakan Halloween pada musim ini. Kita akan berada di sana dua minggu pada akhir bulan November dan awal Desember", ucap Maxxie yang saat ini menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Sambil fokus pada iPad miliknya membaca laporan perusahaan yang di kirim Billy beberapa saat yang lalu melalui email nya.


"Aku ingin melihat salju pertama turun di tahun ini bersama wanita yang aku cintai. Hidupku semakin bahagia karena sekarang bisa merasakannya bersama istriku", ucap Maxxie lagi tanpa mengalihkan perhatian pada Ipad-nya.


Elara tersenyum mendengar penuturan suaminya itu.


"Hmm... akhirnya selesai juga".


Satu koper besar yang berisi hampir semuanya pakaian Elara. Sementara koper satunya berisi pakaian Maxxie. Maxxie menjadwalkan perjalanan bulan madu mereka selama dua minggu. Makanya Ela banyak membawa perlengkapannya. Walaupun Maxxie memintanya membawa yang penting-penting saja namun Ela tetap membawanya juga.


Sesaat Elara duduk di depan meja hias memoles krim malam pada wajahnya dan lotion ke tubuhnya.


Ela membuka jubah tidur yang menutupi lingerie seksi menerawang di tubuhnya, kemudian bergabung bersama Max di atas tempat tidur mereka.

__ADS_1


"Kau sudah selesai?". Maxxie menatap istrinya dan menaruh iPad di atas nakas. "Sekarang sudah malam ayo kita beristirahat. Beberapa jam lagi kita akan terbang", ucapnya sambil mematikan lampu tidur.


Elara masuk ke dalam dekapannya Maxxie. Hal yang selalu dilakukannya beberapa hari belakangan. Mencium harum maskulin tubuh suaminya adalah hal yang paling disukai Elara saat ini.


Begitu pun Maxxie, mendekap erat tubuh istrinya. Ia pun sangat menyukai aroma lembut di sekujur tubuh istrinya hal yang sangat digemarinya beberapa hari belakangan.


*


Pesawat berlogo Horwitz company baru saja mendarat di Vienna International Airport Flughafen Wien-Schwechat.


Elara mengedarkan pandangannya matanya sekeliling begitu berada di pelataran bandara. Ia kagum melihat di sekelilingnya. Ini kali pertama Ela berkunjung ke negara Austria. Sementara Maxxie sedang berbincang dengan seorang laki-laki paruh baya tak jauh dari tempat Ela berdiri.


Seketika suara Maxxie membuyarkan lamunan Elara. Max mengusap-usap kan jemari tangannya pada jemari Elara yang terasa dingin. Kemudian menggenggam nya menuju mobil. Elara menolehkan kepalanya melihat koper mereka.


"Biarkan saja. Lehmann yang akan mengurus barang-barang kita. Sekarang sebaiknya kita langsung ke hotel saja dan beristirahat, kau pasti mengalami jetlag", ucap Maxxie menyuruh Ela masuk ke dalam mobil.


"Sayang aku tidak mengalami jetlag, aku ingin berkeliling kota sekarang. Ini untuk yang pertamakali nya aku ke sini. Ternyata benar cerita teman-teman ku, kota Wina sangat cantik sekali", ucap Elara berdecak kagum melihat keluar jendela ketika mobil yang di kendarai sopir melaju dengan kecepatan sedang melintasi distrik kota.


"Besok saja jalan-jalannya karena malam ini kita akan melihat pertunjukan balet. Sekarang kita istirahat saja dulu di hotel".

__ADS_1


"Huh sayang...sudah aku bilang aku tidak apa-apa, aku tidak mengalami jetlag. Aku sudah biasa terbang jauh. Kalau hanya beristirahat di kamar saja, perjalanan ini sangat membosankan". Elara mencebikkan bibirnya, nampak kesal.


"Oke-oke sekarang kita jalan-jalan ketempat wisata yang ada di sini, tapi sebaiknya kita makan dulu saja", ucap Maxxie mengalah dan menuruti keinginan istrinya.


Senyum pun terpatri di wajah cantik Elara. Sambil memeluk pinggang suaminya Ela mendaratkan kecupan ringan pada rahang Maxxie.


"Tempat apa yang ingin kau kunjungi sekarang, hem?", tanya Maxxie sambil mengusap lembut wajah cantik istrinya.


"Jika kau tidak keberatan, aku ingin berkunjung ke Museum Beethoven dan Mozart yang terkenal itu. Aku mengagumi keduanya sebagai maestro", jawab Elara antusias dengan bola mata membulat sempurna.


Maxxie tersenyum melihat tingkah istrinya. "Kau ini sangat menggemaskan. Tentu saja aku tidak keberatan menuruti keinginan mu".


"Terimakasih sayang. Aku sangat mencintaimu", ucap Elara bahagia sambil bergelayut manja memeluk lengan suaminya.


Maxxie segera memberi perintah pada sopir yang sudah di sewanya selama berada di kota tersebut. Max fasih berbahasa Jerman saat berbincang dengan sang sopir.


Elara yang tidak mengerti sedikitpun pembicaraan itu hanya terpaku mendengar percakapan tersebut.


...***...

__ADS_1


__ADS_2