ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
MENJAUH


__ADS_3

Ela melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah keheningan malam, tanpa tahu arah dan tujuan. Kakinya menginjak pedal gas sedalam mungkin. Beruntung jalanan yang di lalui sepi sehingga kendaraan bisa melaju dengan lancar.


Yang terpikirkan oleh Ela saat ini pergi sejauh mungkin.


"Aku hanya meninggalkan luka pada semua orang-orang yang aku cintai".


Elara mengusap air mata dengan punggung tangannya. Beberapa saat yang lalu Elara menjelaskan semuanya pada Maxxie, namun Max tidak bisa menerima Ela. Ia marah dan begitu kecewa padanya.


Ela mengerti, ia bisa menerima kenyataan ini meskipun begitu tetap saja menyakitkan untuk Ela. Wajar jika Max tidak bisa menerima nya. Karena ia memang melakukan kesalahan besar di masa lalu. Terlebih ia melakukannya dengan teman baik Maxxie. Ela semakin terpojok dengan kondisi itu.


"Mommy, daddy, kakak ..maafkan aku telah mengecewakan kalian", lirih Elara terisak. Jemari tangannya mengusap air mata yang berurai membasahi pipinya.


Seakan tahu perasaan Elara, alam pun bergejolak. Hujan turun dengan derasnya membasahi bumi. Kilatan petir menyambar diiringi suara geledek yang menggelegak keras.


Ela menepikan mobilnya, menyandarkan punggungnya sambil mengusap air mata di wajahnya yang sedari tadi menetes.


"Aku harus pergi. Aku ingin menenangkan diri ku".


Ela menyadarkan kepalanya sembari memejamkan mata. "Hal seperti ini lah yang tidak aku inginkan. Sejak lama aku tidak mau lagi mengenal pria. Hanya akan meninggalkan kepedihan pada ku. Namun ketika bertemu Maxxie, keteguhan hati ku berubah, aku baru berani membuka diri ini lagi dan berharap banyak dari hubungan ini. Aku sangat mencintai nya sepenuh hatiku", lirih Elara sambil memalingkan wajahnya menatap jauh keluar mobilnya.


Hujan semakin deras Ela melajukan kembali mobilnya.


*


Ting


Tong


"Came on Ela, buka pintunya", ucap Maxxie di depan unit apartemen Elara. Sementara dari tadi ia menghubungi handphone milik Ela yang di jawab operator seluler saja.

__ADS_1


"Bagaimana Bill?".


"Menurut security, mereka belum melihat kedatangan nona Ela tuan. Mobilnya pun tidak ada di carport".


"Apa kau mendapatkan kuncinya?"


"Iya tuan", jawab Billy sambil membuka pintu unit apartemen Elara.


Maxxie langsung menerobos masuk. "Elara.. Ela!", Panggil nya berulangkali.


Max membuka pintu satu persatu dan tidak mendapati keberadaan Ela. Hingga Max masuk ke kamar Elara duduk di tepi tempat tidur yang nampak berantakan. Maxxie melihat bantal yang masih lembab dan meninggalkan jejak air mata Elara di sana. Maxxie mengusap nya pelan.


Harum Elara memenuhi indera penciumannya. Harum lembut yang sangat di sukai nya beberapa bulan belakangan ini.


"Ela di mana kamu?"


*


Maxxie memarkirkan mobilnya di carport perusahaan Lucifer. Ia ingin menemui Oliver menanyakan keberadaan Elara.


Max langsung turun dari mobilnya menuju lobby.


"Max...wait! Aku mau bicara dengan mu!"


Maxxie menolehkan wajahnya menatap sosok pria yang menimbulkan masalah baginya dan Elara.


Sorot mata Maxxie menatap Elland yang melangkah mendekati nya. Rahang laki-laki itu mengeras sementara kedua tangannya yang di perban akibat memukul meja kaca di kantornya terkepal.


Maxxie pun melangkah dengan cepat menghampiri Elland.

__ADS_1


"Brughh..."


"Brugghh..."


"Akh–"


"Tuan...hentikan!!"


Security yang sedang berjaga di depan lobby perusahaan Lucifer berlarian ke carport ketika melihat dan mendengar keributan di sana.


"Brughh.."


"Kita harus bicara, teman", ucap Elland sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan brengsek. Kau bajingan Ellando!", seru Maxxie dengan suara menggelegar sembari menunjuk muka temannya itu. "Kau laki-laki pengecut dan penghianat! Kau tidak layak di sebut sahabat, kau itu bajingan yang berlagak laki-laki terhormat. Kau itu layaknya laki-laki sampah yang berlari dari tanggungjawab!", Hardik Maxxie mengebu-gebu emosional.


*


Oliver sedang bekerja di ruangannya. Ketika ada yang membuka pintu. Oliver melihat Javier yang menerobos masuk dengan wajah sedikit panik.


"Ada apa dengan mu–"


"T-uan...tuan Maxxie dan tuan Elland berkelahi di parkiran!"


Spontan Oliver berdiri, dan buru-buru berjalan keluar ruangan nya. "Perintahkan keamanan menghentikan mereka!"


"Sudah tuan", jawab Javier mengikuti langkah cepat Oliver masuk ke dalam lift".


Oliver memijat keningnya. Ia tahu hal seperti ini pasti akan terjadi dan tidak bisa di hindari lagi. "Javi, hubungi adik ku sekarang, suruh ia datang ke kantor ku", perintah Oliver dengan tegas.

__ADS_1


...***...


__ADS_2