ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
SHOCKED II


__ADS_3

"D-addy M-om–"


Suara lirih Asley. Olivia masih bisa mendengarnya dengan jelas meskipun suara itu begitu lemah.


"Sayang...Tidakkk!"


Olivia menjerit panik melihat kepala Asley terbentur meja sangat kuat. Oliver tidak berhasil menangkap tubuh mungil itu. Oliver terduduk di lantai tepat di samping Asley yang terkapar.


Olivia segera memeluk tubuh anaknya. Ia sangat panik melihat mata Asley tertutup rapat dan tubuhnya tak bergerak.


"Mommy mohon, bangun sayang", ujar Olivia dengan panik sambil memeluk tubuh Asley.


Oliver menepuk wajah anaknya itu. "Jagoan, ayo bangun. Buka mata mu".


Jemari tangan Oliv mengusap kepala bagian belakang Asley, tangannya terasa basah dan lengket. Darah.


"Asley berdarah", teriak Olivia melihat tangannya.


"Oh tidak tidak. Sayang, kau harus baik-baik saja nak", ucap Olivia sangat panik.


"Kalian tidak boleh bahagia di atas penderitaan ku brengsek! Kau milikku Oliver. Wanita kampungan ini tidak berhak memiliki diri mu!", teriak Claudia histeris


Oliver hendak berdiri menghampiri Claudia, namun Olivia mencegahnya. "Aku mohon anak kita..."


Oliver tersadar, cepat-cepat ia mengangkat tubuh Asley. Menggendong nya. Oliver melihat Javier sudah ada diantara mereka.


"Segera hubungi dokter. Kau urus wanita gila ini, jebloskan dia ke penjara sekarang juga!", perintah Oliver dengan tegas. Wajahnya terlihat sangat dingin dan tak bersahabat.


Dengan langkah cepat Oliver diikuti Olivia pergi membawa Asley menuju rumah sakit.


Masih terdengar umpatan dan teriakan Claudia. "Kalian semua membusuklah di neraka. Aku puas... aku puas hahahaa. Anak itu akan mati. Kalian tidak akan menikmati kebahagiaan! Rasa bersalah akan menghantui kalian selamanya", teriak Claudia sambil memberontak ketika tangannya di cengkram kuat oleh keamanan. "Lepaskan aku brengsek! Jangan berani menyentuh ku!"

__ADS_1


Javier memerintahkan keamanan menyeret tubuh Claudia yang terus memberontak menolak di bawa keamanan. "Angkat saja kalau dia terus menyulitkan!", perintah Javier.


*


Oliver dan Olivia berdiri di sisi ranjang pasien, menatap Asley yang sedang di periksa dokter. Tubuh mungil itu tergolek lemah di atas tempat tidur. Matanya terpejam.


Sejak di dalam mobil tadi Olivia tidak bisa menahan air matanya. Tangannya menekan luka kepala Asley dengan jas kerja Oliver.


Sementara Oliver menggendong tubuh Asley dan memerintah sopirnya untuk cepat tiba di rumah sakit terdekat.


Hingga kini perasaan Olivia dan Oliver tidak tenang. Asley di nyatakan tidak sadarkan diri. Berulang kali Olivia mengucapkan kata-kata sayang untuk anaknya itu agar segera membuka matanya namun tidak ada respon dari Asley.


Beberapa menit berlalu, terlihat seorang perawat membawa amplop berwarna putih dan memberinya pada dokter.


Terlihat dokter langsung membukanya. Dari wajah dokter tersebut Olivia sudah tahu ada hal serius. Perasaan Olivia semakin tidak enak.


"Ada apa dengan putraku?", tanya Oliver.


Mendengar penjelasan dokter, seketika membuat tubuh Olivia gemetaran. Tangannya bertaut pada lengan Oliver. Seakan ingin menenangkan Oliv, Oliver mengusap lembut punggung tangan Olivia.


"Masih ada lagi yang harus saya sampaikan pada tuan dan nona. Dari hasil diagnosa, di temukan kelainan darah pada tubuh anak tuan. Kami menemukan kepingan-kepingan darah abnormal dalam tubuhnya", ucap dokter dengan prihatin.


"M-aksud mu anak ku mengindap kanker darah?", tanya Oliver memperjelas kondisi Asley.


Sontak saja tubuh Olivia limbung, begitu mendengar pertanyaan Oliver. Mendadak kaki Olivia terasa lemas tak berdaya. Ia ingin menghampiri Asley yang terbaring lemah di atas tempat tidur, namun kaki Olivia tak ada kekuatan.


Kristal-kristal bening pun tak tertahankan lagi. Seketika berlinang membasahi wajah Olivia. Oliver yang menyadari keadaan Olivia segera memeluk tubuh nya. Olivia menangis sesenggukan dalam dekapan laki-laki itu.


Sejujurnya Oliver juga sangat syok mendengar penjelasan dokter tentang anaknya. Namun melihat Olivia begitu, membuatnya berusaha tegar guna menenangkan Oliv.


"Kasus seperti ini bisa mengarah ke leukemia stadium awal, jika pasien tidak menunjukkan gejala-gejala seperti lemas, mual, demam terus menerus dan mimisan".

__ADS_1


Olivia menggelengkan kepalanya. "Asley selama ini selalu sehat. Ia tidak pernah sakit apalagi sampai di opname".


"Sebaiknya lakukan serangkaian pemeriksaan screening 


pada pasien. Terutama pemeriksaan darahnya, untuk melihat jumlah sel darah merah, sel darah putih dan keping-keping darah atau trombositnya.


"Bila saat pemeriksaan menunjukan hasil Hb, leukosit dan trombositnya turun, maka itu semakin menguatkan anak tuan dan nona mengindap leukemia atau kanker darah," kata dokter menjelaskan dengan terperinci.


"Tindakan apalagi yang sebaiknya dilakukan untuk kesembuhan anak kami? Lakukanlah pengobatan yang terbaik", ujar Oliver dengan wajah nampak begitu sedih.


"Jika hasilnya positif leukimia, sebaiknya Asley mendapatkan transplantasi sumsum tulang belakang. Sebaiknya pasien mendapatkan transplantasi sumsum dari orangtuanya".


Oliver mengeratkan pelukannya pada tubuh Olivia. Perasaannya benar-benar hancur mengetahui kondisi Asley.


Olivia tidak kuat mendengarnya. Ia menghampiri tempat tidur Asley. "Sayang mommy, ayo bangun. Kau akan baik-baik saja nak. Kau akan baik seperti sediakala", lirih Olivia dengan suara bergetar karena menangis.


Oliver mengusap lembut punggung Olivia. "Tenanglah Oliv, kita lakukan yang terbaik untuk anak kita. Aku tidak akan membiarkan Asley kenapa-napa. Aku janji akan melakukan apapun untuk anakku. Asley akan baik-baik saja dan sembuh seperti sediakala".


Isakan Olivia semakin menjadi. Ia benar-benar merasakan kesedihan mendalam sekarang. Olivia menghambur memeluk tubuh Oliver.


"Terima kasih kau ada untuk Asley", ucap Olivia sambil mengangkat wajahnya menatap lembut manik silver Oliver yang juga menatapnya.


Jemari Oliver mengusap air mata Olivia. "Tenangkan diri mu, hem. Besok aku akan memeriksakan diri ku, mempersiapkan diri kalau-kalau anak kita membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang".


"Aku juga akan mengikuti tes itu–"


"Tidak Oliv. Sekarang giliran ku. Kau sudah melakukan bagian mu selama ini. Melahirkan Asley tanpa suami di sampingmu dan merawat anak kita. Sekarang bagian ku melakukan nya", ucap Oliver membingkai wajah Olivia yang kembali menitihkan air matanya karena haru.


Olivia mengerjapkan matanya menatap Oliver dengan bibir bergetar. Pun Oliver menatap Olivia dengan tatapan sangat lembut. Keduanya saling menyelami dengan perasaan mendalam.


"M-ommy.."

__ADS_1


...***...


__ADS_2