
Gue menidurkan Angel di ranjang. Gue berusaha tidak menangis didepan Angel padahal hati gue mencolos melihat Angel tidur dengan tangan terikat.
Gue memperhatikan sekitar, yang gue cari pertama kali adalah kemera CCTV. Ada satu disudut langit-langit kamar. Jendelanya terkunci rapat dan dipasangi terali. Mustahil bagi gue untuk melarikan diri dari sana.
Gue berbaring disebelah Angel. Mengistirahatkan pinggang gue. Perut gue kram dan lapar. Di kehamilan yang sudah masuk usia tiga bulan ini memang selera makan gue meningkat drastis
"Sabar, ya nak. Eomma janji begitu kita keluar dari sini, eomma akan turutin semua mau kamu." sambil mengelus perut gue.
"Eomma, eomma kenapa?" ternyata Angel sudah bangun.
"Angel sudah bangun?" peri kecil mengangguk.
"Kapan appa akan jemput kita, Eomma? Angel takut?" Angel kembali terisak.
"Ssstt Angel jangan nangis, ya. Angel sudah jadi anak kuat kan? Sudah belajar sama Kakek Madin." Angel menangguk.
"Kita harus yakin. Yakin kita bisa keluar dari sini. Eomma akan bawa Angel pergi dari sini." Angel merapatkan tubuhnya ke gue.
"Sekarang Angel bantu Eomma, bisa?" mendapat anggukan, gue berbisik ke Angel, "Angel mau sembunyiin senjata dibawah bantal. Angel berdiri didepan Eomma, biar Eomma kepang rambut Angel. Bisa." gue kembali dapat anggukan kepala.
Gue mencari posisi yang pas, dimana saat Angel berdiri didepan gue, tubuh Angel bisa menutupi gerakan tangan gue.
Yakin tangan gue tidak terlihat, gue berbalik badan, guememinta Angel untuk mengambil pisau lipat yang terselip di pinggang gue.
__ADS_1
Dengan cepat gue berbalik dan mengambil pisau itu dari tangan Angel. Menyembunyikannya dibawah bantal seperti rencana gue.
"Sudah." gue membelai rambut Angel. Membuka ikatannya dan merapikan rambut hitam putri kecil gue.
"Eomm, apa appa akan datang?" tanya Angel.
"Tentu. Appa super hero kita kan?" Angel mengangguk. "Jadi kita harus bertahan sampai Appa datang. Okey?"
"Iya, Eomma."
"Anak berani. Pikirkan hal yang menyenangkan. Bagaimana kalau kita berlibur setelah ini? Kita ke Seoul? Eomma belum pernah kesana."
"Ayo, eomma." Angel menjawab dengan riang. "Angel akan tunjukin tempat bagus ke eomma."
Ceklek.
Pintu terbuka. Gue menyembunyikan Angel dibelakang gue.
Sarah datang, berdiri didepan gue dengan sikap angkuhnya. "Wah... aku tidak menyangka kamu bisa menjadi ibu yang baik." Ledek nya.
Gue diam, hanya menatap wanita tua didepan gue dengan marah.
"Apa kalian merindukan Richard?" tanyanya. "Aku akan berbaik hati." Sarah mengeluarkan ponselnya. Melakukan sesuatu pada layar kan, yang kemudian aku tahu dia melakukan panggilan karena suara sambungannya terdengar.
__ADS_1
Sarah mendekat ke arahku. Menempelkan sebuah pistol di leherku. "Jika kamu ingin semua ini cepat selesai katakan pada Richard untuk memberikan asuransi itu padaku." ancam nya.
"Cih! caranya kuno sekali!" ganti gue yang meledek.
"Sarah? Sayang?!" suara Richard terdengar terkejut. Rupanya Richard sudah menjawab panggilan video Sarah, dan melihat Sarah yang sedang menodonhkan pistol kearahku.
"SARAH, APA YANG KAMU LAKUKAN?!" bentuknya. "Sayang, kamu dan Angel baik - baik saja?" wajah Richard gusar dan khawatir.
"Hei, appa. Kami baik, jangan khawatir." gue tersenyum.
"Cukup reuni keluarganya! Richard kalau kamu ingin istrimu" Sarah menekan pistol yang ada dileher gue lebih keras. "Dan anakmu selamat, balik namakan asuransi Rosaline menjadi namaku. Paham?! Waktumu dua kali dua puluh empat jam!"
"Kamu wanita tamak! Uang itu bukan hak mu!"
"Dua kali dua puluh empat jam, Rich." Sarah menegaskan. "Jika tidak aku tidak menjamin masa depan istri dan anakmu." Sarah membalikkan kamera ponsel nya.
Dari dipintu muncul Mr. Wong. Membuat kaki gue lemas. Bagaimana dia bisa keluar dari penjara?
Gue menatap Sarah dan Angel bergantian, *apa dia berencana memberikan gue dan Angel untuk sarapan aki mesum ini?
"SARAH*!" gue bisa dengar raungan Richard dari telepon sebelum sambungan telepon nya terputus.
...๐ผ๐ผ๐ผ Jangan lupa masukin list favorit ya, Like dan komen. Kasi bunga mawar buat Alana, Angel dan Richard gaes๐น๐น๐ผ๐ผ๐ผ...
__ADS_1