
"Sayang…"
Suara lembut dan bergetar Elara menyadarkan Maxxie. Laki-laki itu langsung mengangkat wajahnya, menyandarkan punggungnya sembari melepaskan kacamata dari wajahnya. Elara bisa mendengar lengguhan nafas Maxxie.
"Apa yang kau lakukan di kantor ku malam-malam begini?", tanya Max bernada ketus sambil menghunuskan tatapan tajam kearah Elara yang berdiri di belakang pintu. Wajah Maxxie nampak dingin. Melihat Ela yang datang tak ada sambutan kehangatan seperti biasanya.
Ela menelan salivanya. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
Mendengar nada bicara Max yang tak bersahabat begitu membuat tubuh Elara bergidik gemetaran. Ela menundukkan wajah, sementara tangannya memegang paper bag.
"A-ku ingin menjelaskan semuanya. Tentang hubungan ku dan Elland. Tentang masa lalu ku", ucap Elara pelan nyaris tak terdengar.
"Apa kau sudah tahu dari mana akan memulai cerita mu itu? Kata kan saja sekarang!", Balas Maxxie tanpa merubah intonasi nada bicara yang terdengar dingin. Nampak jelas amarah dan kekecewaan di nada bicaranya.
Elara masih berdiri ditempatnya, tanpa bergeser sedikit pun.
"Elland dan keluarganya bukan orang lain bagi ku. Orang tua kami berteman baik, kemudian turun pada kami anak-anak mereka berteman baik juga. Elland dan kakak ku selalu bersama sejak kecil. Aku menganggap Elland seperti kakakku sendiri. Kami dekat".
"Saat mommy meninggal, aku merasa sendirian di dunia ini. Terlebih kakak memutuskan melanjutkan pendidikannya di negara lain. Sementara daddy selalu memaksakan kehendaknya agar aku melanjutkan kuliah di jurusan bisnis yang tidak aku sukai karena aku lebih menyukai balet".
"Sejak itulah aku semakin dekat dengan Elland. Ia selalu mendengarkan curahan hatiku. Dan ia juga mendukung pilihan ku menjadi seorang balerina. Kami semakin dekat. Aku merasakan ia begitu perhatian padaku".
__ADS_1
"Dan..."
Elara terdiam. Mendadak lidahnya kelu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ela mengangkat wajah dengan ragu-ragu melihat Maxxie yang menatapnya dengan dingin dari kursi meja kerjanya.
Max berdiri dan berjalan ke meja yang terletak di sudut ruangan. Laki-laki itu menuang wine ke dalam gelas. "Kenapa kau berhenti bicara?"
"A-ku melakukan dosa. A-ku hamil. Aku menggugurkan kandungan ku", ujar Ela tertunduk dan terisak dengan bahu yang terguncang hebat. Suaranya bergetar.
Max memejamkan matanya, sementara jemari tangannya mencengkram kuat-kuat gelas berisi wine.
Krakk..
Melihat itu kedua mata Elara melotot.
"Sayang kau terluka", teriak Elara panik. Ia menaruh paper bag ke atas meja dan berlari menghampiri Maxxie. Spontan Ela melepaskan syal yang ia pakai dan menempelkannya pada jemari Maxxie yang berdarah.
Namun Max menepis tangan Elara. "Jangan menyentuh ku! Pergilah!"
Elara terdiam tak bergeming. Tangannya gemetaran menjauh dari tangan Max. Begitu pun tubuh Ela menjauh menjaga jarak dari laki-laki itu.
Kata-kata Maxxie bagai tusukan pisau belati yang tajam menghunus jantungnya. Sontak saja mata Ela memanas dan air mata menganak di sudut mata yang memendam kepedihan itu.
__ADS_1
"M-aafkan aku tidak mengatakan masa lalu ku pada mu sebelumnya. Aku salah. Aku menutupi nya dari mu", lirih Elara dengan suara bergetar. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak tumpah.
Tak ada balasan apapun dari Maxxie.
"Anggaplah aku membohongi mu. Tapi satu hal yang tidak bisa aku ingkari dan itu benar adanya. A-ku benar-benar mencintaimu. Aku jatuh cinta pada mu", lirih Elara terbata-bata. Kemudian terdiam sejenak mengatur debaran jantung yang kian berdetak cepat.
Ela memejamkan matanya. Ela kembali berucap lirih.
"A-ku terima konsekuensinya, jika sekarang kau membenci ku bahkan jika kau membatalkan pertunangan kita. M-aafkan aku..."
Terdengar tarikan nafas Elara. Ela membalikkan badannya, berlari keluar ruangan Maxxie dengan wajah tertunduk dan mengusap buliran-buliran bening yang pada akhirnya jatuh juga.
Sementara Maxxie tak bergeming sedikitpun. Pikirannya berkecamuk. Benar-benar kacau. Seakan tersadar, Max menatap pintu dan melihat paper bag berlogo restoran favorit mereka ada di atas meja dekat pintu.
"Elara...".
Maxxie berlari keluar hingga turun kelantai bawah, namun tak terlihat lagi Elara.
Max melihat carport, tak terlihat mobil Ela di sana. "Ah Shitt! Apa yang sudah aku lakukan pada tunangan ku..."
...***...
__ADS_1