
Mikha terkesiap pada saat tatapan keduanya beradu. Apalagi, tercetak senyum manis menawan di wajah Roma.
"Kenapa? Sampe segitunya liatin aku?" tanya Roma. Langsung saja Mikha mengalihkan pandangan serta berpura-pura sibuk melipat perlengkapan sholatnya.
"Aku lagi mikir bukan liatin kamu," elak Mikha.
"Mikir apa? Apa ada masalah? Bicarakanlah. Sesungguhnya suami istri itu adalah teman berbagi segalanya," kata Roma seraya mencecar apa yang tengah Mikha pikirkan saat ini.
"Aku gak suka berbagi apapun dengan orang lain kecuali dengan Ibu," tukas Mikha.
Roma mengangguk, Mikha takkan mau bercerita padanya karena gadis ini memang sulit untuk mempercayai orang lain. Bahkan jika mereka adalah keluarganya sendiri.
"Baiklah. Jika kamu memang tidak mempercayai manusia, itu tidak masalah. Tetapi, kamu harus percaya kepada Allah, bahwa setiap masalah jika kamu serahkan pada-NYA maka semua akan beres pada waktunya," kata Roma memberi nasihat agar Mikha dapat mengeluarkan beban dalam hati dan juga pikirannya.
"Kenapa aku harus percaya pada-NYA? Bukankah Allah yang mendatangkan nasib buruk serta kisah pilu dalam hidupku ini? Katakan, kenapa aku harus percaya pada yang memberi masalah dalam hidupku?" cecar Mikha dengan emosi yang nampak ia tahan untuk tidak meledak.
Roma tersenyum samar, setidaknya gadis ini sudah mau berbicara panjang lebar dengannya saja itu sudah lebih dari bagus sebagai berikut awal permulaan bagi mereka untuk bertukar pikiran.
Serta awal permulaan bagi Roma dalam mengenali serta mengetahui konflik yang membuat Mikha seperti sekarang ini.
"Tentu saja Mikha. Allah yang memberikan persoalan bukankah berarti Allah juga yang memiliki kunci jawabannya?" kata Roma bijak.
"Lalu, atas dasar apa Allah akan memberi jawaban dari permasalahan kita?" tanya Mikha lagi. Gadis ini tak jadi bangun dan kembali duduk di atas sajadah.
Roma semakin senang saja.
__ADS_1
"Itu semua, tentu saja karena kasih sayang Allah kepada kita," jawab Roma.
"Kalau memang Allah sayang, lalu kenapa Allah memberikan persoalan yang sulit serta menimpakan masalah yang sangat berat untuk dipikul?" cecar Mikha lagi. Napas gadis ini sudah mulai memburu karena emosi yang hampir meledak dari dalam dadanya.
Roma kembali tersenyum sebelum menjawab pertanyaan istrinya ini.
"Tentu saja karena Allah ingin mencetak hambanya menjadi manusia yang cerdas lagi bijaksana. Manusia yang kuat dan tegar, karena hidup bukan sebatas bersenang-senang. Hidup adalah perjuangan. Seperti kamu yang seorang mahasiswa. Kenapa dosen memberikan tugas yang susah dan terkadang berat untukmu? Apa niat dari dewan kampus kepada para mahasiswanya? Apakah hanya semata-mata ingin mendidik atau menyiksa?" balas Roma.
Mikha sempat terdiam menelaah jawaban dari Roma yang terakhir.
Tak lama kemudian, Mikha mendongak dan menatap pria di hadapannya lekat.
"Maksud kamu, Allah memberikan masalah hidup kepada kita nyatanya untuk membentuk kepribadian kita, begitukah?" tanya Mikha lagi.
Dan seperti perkiraan Roma bahwa istrinya ini adalah wanita yang cerdas. Mikha dapat menangkap setiap penjelasan darinya.
"Mikha. Sesungguhnya jika Allah menghendaki semua manusia ini menjadi baik itu bukanlah hal yang sulit dan Allah tidak untung karena itu. Sebaliknya, jika semua manusia di dunia ini berkepribadian buruk maka itu bukanlah satu hal yang membuat Allah rugi," tutur Roma.
"Kalau tak rugi, kenapa harus ada konsekuensi bagi manusia?" pertanyaan Mikha semakin kritis dan hal itu bukanlah masalah besar bagi seorang Roma.
"Contoh kecil dan mudah begini. Jika seorang dosen atau guru memberikan tugas atau soal ulangan pada murid-muridnya. Apakah semua murid akan menjawab benar semua? Tentu tidak kan. Karena di dalam kelas itu terdapat beragam murid dengan kelebihannya masing-masing. Lalu, jika ada murid yang mendapat nilai tinggi karena jawabannya benar semua lalu ia mendapatkan predikat sebagai siswi yang pintar. Siapa yang diuntungkan dalam hal ini? Murid yang mengerjakan soal atau guru yang memberikan soal?" tanya Roma menguji cara berpikir Mikha.
"Mikha, jika kamu, bisa menjawab pertanyaannya ini maka aku akan membiarkan kamu terus balapan liar," kata Roma lagi.
Mikha justru terdiam. Seharusnya dia senang bukan karena setidaknya Roma memberikan penawaran padanya. Akan tetapi, jawaban yang ia temukan justru menohok batinnya sendiri.
__ADS_1
Kenapa Mikha saat ini semacam melempar senjata dan tapi terkena jidat sendiri. Seperti bumerang, yang berbalik kembali kepadanya. Setiap pertanyaan dan serangan yang Mikha lemparkan justru membuat mata hatinya perlahan terbuka. Hanya tinggal menyingkirkan sisi egoisnya saja.
"Kapan mau nonton DVD," kata Mikha mengalihkan pembicaraan.
"Kamu, belum menjawab pertanyaan yang terakhir. Seharusnya kamu dengan sangat mudah menemukan jawaban tersebut," tagih Roma.
Mikha lebih dulu menarik napasnya dalam. Karena pada dasarnya dirinya sering sekali menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi dalam dirinya.
Kenapa kedua orangtuanya harus berpisah dan menelantarkan dirinya. Kenapa sang ayah harus menyakiti ibunya sehingga ia ditinggalkan begitu saja. Kenapa dia harus tinggal bersama nenek dan juga sepupu yang bermuka dua serta menyimpan iri dengki padanya sejak dulu. Banyak sekali pertanyaan Mikha yang di awali dengan kenapa.
"Mikha mengerti sekarang, setiap persoalan maupun ujian dari Allah demi mendewasakan kita serta menaikkan derajat, level atau kelas seperti ketika belajar di sekolah maupun universitas," jawab Mikha lugas.
Roma tersenyum puas. "Kamu benar dan tepat sekali. Karena itu, cari awal mula setiap persoalan maka kita akan menemukan kunci untuk menyelesaikannya. Intinya, lapang dada dan bersabarlah. Karena terhadang setiap cara penyelesaian dari setiap persoalan itu berbeda-beda tergantung tingkatan kesulitannya. Bukan begitu, Mikha yang manis," tutur Roma yang mulai berani menggoda istri kecilnya ini.
Tak ayal, Mikha pun mendadak salah tingkah karena ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan rayuan gombal seperti itu dari sosok pria yang terkesan kalem dan cuek ini.
"Hemm," jawab Mikha singkat seraya memalingkan wajahnya demi menyembunyikan semburat merah muda yang secara tak tau malu main mencuat begitu saja.
"Karena kamu pintar sehingga bisa menjawab setiap pertanyaan. Mulai sekarang kamu bebas kalau mau ikut balapan liar. Tetapi ... jika memang itu bertujuan bukan sebagai pelarian dari setiap masalah yang kamu hadapi. Karena, jika kamu balapan motor karena hobi, aku bisa daftarkan kamu ke sirkuit resmi," tutur Roma.
Sontak, ucapan Roma barusan laksana tamparan bagi Mikha. Sebab selama ini ia melakukan hal itu hanyalah demi pelarian dari emosinya yang tak tersalurkan.
Bagaimana pria ini bisa mengetahui apa yang ia rasakan dan maksud dari apa yang ia lakukan selama ini? Bahkan, sang nenek dan bibinya saja tak pernah peduli akan apa yang Mikha lakukan di luar sana. Begitulah isi dalam pikiran Mikha.
"Kenapa setiap ucapannya serta analisanya selalu benar?"
__ADS_1
"Kita nonton film aja deh sambil kamu mikir. Siapa tau nanti dapat Ilham," ajak Roma sekaligus memberikan sindiran halus pada Mikha.
...Bersambung...