
Mikha ke depan balkon untuk mengantarkan pisang goreng serta teh manis panas. Minuman yang biasa dikonsumsi oleh Roma dan juga sang ayah mertua kala si pagi hari.
Mikha membiarkan rambutnya tergerai karena sang ayah mertua halal melihatnya.
Mikha ingin balik badan akan tetapi, Choki memanggilnya.
"Sini temani kami, sekalian kamu juga sarapan," kata Choki.
Mikha menggeleng sambil tersenyum. "Abi aja sama Kak Roma. Karena Mikha mau bantu Umma di dapur," tolak gadis itu ramah dan sopan.
"Masyaallah, ya sudah sana bantu Umma kamu," kata Choki, senang karena Mikha mau main di dapur. Sementara jarang sekali anak jaman sekarang yang mau terlibat di area paling belakang rumah itu.
"Bagaimana rumah tangga kamu, Rom? Kalian bahagia?" tanya choki mulai mengulik apa yang ingin ia tau sejak kemarin.
"Alhamdulillah, kami bahagia By. Doakan kami terus ya By," jawab Roma seraya meminta doa pada ayahnya ini.
"Aby dan Umma selalu mendoakan anak-anak kami. Bukan hanya kamu, tetapi Adiba juga. Apalagi, akhir-akhir ini Umma rindu berat. Tapi, mau bagaimana lagi, Adiba tidak mau di jenguk," kata Choki Zakaria sambil mengadu pada lutra pertamanya.
"Adiba sangat konsisten dan serius dalam menggali ilmu. Semoga Allah mudahkan semua urusannya ya By," sahut Roma. Meskipun tersirat dalam hatinya kerinduan untuk sang adik perempuan satu-satunya itu, tetapi Roma juga tidak bisa berbuat banyak.
Adiba, hanya ingin fokus pada hafalannya. Sehingga ia menolak bertemu keluarga maupun bepergian pulang menengok kerumah. Adiba hanya sesekali mengirimkan surat.
"Aamiin. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita semua," ucap Choki penuh harap.
"Nak, bagaimana kalau kita berlibur berempat? Maksudnya, Aby hanya ingin menghibur Umma kamu dengan mengajak ke tempat yang dingin lagi sejuk," kata Choki meminta saran dengan maksud tertentu.
"Misalnya kemana tuh, By? Tempat yang dingin lagi sejuk?" tanya Roma memastikan. Karena ia tak berharap pergi ke luar negara akhir-akhir ini. Pekerjaannya cukup banyak di kampus. Belum lagi usaha sampingannya yang belum Roma beritahu kepada siapapun.
"Kita cari pegunungan yang vibes-nya bagus. Sekalian kamu ajak Mikha. Lagipula kan kalian juga belum honeymoon. Menurut kamu gimana?" cecar Choki membujuk Roma.
Ia tau jika putranya ini akan menolak dengan alasan sibuk akan pekerjaannya. Karena Itu Choki mengatasnamakan liburan ini untuk sang istri tercinta.
__ADS_1
"Nanti Roma cari waktunya biar gak bentrok ya By. Sekalian aku bicarakan dulu dengan Mikha," jawab Roma.
Choki Zakaria, yang semakin tampan berkharisma di usia matangnya ini pun tersenyum lega.
Ia yakin jika misinya pasti akan berhasil.
"Sepandai-pandainya kalian menutupi apapun masalah itu. Sebagai orangtua tentu saja kami peka akan keanehan dari hubungan kalian. Aby harap, rencana ini akan membawa kebaikan untuk kalian berdua anak-anakku," batin Choki.
Kembali ke dapur dimana Annisa hanya memberikan tugas yang mudah saja untuk Mikha. Seperti saat ini, gadis itu hanya di beri tugas untuk mengupas apel dan mengeruk alpukat.
Annisa akan membuat jus sebagai bekal makan siang untuk anak dan menantunya itu.
Selesai di dapur, Mikha membawakan hasil masakan ibu mertuanya itu ke meja makan. Sementara Annisa masih sibuk di dapur untuk membuatkan bekal.
Annisa tidak merasa terbebani dan justru ia sangat senang masih memiliki kesempatan untuk melayani anak serta menantunya itu.
"Rom, coba kamu lihat Umma di dapur. Ngapain sih kok lama banget. Aby udah lapar ini," titah Choki menyuruh putranya untuk menengok keadaan istrinya yang nampak sibuk di dapur.
"Mikha, Aby boleh nanya gak?" tanya Choki memberi serangan pada menantunya mumpung hanya mereka berdua di meja makan.
Tentu saja Mikha sontak menolehkan wajahnya.
"Boleh dong, By. Nanya aja," jawab Mikha tenang dengan senyum di wajahnya.
"Kamu ... bahagia gak nikah sama anak Aby? Roma baik kan sama kamu?" cecar Choki mencoba menelisik isi hati Mikha.
"Alhamdulillah bahagia, By. Kak Roma angkat baik pada Mikha," jawabnya singkat, lugas dan cepat.
"Apa, Roma selama ini pernah menuntut kamu ini dan itu? Maksud Aby, kalau ada yang tidak kamu suka dari putraku itu, Mikha ngomong aja ke Aby atau Umma ya. Nanti kaki berdua akan berusaha mencari jalan keluarnya. Jangan ceritakan kepada orang luar. Insyaallah, Aby dan Umma bukan niat ikut campur tetapi, hanya menawarkan diri sebagai tempat keluh kesah kalian," tutur Choki panjang dimana justru Mikha seketika merasakan panas menjalar di area kedua matanya.
"Aby berharap kamu bahagia menikah dengan putraku satu-satunya. Kami berharap pernikahan kalian itu langgeng serta awet sampai tua dan memiliki anak-anak yang lucu. Karena itu, kalau sekiranya ada masalah, bicarakan pada Aby atau Umma. Maka kami berdua akan membantu kalian mencari solusi berdasarkan syariat islam," kata Choki lagi yang saling sejuk menerpa kalbu Mikha.
__ADS_1
Gadis itu pun menunduk dalam hingga rambutnya yang tergerai itu merebak kedepan hingga menutupi bagian wajahnya.
Chiko yang bingung dengan perubahan sikap Mikha yang mendadak itu pun heran. Hingga jemarinya terulur untuk menyibak rambut Mikha.
"Kamu kenapa Mikha? Apa ada kata-kata Aby yang salah? Kalau iya katakan yang mana biar Aby perbaiki dan Aby mohon maaf," kata Choki khawatir.
Mikha pun menggeleng cepat. Choki menyampirkan rambut Mikha ke sela telinga.
"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba sedih?" tanya Choki lagi.
Mikha menoleh lebih dulu untuk melihat wajah yang bapakable banget di sebelahnya ini.
"Karena, setiap perkataan Aby masuk ke dalam hati Mikha. Aku jadi mendadak rindu sama ayah," jawab gadis itu serak yang artinya bahwa ia sedang menahan tangis.
"Kenapa gak kamu hubungi saja si Rudy itu. Dia juga pasti kangen sama kamu," kata Choki dengan sedikit tawanya.
Mengingat Roma menikah dengan Mikha, tentu saja Choki sama sekali tak menyangka bahwa putranya dengan putri kawannya itu akan berjodoh.
"Mikha, sudah menghapus nomer ayah. Boleh gak, kalo Mikha peluk Aby aja sementara," tanya gadis ini polos namun serius.
"Ya Allah, Mikha. Tentu saja boleh Nak. Kamu kan putri Aby," jawab Choki yang mana langsung merentangkan tangannya hingga Mikha menghambur cepat ke dalam pelukannya.
Mikha yang begitu tersentuh, seketika merasakan kehangatan mengalir ke setiap pembuluh darah di tubuhnya. Bahkan hatinya belum pernah merasa damai seperti ini sebelumnya.
Sementara itu dari pintu dapur.
Roma menghela napasnya pada saat sesuatu yang manis nampak didepan matanya.
"Nasib emang. Malah Aby yang dapet duluan pelukan dari Mikha. Lah aku yang suaminya aja belom," gerutu Roma dalam hati. Meski tak ayal bibirnya membentuk senyum juga.
"Ih, pelukan gak ngajak-ngajak," protes Annisa.
__ADS_1
...Bersambung....