
"Bukan, aku hanya suka saja melepaskan adrenalin di jalur sirkuit. Setidaknya aku bisa mendapatkan uang tanpa harus menunggu jatah dari ayah," jawab Mikha jujur.
Gadis itu terlihat ingin bangun dari duduknya namun Roma langsung menghentikannya dengan isyarat tangan.
"Duduklah ku mohon," pinta Roma masih berusaha merendahkan suaranya. Sekalipun Mikha terkadang menjawabnya secara berapi-api.
"Untuk apa? Aku mau ke kampus!" sanggah Mikha sewot.
"Duduklah sebentar lagi. Bukankah obrolan kita ini belum berakhir maupun di akhiri?" pinta Roma lagi.
"Ck." Mikha berdecak kesal. Pasti dia akan terlambat mampir ke bengkel kalau begini ceritanya. Sementara dirinya sudah berjanji pada Fauzan akan membayar biaya perbaikan si Jalu pada hari ini.
"Mikha, tolong dengarkan saya dulu!" tegas Roma yang kali ini sanggup membuat Mikha mendaratkan lagi bokongnya di atas sofa.
"Tolong, jangan pergi begitu saja jika ada orang yang masih berbicara denganmu. Jangan meninggalkan urusan jika itu belum selesai di bahas. Bagaimanapun juga aku adalah pemimpinmu saat ini Mikha. Aku yang bertanggung jawab terhadap apapun masalah dan juga urusanmu. Segala biaya hidupmu, akulah yang memiliki kewajiban untuk menanggungnya. Jadi, mulai hari ini kita akan berangkat ke kampus dan juga pulang bersama," jelas Roma dengan tegas sehingga Mikha tak mampu membuka mulutnya.
Ingin sekali menolak tetapi, nyatanya ia memang membutuhkan ada seseorang yang membiayai kuliahnya. Dia juga butuh tempat tinggal yang layak dan nyaman.
Tak mungkin juga Mikha terus menghabiskan malamnya di arena balap liar hanya demi mendapatkan uang. Mikha pun memikirkan segala resiko yang akan ia hadapi nanti.
Meskipun kejadian penggerebekan semalam bukan yang pertama kali terjadi. Akan tetapi mau sampai kapan ia harus hidup di jalanan dengan segala hal yang tidak pasti dan sering membuat spot jantung begitu?
Mikha, jauh di dalam hatinya pun sebenarnya ingin hidup yang tenang dan damai dengan segala kebutuhan hidupnya serba terjamin seperti dulu kala ia masih kecil.
"Aku tidak mau berangkat denganmu. Aku tidak mau satu kampus tau hubungan kita yang sebenarnya," tolak Mikha terhadap perintah, Roma.
"Aku tidak akan menurunkan kamu di depan kampus persis. Tenang saja, aku pun telah mempertimbangkannya," jelas Roma.
Mikha pun mau tak mau menurut apa yang dikatakan Roma padanya. Karena lelaki itu dengan tegas melarangnya mengendarai si Jalu untuk pergi ke kampus.
Mereka berdua pun berangkat bersama menggunakan mobil milik Roma yang telah diantar oleh salah satu asisten
dari Choki.
"Katakan saja sebelum ke kampus dimana kamu ingin mampir lebih dulu? tanya Roma dari belakang kemudi.
"Apakah aku harus mengatakan padanya jika aku ingin menemui Fauzan di bengkelnya?"batin Mikha bingung.
__ADS_1
"Kalau aku tidak salah dengar bukankah kamu ingin mampir lebih dulu sebelum menuju kampus?"tanya Roma sekali lagi, seraya menegaskan bahwa apapun yang dilakukan oleh Mikha haruslah melalui persetujuan dan juga sepengetahuan dirinya.
"Aku ingin ke bengkel Fauzan teman lamaku, Aku ingin membayar hutang biaya perbaikan si Jalu," jawab Mikha dengan jujur.
Setelah mendapatkan penjelasan alamat dari gadis yang notabene adalah istrinya ini, Roma pun mengantar tepat sampai di depan bengkel Fauzan.
Hal pertama yang dilihat oleh Roma adalah keadaan dari bengkel tersebut yang seperti tempat servis motor pada umumnya.
Roma turun dari mobil setelah lebih dulu membukakan pintu untuk Mikha. Gadis itu tanpa meliriknya sedikitpun dan memilih berlalu dari hadapan Roma dengan rasa tanpa bersalah sama sekali.
Roma pun dengan cepat berjalan cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan gadis ketus ini.
"Ojan! Ojaaannn!" panggil Mikha kencang seperti biasa ia memanggil pria.
Mendengar panggilan Mikha yang lain dari pada yang gadis itu jelaskan padanya tentu saja membuat Roma bingung sekaligus heran.
"Kata kamu Fauzan, kenapa jadi Ojan?" selidik Roma dengan sedikit mengulik.
"Itu panggilan dari aku aja," jawab Mikha singkat.
Tak lama pria yang namanya sempat di perdebatkan oleh mereka berdua pun keluar. Dan kali ini Fauzan yang di kagetkan dengan kehadiran pria tampan di bengkelnya.
"Dia --," lama juga Mikha berpikir untuk menjelaskan siapa Roma ini.
"Kenalkan saya Roma. Apakah benar anda adakah orang yang telah memperbaiki kendaraan milik Mikha?" tanya Roma lagi ingin mendengar apakah jawaban keduanya itu akur.
Fauzan tidak akan menjawab sebelumnya justru laki-laki itu terlihat mencari cara untuk agar dapat mengimbangi masalah yang namanya bisa jadi terbawa kedalam ranah pribadinya.
Setelah mendapat anggukan pelan dari Mikha, Fauzan pun mulai berani menyapa dan buka obrolan.
"Siapa dia?" tanya jafran dan dengan tatapan mata yang penuh selidik.
"Pamanku," jawab Mikha santai. Sehingga Fauzan hanya membulatkan mulutnya itu.
Ketika Mikha baru saja ingin menceritakan bagaimana hasil balapan dan juga laju dari si Jalu setelah Fauzan memperbaiki kendaraan itu.
Roma tiba-tiba merangsek ke depan karena ia sama sekali tak merasa nyaman ketika, Mikha terlihat mengobrol dengan intens kepada pria yang bernama Fauzan ini.
__ADS_1
"Katakan berapa biaya perbaikan motornya?" tanya Roma to the poin.
"Em, itu saya kasih murah aja buat langganan Harga persahabatan," jawab Fauzan cepat dan asal.
"Ini, ada uang tujuh juta!" kata Roma seraya meletakkan tumpukan uang itu ke tangan Roma.
Fauzan seketika menoleh pada Mikha sekaligus bertanya lewat bahas tubuh.
Mikha menoleh pada Roma. "Kalau cuma dengan jumlah segitu juga aku punya uang," jawab Mikha sekali lagi, dengan sikap judesnya itu.
"Biar aku yang membayarnya!" tegas Roma, dengan disertai tatapan yang tak pernah setajam ini sebelumnya.
Mikha pasrah saja, karena tidak mungkin ia bertengkar dengan Roma di depan Fauzan.
Roma pun mengeluarkan uang yang berasal dari amplop coklat.
Tak lama kemudian Roma langsung menarik Mikha untuk keluar dari bengkel tersebut menuju kendaraannya yang terparkir.
"Gak usah pegang-pegang Mikha!" teriak gadis itu dimana pada saat ini Roma tengah tanpa sadar atau memang tidak sadar telah melakukan kesalahan.
Roma pun langsung melepaskan cengkraman tangannya pada lengan Mikha, setelah telinganya menangkap suara dari teriakan nyaring gadis tersebut.
"Maaf," ucap Roma singkat setelah keduanya masuk dan duduk.
Lelaki berhidung mancung itu kembali melajukan kendaraannya menuju kampus.
"Ingat, jika kamu memang tidak ingin hubungan kita diketahui oleh orang banyak. Maka respon aku di kelas seperti kita tidak pernah mengenal sebelumnya," kata Roma sebelum ia menurunkan istri kecilnya itu di halte bus.
"Tergantung Mood!" celetuk Mikha.
Roma sekali hal lagi hanya bisa beristighfar dan menghela nafasnya.
Ia tetap terus memperhatikan sampai Mikha di jemput oleh ojek online, yang memang mangkal tak jauh dari halte.
Sesampainya di kampus, ada dua orang wanita yang menarik Mikha ke bagian belakang kampus yang sepi.
"Lepasin gue! Siapa Lo dan mau apa?"
__ADS_1
...Bersambung ...