Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#34. Obrolan Tengah Malam.


__ADS_3

"Karena ini sudah tengah malam mungkin dan cuaca nampaknya kurang bersahabat. Makanya lebih baik kita tidur," kata Roma mengajak Mikha untuk membatalkan rencananya.


"Bagaimana dengan nama baik raja malam? Bagaimanapun aku harus keluar," kata Mikha yang masih bersikukuh dengan keinginannya.


"Terserah kamu lah. Tuh lewat saja jendela sana!" ketus Roma.


"Idih, kamu gila ya. Nyuruh aku mati dong klo lewat jendela!" gemas Mikha yang rasanya ingin sekali memukul kepala Roma dengan bogem mentahnya.


"Ya, habisnya kamu gak bisa ngerti. Apa perasaan orangtua kita setara dengan harga dua puluh juta. Apa kamu gak bayangin gimana sedihnya hati mereka karena mengetahui bahwa kita gak bahagia sungguhan," tekan Roma.


Mendengar ucapan Roma, pada akhirnya Mikha pun mendudukkan bokongnya di pinggiran tempat tidur. "Kamu benar. Meskipun aku gak peduli perasaan Rudi. Tetapi aku peduli dengan perasaan Umma dan Aby," kata Mikha yang sontak membuat Roma ikut duduk di hadapannya.


"Terimakasih, karena kamu masih mau memikirkan perasaan kedua orangtuaku. Tetapi, sebenci apapun kamu terhadap om Rudi. Tetap saja kamu harus memanggil dirinya ayah. Jangan karena hanya kebencian yang belum tentu kamu ketahui kebenarannya maka hal itu menyebabkan kamu merendahkan sosoknya. Bagaimanapun, kamu tak akan terlahir di dunia ini dengan menjadi sosok Mikha yang seperti sekarang ini tanpa perjuangan yang di warnai dengan darah dan juga keringat seseorang ayah," kata Roma dengan nada bicara yang mulai lembut seperti biasa.


" Aku tidak akan pernah menjadi anak yang durhaka hanya karena seorang laki-laki yang tidak bermoral seperti Rudi!" pekik Mikha penuh amarah yang terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Maaf Mikha. Bukannya aku bermaksud membela om Rudi. Tetapi, menurut cerita Aby selama beliin mengenal ayahmu dan juga selama penglihatanku selama ini, sepertinya om Rudi tidaklah seburuk apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku emang gak tau apa permasalahan kalian sebenarnya dan aku juga gak tau gimana perlahan om Rudi sama kamu. Tetapi, seingatku dulu kamu enggak seperti ini. Dulu kamu adalah!! Mikha yang manis dan penurut. Kamu bahkan sudah hafal juz amma ketika masih usia lima tahun," tutur Roma seraya menatap ke dalam manik mata Mikha.


"Kamu ingat aku pas umur lima tahun?" tanya Mikha dengan pandangan menyelidik.


"Iya akhirnya aku ingat. Kalau anak kecil yang gendut itu kamu," jawab Roma seraya menyembunyikan tawanya dengan menunduk sambil menutup mulut.


"Ih, aku gak gendut cuma chubby!" elak Mikha.


"Iya, pokonya kamu tuh emang udah menggemaskan dari kecil sampe sekarang," kata Roma jujur dari dalam hatinya.

__ADS_1


Tak ayal, semburat merah jambu pun langsung tercetak jelas di wajah cantik natural gadis maskulin ini.


"Jujur aja sih, sekarang kau pasti banyak sebelnya kan sama aku?" tebak Mikha.


"Iya emang sebel, alias seneng betul," batin Roma seraya tersenyum simpul. Ia harus mengakui bahwa lama-kelamaan hatinya kepincut juga sama Mikha. Sosok gadis gak biasa yang telah menemani serta mewarnai hari-harinya yang monoton lebih dari sepekan terakhir.


"Dia ini kenapa senyum-senyum gitu, dih," batin Mikha heran.


"Mikha, saran dari aku kamu lebih baik selidiki dulu gimana ayah kamu yang sebenarnya. Karena dalam Islam pun ada aturannya pada saat kita mendengar ataupun mendapat kabar dari orang lain, siapapun itu. Kita harus memastikan kebenaran cerita dengan cara mencari tau yang sebenarnya dari pihak kedua atau kalau bisa langsung dari sumbernya," tutur Roma lagi.


"Apa iya? Selama ini aku terlalu percaya terhadap apapun yang disampaikan oleh nek Sum," ucap Mikha yang kini mulai terbuka pada sosok pria di hadapannya.


"Bisa jadi. Coba kamu ingat-ingat lagi perkataan nenekmu dengan pengalaman yang kamu miliki bersama om Rudi. Apakah masuk di akal jika beliau seburuk itu? Sementara, selama ini om Rudi masih bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kebutuhanmu. Tentunya sebelum kita menikah. Karena, Aby sengaja memutus pemberian uang jajan serta uang sekolah untuk kamu karena semua itu kan memang sudah menjadi tanggung jawab aku," jelas Roma.


"Oh ya, aku sebenarnya ingin bertanya tentang ini."


"Em, yang pernah ku dengar bukankah kewajiban dari suami itu hanya memberi nafkah kepada istrinya? Maksud aku uang belanja gitu?" tanya Mikha.


Roma tersenyum manis sebelum pria ini menjawab pertanyaan istrinya. Roma sangat senang karena Mikha lambat laun menghargai kehadirannya karena sudah berani banyak bertanya sekarang.


"Jadi gini Mikha yang manis," kata Roma memulai kalimat jawabannya.


"Gak usah gombal langsung jawab aja!" ketus Mikha dengan bibir yang mengerucut ke depan.


"Ya ampun gemes banget. Dia pake manyun segala lagi," batin Roma.

__ADS_1


"Ih, aku gak gombal kali. Itu seriusan, kan kamu emang manis banget. Makanya aku lagi ngurangin kadar gula sekarang," kata Roma yang semakin berani menggoda istrinya ini.


"Apa hubungannya?"


"Ya aku takut kelebihan kalori aja. Soalnya kan yang aku liat tiap hari manis banget, yang aku konsumsi juga banyakan yang manis kayak nasi kopi, roti dan lainnya," terang Roma yang mana ucapannya itu membuat Mikha tak sengaja mengeluarkan senyumnya.


"Duh kan, makin manis aja deh," puji Roma tulus dan jujur.


Puk!


"Diem deh gak usah godain aku!" protes Mikha dengan kedua manik mata yang membulat sempurna.


"Lah emang kenapa? Kan enggak dosa, udah istri sendiri ini," balas Roma seraya terkekeh sambil menepuk bantal yang ada di pangkuannya.


"Ih malah ketawa. Mikha gak lagi stand up komedi ya!" tekan gadis itu lagi yang sebenarnya tengah mati-matian menahan tawa juga.


Entah kenapa malam ini bawaannya Mikha ingin melepaskan semua yang ada di dalam dadanya. Karena gagal balapan maka Mikha merasa ia harus menumpahkan semua uneg-unegnya kepada Roma.


"Terus aku harus nangis gitu, hem?" goda Roma yang mulai berani memandangi wajah Mikha dengan intens.


"Serius dong, pertanyaan Mikha kan belum di jawab," ucapnya yang langsung membuat Roma menegakkan tubuhnya.


"Mikha, kamu dengarkan baik-baik ya. Tanggung jawab seorang laki-laki atau suami terhadap istrinya itu bukan hanya sebatas nafkah. Tetapi terhadap keseluruhan dari kebutuhan dari sang istri tersebut. Karena pada saat ijab qobul sang pria telah mengambil alih peran sang ayah ke bahunya. Karena itulah kukatakan bahwa pernikahan itu tidak bisa di anggap permainan atau hal yang tidak serius. Karena tanggung jawab seorang suami terhadap istrinya itu sangatlah besar bahkan sampai menyangkut dunia dan akhirat," jelas Roma lagi sampai Mikha tak berkedip pada saat mendengar penjelasannya.


"Kenapa bisa dunia dan akhirat? Bukankah akhirat itu urusan masing-masing manusia terhadap Tuhannya?" cecar Mikha lagi mulai kritis.

__ADS_1


Ayo ... penasaran Roma mau jawab apa???


...Bersambung...


__ADS_2