
Janet menghela napasnya dan segera berlalu dari sana.
Sementara dirinya tersenyum miring tanda tengah merencanakan sesuatu yang tidak benar. Maka pada saat itulah, Roma dan Mikha nampak tertawa renyah di dalam mobil. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Mikha terbawa suasana hatinya sehingga kali ini gadis itu dapat tertawa lepas hanya karena hal receh.
"Kamu ... cantik banget kalo tertawa begini, Mikha," puji Roma sungguh-sungguh. Karena ia begitu terkagum-kagum pada Mikha yang terlihat lebih feminim.
"Aku gak ada uang receh buat nyawer kamu," ledek Mikha yang membuatnya kembali tersenyum.
"Gak usah pake recehan, di kasih senyum aja aku udah seneng kok," kata Roma dengan pujian sekilas yang mana hal itu kembali membuat kedua pipi Mikha bersemu merah.
Mikha membuang wajahnya ke luar jendela demi menutupi senyumnya yang menguar tak tau malu begitu saja.
Bisa-bisanya dia bersikap seperti ini, bahkan terbuai malu akan ucap serta rayuan dari seorang lelaki.
Mikha tersadar bahwa Roma berbeda dengan lelaki manapun yang pernah ia kenal sebelumnya. Tak ada satu cela pun yang dapat membuatnya tak suka apalagi membenci sosok di sebelahnya ini.
Sepanjang sisa perjalanan keduanya lantas terdiam tak lagi bicara. Tenggelam dalam pikiran masing-masing akan apa yang mereka nanti lakukan di villa.
Kebetulan, Aby Choki Zakaria telah menyewa resort milik salah satu sahabatnya yang berada di pulau Lombok.
Mikha merasakan gemetar pada kesepuluh jari kaki serta tangannya. Membayangkan tempat indah yang tentunya belum pernah ia kunjungi selama hidupnya.
Apalagi, kali ini ia akan berlibur dengan keluarga utuh yang penuh kehangatan.
Ya, Mikha secara tak langsung telah menganggap kedua mertuanya itu adalah keluarganya sendiri. Sebab, Umma Annisa dan Choki dapat memberikan semua yang dirinya inginkan seperti perhatian, cinta dan juga contoh tauladan yang baik.
Sebuah hal yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya. Apalagi, semenjak Mikha diambil alih pengasuhan oleh sang nenek.
Mikha hanya di cukupi dengan materi dan kebebasan dalam menentukan apapun. Bukannya merasa senang karena masa remajanya bebas dan bahkan lost kontrol, justru Mikha malah merasa jika dirinya itu sebenarnya tidak di sayang dan di acuhkan.
Tidak pernah ia rasakan cinta dan perhatian apalagi sebuah pelukan dan sapa serta tanya atas apa yang terjadi pada kisah hidupnya hari demi hari.
Hingga, Mikha bahkan tak ingat lagi kapan hari kelahirannya.
"Benar kan nanti malam kita akan menelepon Adiba?" tanya Mikha tak sabar.
__ADS_1
"Insyaallah. Lagi pula Adiba juga sudah menyetujuinya. Semoga tak ada halangan," jawab Roma.
"Aku sangat penasaran dengannya. Kalau di foto kan terlihat begitu imut dan manis. Ah, aku ingin sekali memiliki adik perempuan yang manis seperti itu," kata Mikha, menanggapi jawaban dari suaminya itu.
"Doakan, hadapannya cepat khatam agar adikku itu cepat pulang. Kamu semua, sangat merindukannya," timpal Roma.
"Adiba hebat. Niatnya sangat konsekuen dan Istiqomah. Kalian pasti bangga memilikinya," kata Mikha.
Roma mengangguk setelah mengusap sekilas ujung matanya.
Tak lama kemudian kendaraan tersebut berhenti di sebuah toko bakery. Roma membiarkan Mikha melihat-lihat beberapa pancake yang lucu dan nampak menggiurkan itu.
Lalu kemudian, Roma menunjuk pada salah satu kue lapis yang nampak lezat.
"Jadi, Umma suka bolu cake lapis?" tanya Mikha memastikan. Romaz suaminya hanya tersenyum manis dan mengangguk.
Singkat cerita, kini keduanya telah berdiri di depan pintu sebuah apartemen mewah. Dimana kedua orangtua Roma itu tinggal di sana.
"Assalamualaikum," ucap Mikha pada saat kakinya melangkah masuk.
"Wa'alaikum salam," jawab semuanya termasuk, gadis remaja yang mengenakan pakaian syar'i yaitu, Adiba Al Zakaria.
"Abang!" pekik Adiba juga yang memang dasar anak kecil alias remaja itu berlari dan langsung menghambur untuk memeluk Roma.
Roma tentu saja sangat senang dan langsung memeluk Adiba dengan erat.
"Adek nakal! Beraninya kamu ngerjain Abang ya," kata Roma dengan air mata yang meluncur begitu saja mengungkap bahagia serta kasih sayangnya.
"Aku, apa Abang nih yang nakal?" sindir Adiba yang sekilas melirik ke arah Mikha dan langsung mendapat sodoran tangan dari kakak iparnya itu. Adiba pun langsung meraih dan menciumnya takzim.
"Kakak ipar cantik. Sungguh tak rugi jika selama ini Abang menjaga hatinya," kata Adiba ambigu.
Membuat Roma langsung berdehem agar gadis remaja ini tidak meneruskan ucapannya.
Karena secara garis besar Adiba tau akan kedekatan hubungan persahabatan antara dirinya dengan Hanum kala masih kuliah.
Adiba nyatanya gadis enam belas tahun yang menginjak bangku Tsanawiyah sekaligus mondok di perguruan tahfidz Qur'an.
__ADS_1
Adiba dan Mikha hanya selisih dua tahun akan tetapi perbedaan mereka berdua terlalu mencolok. Sebeb, postur tubuh Mikha tinggi sementara Adiba sangatlah mungil.
"Kamu justru lebih cantik, Adiba. Muda dan sangat sejuk kala melihat wajah serta penampilanmu ini. Boleh gak aku peluk kamu?" tanya Mikha yang mana langsung di jawab oleh anggukan dan senyum lebar oleh Adiba.
Kedua gadis yang tak jauh perbedaan usianya ini pun saling berpelukan.
Mikha sangat senang karena pada akhirnya bukan hanya dapat melihat Adiba dari layar ponsel akan tetapi bertemu langsung dan bahkan memeluknya.
Roma yang melihat aksi keduanya lantas tersenyum bahagia, juga kedua orangtuanya yang tak lepas dari memandang putri serta menantunya itu.
"Ayok, Kak. Kebetulan kita lagi ngeteh tadi," ajak Adiba yang langsung mengakrabkan diri dengan kakak ipar perempuannya ini. Ia laksana menemukan sahabat baru yang akan menjadi temannya selama liburan ini.
"Adiba benar sayang, sekalian cobain cake buatan Umma," kata Annisa dengan aksen suara lembutnya.
"Kebetulan dong Umma. Tadi istriku ini mampir ke toko kue dan beliin temannya minum teh," kata Roma yang mana membuat Mikha langsung kaget dan menyodorkan paper bag dari tangannya.
Bulan keget karena apa, tapi sebab Roma yang mengatakan bahwa membeli kue kesukaan Umma Annisa ini atas idenya. Padahal, jelas-jelas tadi suaminya itu yang mengajaknya ke toko bakery serta menunjuk kue kesukaan Umma Annisa.
"Iyakah? Alhamdulillah, barokallah ya, Nak. Kamu tau aja bolu kesukaan Umma," sahut Annisa girang yang begitu nampak di wajahnya yang selalu cantik alami itu. Sekalipun usianya sudah gak lagi muda.
"Sama-sama, Um. Kebetulan aja Mikha beli bolu itu. Alhamdulillah kalau ternyata memang Umma suka," kata Mikha dengan raut wajah yang juga bahagia.
Nyatanya, kebohongan dari Roma membuat kedua wanita yang berarti dalam hidupnya ini dapat tersenyum bahagia di momen yang sama hanya karena sekotak bolu.
Bukan sekedar pemberian atau buah tangan semata, bagi orangtua.
Akan tetapi, sebuah pemberian meskipun sederhana, hal kecil seperti itulah yang justru mampu menyenangkan hati kedua orang tua kita.
Bahkan sampai mereka meneteskan air mata harunya.
_______
Di lain tempat, Janet sibuk mencetak foto-foto yang ia dapatkan barusan dengan jumlah uang cukup banyak.
"Liat aja nanti Mikha. Setelah libur dan kita kembali masuk kuliah. Maka di situlah akan ada sebuah kejutan yang gak bakalan pernah Lo bayangin sebelumnya dan enggak bakalan bisa Lo lupain!" batin Janet penuh niat licik di kepala serta hatinya ini.
"Foto-foto ini adalah senjata gue!"
__ADS_1
...Bersambung ...