ISTRI YANG TERBUANG

ISTRI YANG TERBUANG
PERNIKAHAN ELARA & MAXXIE


__ADS_3

Kedua netra Maxxie menatap lekat wajah cantik istrinya, sangat sempurna.


Max mendekatkan bibirnya, menyatu dengan bibir Elara. Dengan bergetar, Elara pun menyambutnya. membalas dengan penuh perasaan.


Max tidak mau menunda-nunda. Setibanya di suite room, laki-laki itu langsung mendekap tubuh Ela yang masih terbalut gaun pengantin lengkap dengan aksesoris. Begitu pun Max, masih memakai tuxedo lengkap.


Bunga mawar merah sebagai lambang cinta memenuhi kamar mewah itu. Aroma khas menyeruak, menambah suasana romantis.


Tanpa melepaskan pangutannya, jemari Maxxie melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuh Elara.


Tubuh Elara meremang, ketika satu persatu pakaiannya terbuka dan di biarkan teronggok di lantai.


Yang tersisa bra rendah berwarna putih dan panties tipis berwarna senada. Kedua manik hitam Maxxie tak berkedip menatap kagum tubuh seksi istrinya. Putih mulus tanpa cela sedikit pun.


"Kau sangat indah sayang", bisik Maxxie kembali me*umat bibir Ela dengan hebat.


Ela memejamkan matanya. Sejenak terdiam. Detik berikutnya membalas tak kalah hebat. Sementara jemari-jemari lentik nya membuka dasi, jas dan kancing-kancing kemeja berwarna putih Maxxie.

__ADS_1


Maxxie menundukkan kepalanya. Bibir semakin turun mengecup pudak. Sementara jemari tangannya membuai leher jenjang Ela. Elara memiringkan kepalanya dengan suara desis yang keluar dari mulutnya yang terbuka.


Buaian Maxxie semakin turun menyusuri lekuk tubuh sensitif Elara. Tangan Max meremas gunung kembar istrinya yang masih tertutup bra renda seksi bertali spaghetti. Hingga mulut laki-laki itu menghisap leher Ela dan meninggalkan cap kepemilikan di sana. Bibir Ela mende*ah dan melenguh.


"Ah, sayang... aku mencintaimu". Elara memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Perlahan Max mendorong tubuh Elara agar terbaring di tempat tidur.


Max kembali mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah cantik polos tepat di bawah wajah nya. Jemari tangannya mengusap lembut wajah itu. Seuntai senyuman menghiasi bibirnya.


Max kembali menautkan bibirnya pada bibir Ela yang bergetar dan terasa dingin. Mencecap rasa manis bibir ranum istrinya.


"Apa sentuhan ku mengingatkan mu pada Elland, hem?", Tanya Maxxie spontan dengan suara serak.


Elara kembali menggigit bibir bawahnya sambil menggelengkan kepala. Wajah itu terlihat pasrah dan memutih.


"Tidak. Aku gugup karena kaulah yang menyentuh ku. Untuk pertama kalinya aku di sentuh oleh laki-laki yang sangat aku cintai. Dan aku harap ia pun sama seperti ku, memiliki perasaan mendalam seperti yang aku rasakan", lirih Elara berucap dengan bibir bergetar dan mata menggerjap-ngerjap. Hazel coklat terang itu menatap lekat manik hitam pekat Maxxie hingga ke palung hati yang terdalam.

__ADS_1


Maxxie mengeryitkan alisnya mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Elara, begitu dalam makna yang tersirat di sana. Senyum bahagia terlukis di wajah tampan itu tepat berada di atas wajah Elara yang menatapnya penuh cinta.


"Sekarang tunjukkan pada ku bahwa kau benar-benar mencintaiku Elara Genya Lucifer!".


Elara tidak bisa mengontrol dirinya lagi mendengar perkataan Maxxie barusan, seolah-olah menantang sekaligus meragukan perasaan yang ia rasakan.


Ucapan Max nyatanya mampu membuat Elara bereaksi cepat. Jemari-jemari tangannya membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Maxxie tersenyum penuh arti, iapun tak tinggal diam membantu Ela meloloskan kemeja dan melemparkannya ke sembarang tempat.


Jemari lentik Ela menyusuri tubuh bagian depan Max, sementara jemari tangan Maxxie melepaskan pengait bra berwarna putih dan panties rendah berwarna senada milik Ela yang menutupi intinya.


Elara membingkai wajah tampan Maxxie, mengangkat wajahnya mendekatkan bibirnya pada bibir Maxxie. Tanpa malu-malu lagi, Elara me*umat penuh gairah dengan hasrat yang membuncah bibir suaminya.


Max tak bergeming, sengaja ia lakukan. Ingin tahu seberapa jauh sentuhan Ela pada dirinya. Walau sejujurnya laki-laki itu sudah tidak bisa menahan untuk membalas buaian Ela yang membuatnya sungguh bergairah.


Menyadari tanpa balasan Max, membuat Ela kesal. "Huh, apa ciuman ku tidak membuatmu bergairah? Atau kau masih merindukan ciuman Vivienne istri mu?"


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2