Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#29. Kedatangan Umma dan Abi.


__ADS_3

Muka dua Roma di sini dalam artian bahwa lelaki itu pandai sekali memainkan peran dalam satu waktu. Roma akan mengiriminya chat hanya untuk sekedar memberikan semangat padahal lelaki itu tengah sibuk memberikan materi.


Sementara, ketika di dalam kelas Roma tidak akan meliriknya sama sekali, apalagi sekedar menyapa. Pria itu benar-benar seakan tidak mengenalnya.


Lalu, kenapa saat ini hatinya seakan tak terima? Bukankah ini semua atas permintaannya? Dirinya sendiri yang tak ingin pernikahan keduanya di ketahui oleh publik.


"Hais, lu kenapa sih Mikha," batinnya.


Tak lama waktu istirahat tiba. Sebelum dari kursinya, Mikha lebih dulu mendapatkan sebuah notif dari ponselnya. Sebuah chat dari Roma yang nampak cuek di depan mejanya.


"Jangan lupa makan siangnya ya, Mikha yang manis. Di taman ya, area paling pojok. Boleh ajak teman kamu, pokoknya jangan di kantin." Begitulah isi pesan dari Roma. Mikha ingin sekali tersenyum tetapi, nanti dua kawannya ini pasti akan curiga.


Entah kenapa hatinya seakan tergelitik acapkali ia mendengar atau mendapatkan pesan dari Roma dengan gombalan seperti itu.


"Yok, ke kantin. Perut gue udah, keroncongan bin dangdutan," ajak Ichi yang memang paling tak bisa menahan lapar.


"Kalian aja deh. Gue mau ke perpustakaan," jawab Mikha yang tentu saja membuat kedua kawannya ini melongo seketika.


"Ngapain Lo ke perpus? Kayak kutu buku aja Lo!" ledek Ichi dan Ocha seraya tertawa geli.


"Terserah deh, Lo pada mau bilang apa kek. Pokoknya gue gak mau ke kantin!" Mikha lagi-lagi menolak ajakan dari si kembar manis. Hatinya lebih menuruti perintah dari pria yang terkesan dingin di depan sana.


Bahkan Roma seakan tak terganggu dengan ocehan berisik dari ketiganya. Tak lama pria itu pun berlalu dengan melenggang begitu saja .


"Gila ya. Dosen kita bener-benar good looking banget. Gue gak nyangka klo pas kuliah bakalan dapet pemandangan indah yang jadi salah satu motivasi gue buat berangkat ke kampus," kata Ocha. Terlihat sesekali gadis ini memperbaiki riasannya dengan memoles sesuatu ke wajahnya.


"Banyak banget deh yang deketin pak Roma. Tuh katanya si Janet sampe berani chat segala," kata Ichi.


"Weh, dapet darimana tuh jablay nomer hape pak dosen cakep?" tanya Ocha penasaran.


"Entah, anak-anak juga sama penasarannya darimana dia dapet tuh nomer kontak," kata Ichi lagi. Keduanya asik menggosip sementara Mikha sudah tidak ada di antara mereka.


Mikha berlalu pergi pada saat Ichi menyebut nama sepupu laknatnya itu. Hatinya seakan tak rela jika sampai Roma kenal dengan gadis benalu macam Janet.


"Kamu kok diam aja sih Mi --" Ocha tak meneruskan ucapannya pada saat gadis itu menyadari bahwa sosok Mikha sudah tak ada diantara mereka.


"Kemana tuh anak pergi?" heran Ocha dan sang adik Ichi. Keduanya pun memilih untuk keluar dari kelas yang sudah sepi itu.

__ADS_1


Mikha telah menemukan lokasi seperti yang ada di dalam pesan Roma. Kemudian ia mendudukkan dirinya pada kursi taman tersebut.


Memilih tempat yang tidak mendapatkannya perhatian dengan mudah dari para mahasiswa lain. Mikha mulai mengeluarkan tempat bekal makan itu dari dalam tasnya.


Seketika kedua matanya berbinar pada saat menangkap bentuk dari jenis makanannya yang dinamakan bento tersebut.



Seingatnya bahkan sejak kecil pun ia tak pernah mendapatkan bekal makanan seperti ini. Bagaimana bisa laki-laki itu membuatnya?


Mikha juga menemukan secarik kertas di sana. "Selamat makan Mikha yang manis. Jaga kesehatanmu dengan makan tepat waktu."


Kalo ini Mikha tak mampu lagi menyembunyikan senyum bahagianya. Hatinya seperti terdapat ribuan kepak sayap kupu-kupu yang berterbangan.


Perlahan Mikha menikmati yang telah tersaji di hadapannya sambil menahan rasa gemas. Sebenarnya sayang, merusak bentuk dari bento tersebut.


"Kenapa dia bisa semanis ini," batin Mikha sambil menggigit buah strawberry yang manis.


"Pantas saja dia menghabiskan waktu yang lama di dapur tadi. Ternyata menyiapkan ini," gumam Mikha lagi.


Sementara itu di apartemen, Annisa dan Choki yang merupakan kedua orang tua dari Roma telah sampai dan hanya bertemu dengan asisten rumah tangga yang bernama Lyra.


Annisa tersenyum menatap Lyra lalu menyapanya. "Jadi kamu yang namanya Lyra ya?" tanya Annisa memastikan.


"Iya, Nyonya," jawab Lyra singkat seraya menundukkan wajahnya. Sekilas gadis itu melirik ke arah Choki yang memasang wajah kaku.


"Panggil saja Ibu atau yang lainnya. Asalkan jangan memanggil saya dengan sebutan tadi," kata Annisa meralat panggilan Lyra padanya.


Gadis itu hanya mengangguk patuh.


"Kamu usia berapa, Lyra?"


"Delapan belas tahun, Bu. Saya baru saja lulus SMU," jawabnya.


"Masih muda sekali. Semoga kamu betah dan bisa bekerja dengan baik ya Lyra. Seperti peraturan yang anak saya katakan bahwa kamu harus datang setelah anak dan menantu saya berangkat ke kampus lalu kamu harus sudah pulang sebelum mereka kembali ke apartemen ini," jelas Annisa, dengan penjabaran yang lebih detil mengenai peraturan.


Lyra gadis muda yang cukup manis dan enak di lihat, meskipun kulitnya sawo matang. Bagaimanapun Annisa harus bisa menjaga keutuhan rumah tangga anaknya yang bagi seumur jagung itu.

__ADS_1


"Oh ya, Lyra. Jika pekerjaanmu sudah selesai, kamu boleh pulang ya," kata Annisa seraya menyerahkan basreng dan cimol krispi beraneka rasa untuk gadis itu bawa pulang.


"Wah, basreng! Kesukaan Lyra dan Ambu," pekik gadis itu nampak kegirangan sekali. Padahal Annisa hanya memberikannya dalam ukuran pouch yang kecil.


"Syukurlah kalau kamu suka. Ini adalah produk dari usaha saya yang mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada lebih dari seratus ribu karyawan," jelas Annisa bukan untuk menyombongkan diri. Tetapi, hanya ingin menegaskan bahwa camilan yang barusan di pegang oleh Lyra adalah bestseller yang mampu merubah banyak hidup orang.


"Masyaallah, Ibu hebat sekali!" puji Lyra penuh kagum. Boleh gak Abang saya ngelamar di perusahaan Ibu. Kasian udah enam bulan nganggur. Katanya, kalau bulan ini belum dapat kerja juga istrinya mau minta cerai," keluh Lyra terpaksa menceritakan kisah sedih saudaranya.


"Boleh, besok datang saja ke tempat ini," kata Annisa seraya memberikan sebuah kartu nama kepada Lyra.


"Baik Bu. Nanti sepulang dari sini saya akan langsung kabarkan kepada Abang. Terimakasih banyak!" ujar Lyra penuh syukur. Setidaknya wajah gadis ini ada cahayanya tidak redup seperti tadi.


Tak lama Lyra meninggalkan apartemen tersebut.


"Pantas saja wajahnya kusut dan cahaya matahari redup. Ternyata gadis itu tengah memikirkan nasib rumah tangga saudaranya," kata Choki yang baru mulai membuka suaranya pada saat gak ad lagi orang lain diantaranya ia dan Annisa.


"Ternyata kamu juga merhatiin dia, suamiku sayang?" tanya Annisa tegas dan dengan tatapan matanya yang menusuk..


Glek!


"Bu–bukan gitu, Khumaira ku," elak Choki sembari mengibaskan telapak tangannya. Sebelahnya lagi langsung mengusap tengkuknya yang seketika dingin ini.


Akan tetapi panggilan manisnya itu pun tak dapat merubah ekspresi ketus dari Annisa.


Annisa melewati suaminya dengan sengaja menyenggol bahu Choki, kemudian menata makanan yang telah ia bawa dari rumah.


"Bener kata aku, kalau kita kecepatan. Nih, buktinya Roma dan Mikha belum ada yang datang," kata Choki. Berusaha mengalihkan pembicaraan serta pemikiran dari Annisa.


Sebab, istrinya ini kalau sudah cemburu itu menyeramkan dan kejam.


"Kalau begitu, Annisa akan hubungi mereka," kata wanita berpakaian syar'i serta menutup wajahnya dengan niqob ini, begitu enteng.


__________


"Umma??" batin Mikha pada saat ia mendapatkan pesan dari Roma.


"Ngapain ke apartemen? Terus aku harus gimana?"

__ADS_1


"Gak gimana-gimana. Tetapi, kalau sampai Umma dan Abi tau, kalau kamar kita selama ini misah ... ah ini bener-benar, membuat kepalaku sakit seketika," ucap Roma dengan kerisauan yang nampak di wajahnya.


...Bersambung...


__ADS_2