
"Kau tinggal di mana?", tanya Maxxie menolehkan kepalanya pada Ela yang duduk di sampingnya. Saat ini hanya mereka berdua di dalam mobil, sedangkan Olivia dan Asley sudah di antar lebih dulu ke mansion.
"Apartemen ku jauh di pinggir kota", jawab Elara sambil menyebutkan nama apartemen tempat tinggalnya selama ini.
Maxxie menganggukkan kepalanya. "Temani aku makan dulu, perut ku lapar. Sejak siang tadi aku belum makan apapun. Aku baru saja tiba di kota ini dan Asley memintaku melihat pertunjukan mu", ujar Maxxie.
Elara melototkan kedua matanya. "Yang benar saja. Aku masih memakai pakaian balet begini. Hm...sebaiknya kau saja yang turun, aku menunggu mu di mobil", ucap Ela ketika Max memberhentikan mobilnya di restoran mewah yang berada di pusat kota New York.
Maxxie terdiam mendengar Ela. Ia menatap gadis itu. "Benar sekali. Kau tidak mungkin makan berpakaian seperti itu. Kau seperti kelinci putih di film dongeng anak-anak", Seloroh Maxxie tertawa lucu.
Mendengar ledekan laki-laki itu, membuat Ela mencebikkan bibirnya. Wajahnya cemberut. "Salah sendiri kenapa kau mau mengantar ku", seru Ela kesal.
"Kau saja yang menentukan kita makan di mana, Ela. Kau juga pasti lapar setelah pertunjukan mu kan?"
"Kau yakin memintaku yang mencari tempat makan? Baiklah, aku akan memilih kan makanan yang enak untuk mu", jawab Elara tersenyum.
Max terdiam menatap senyum manis yng yang menghiasi wajah Ela.
"Ehem..."
*
"Ini buat mu Cheese steak sandwich. Sementara untuk ku Loaded baked Potato", ujar Elara memberikan paper bag berisi makanan yang di belinya di pinggir jalan.
Elara memberikan juga satu cup berukuran besar minuman. "Minumannya Rompope saja. minuman sehat bagus untuk lambung mu", ucap Elara tersenyum sambil menaruh minuman di atas cup mobil.
"Terima kasih", jawab Maxxie mengambil makanan yang diberikan Ela.
__ADS_1
Keduanya duduk di atas cup mobil sambil menikmati makan malam beratapkan langit luas bertabur jutaan cahaya bintang.
Maxxie sangat menikmati makanan yang di pilih Ela.
"Pilihan mu boleh juga", ucapnya menatap Ela. "Apa kau selalu selektif memilih makanan yang masuk ke perutmu Ela? Kau seorang vegetarian? Kau tidak memilih daging hanya sayuran saja. Yang kau makan itu kentang panggang kan?", tanya Maxxie melihat makanan Ela yang ada di pangkuan gadis itu.
"Tidak. Aku bukan seorang vegetarian. Tapi aku sudah terbiasa mengurangi karbo saat makan malam. Tanpa daging dan minyak. Aku lebih memilih makanan yang di panggang seperti ini", jawabnya sambil menyendok makanan miliknya dan menyuapkan pada Maxxie. "Cobalah".
Tanpa pikir-pikir Max langsung membuka mulutnya. Laki-laki itu memejamkan matanya menikmati kelezatan yang lidahnya rasakan.
Elara tersenyum melihat Maxxie seperti itu. "Kau ini berlebihan sekali".
Max membuka matanya. Jemari tangannya menarik kotak sekali pakai berisi makanan di paha Elara. "Aku makan yang ini, Kau makan punya ku".
Mata Ela membulat. "Tapi aku tidak makan daging saat malam begini, Max".
"Kita bagi-bagi saja kalau begitu. Salah sendiri kenapa kau memilih makanan sehat, sementara aku kau pilihkan makanan yang tidak sehat", protes Maxxie menyuapkan makanan kemulutnya.
Gadis itu juga menyuapkan makanan kemulutnya. Keduanya berbagi makanan dalam satu kotak, begitu pun minuman. Sambil menikmati keindahan malam kota New York.
Sesekali Ela menatap kerlip bintang di langit yang terbentang luas.
"Ela...apa kau sudah lama berlatih balet?".
"Sejak kecil. Saat usia ku masih enam tahun. Mommy sangat mendukung ku menekuni balet. Tapi setelah mommy meninggal, tiba-tiba daddy menentang keinginan ku. Ia lebih suka aku menggeluti dunia bisnis sama seperti dirinya dan kakak ku. Daddy beralasan anaknya hanya aku dan Oliver yang akan menjadi penerus nya".
"Lalu kenapa sekarang kau masih menjadi seorang balerina? Apa ayah mu pada akhirnya menyetujui keinginan mu?", tanya Maxxie sambil menatap Ela yang mendongakkan kepalanya menatap langit.
__ADS_1
Ela menggelengkan kepalanya. "Aku memutuskan memilih pilihan ku menjadi seorang balerina, meskipun konsekuensinya aku harus pergi dari rumah. Saat itu ayah ku memasukkan aku ke asrama di Marseille. Aku sangat tertekan dan tidak betah saat berada di pengasingan itu. Namun aku tidak bisa menentang keputusan daddy".
"Sementara Oliver sedang mengambil pendidikan master di negara lain ketika itu. Saat mengetahui daddy memasukkan aku ke asrama ia sangat marah, dan mengancam daddy akan pergi juga meninggalkan nya sendirian".
"Tapi aku berbohong pada kakak ku. Aku bilang aku berada di asrama itu atas keinginan ku sendiri dan kakak percaya. Aku tidak mau melihat daddy dan kakak bertengkar terus menerus karena ku. Aku tahu daddy sangat bangga pada kakak. Baginya hanya Oliver yang mampu meneruskan bisnisnya. Dan aku pun berpikiran sama. Tidak ada yang sebaik Oliver memimpin perusahaan peninggalan orang tua kami. Sedangkan aku sampai kapanpun tidak berminat terjun ke dunia bisnis seperti mereka", ucap Elara tersenyum sambil menatap kedepannya.
Maxxie mendengar cerita Elara mencerna semuanya. "Aku tidak menyangka ternyata kalian bersaudara. Aku pikir kalian sepasang kekasih", ujar Maxxie menatap lekat gadis itu.
Ela membalas tatapan Max. "Sama. Aku pikir kau dan Olivia sepasang kekasih juga. Apalagi Asley memanggil mu daddy. Tapi wajah kalian sangat berbeda. Asley sangat mirip dengan kakak ku memiliki bola mata yang sama persis seperti milik Oliver".
"Aku senang ternyata kau dan Oliv tidak menikah", ucap Elara dengan lantang. Rona bahagia nampak di wajahnya. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman.
Maxxie menatap tak berkedip wajah Elara. "Kenapa kau senang kami tidak menikah, Ela?"
Mata Ela membulat sempurna. Spontan ia menatap Maxxie. "J-angan salah paham dengan ucapan ku. Aku senang Olivia tidak menikah dengan mu karena ia masih istri kakak ku. Dan aku tahu betul Oliver sangat merindukan Olivia. Aku senang mengetahui mereka di pertemukan kembali dan memiliki anak", ujar Elara memberikan alasan menutupi gugupnya. "Oh my God aku salah bicara", batin Ela.
"Begitu rupanya", balas Max yang masih dengan tatapan intens dan selidik melihat wajah Elara.
Elara terlihat salah tingkah jadinya. "Ya ampun Max, jangan melihat ku seperti itu. Kau melihatku seperti penjahat saja. Jangan berpikiran macam-macam pada ku", ketus Elara.
"Sebaiknya antar aku pulang. Hari semakin malam. Aku lelah sekali.."
"Alright. Ayo pulang. Tapi besok malam kau masih berhutang makan malam bersama ku. Yang sekarang tidak masuk hitungan. Besok kita dinner yang sebenarnya", tegas Maxxie sambil membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Elara yang terdiam untuk masuk mobilnya.
"T-api–"
Brugh..
__ADS_1
Maxxie menutup pintu bagian Ela. Laki-laki itu tersenyum penuh arti saat mengitari bagian belakang mobilnya untuk duduk di balik kemudi mobil mewah itu.
...***...