Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Pov Author


Madin memberi perintah pada para anak buahnya. Garong dan Semar membawa sepuluh orang lainnya bagian melumpuhkan. Satu Snipper ditugaskan untuk berjaga - jaga. Jangan tanya gimana caranya Madin punya Snipper (karena nanti akan akan di MADIN THE ALFA OF THE PANDAWAS ๐Ÿ˜)


Richard fokus mencari Alana, Blue menyelamatkan Angel. Ecco urusan pembersihan CCTV. "Gue mau Sarah, Wong dan Codet hidup - hidup. Paham?" perintah Madin melalui earpiece nya.


"Tabrak gerbangnya." Perintah Madin.


"Gue bisa buka, gue udah kontrol rumah Wong." Jelas Ecco.


"Gue mau kasi mereka kejutan." Madin mengedipkan sebelah matanya.


"Jijik gue." ledek Ecco yang melihat kerlingan mata Madin. "Gue dapet gambar Lana dan Angel."


Ecco bersiul melihat gambar Alana. "Tutup mata mu, sialan!" Richard mendorong tubuh Ecco.


"Dia lebih napsu sama lu ketimbang Alana, Rich. Lu tenang aja. Ha... Ha.. ha..." jawab Blue sambil tertawa dan...


BRAGH!!


Blue benar - benar menabrak gerbang rumah Wong. Penjaga dirumah mulai berhamburan keluar melihat apa yang terjadi dan mulai menembaki mobil - mobil yang masuk.


Blue mempercepat laju mobil guna menghindari peluru, BRAGH! Blue menabrak pintu utama hingga jebol.


"Anj*r! Kasi aba - aba, sat." maki Ecco yang terpental saat Blue menabrak pintu.


Blue cengar - cengir, "Kejutan, sat." balasnya dengan makian penuh cinta.


Richard yang isi kepalanya sudah dipenuhi oleh Alana tidak memperdulikan kedua orang itu. Ia langsung membuka pintu dan menembak siapapun yang ada di depannya. Dor dor dor.


Richard berlari menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Mencari pintu yang tadi Ecco berikan.


Ia melihat dua penjaga didepan pintu, dan mungkin saja Wong sudah menunggunya di dalam, Richard merutuki dirinya sendiri yang tidak menanyakan hal kecil seperti ini pada Ecco. Ia tidak boleh gegabah.


Richard berjongkok ketika tiba dianak tangga terakhir. Sedikit mengintip untuk memastikan posisi bidikannya.


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dua peluru melesat keluar dari ujung pistol Richard.


Satu telat mengenai kepala musuh, satu lagi mengenai dada kiri. Richard berjalan mendekati pria yang selamat, menendang jauh pistol yang berusaha digapainya dengan sisa tenaga yang masih ia punya.


Dor!


Tanpa ragu Richard menembak kepalanya.


Richard membuang kasar napasnya ke udara, bersiap menghadapi apapun dibalik pintu ini.


Pistolnya dalam posisi siap. Tangannya yang lain siap membuka pintu. Richard menghitung dalam hati.


Satu


Dua


Tiga


Di hadapan nya, Mr. Wong duduk dengan santai di kursi meja rias, sedangkan seorang anak buahnya menahan Alana sambil menodongkan pistolnya dipelipis istrinya.


Wajah Alana pucat, ia sudah kehilangan banyak darah. Luka dipaha Alana sudah tertutup kain. Darahnya masih keluar dan membuat warna kain itu berubah menjadi merah.


"Mari kita buat ini lebih menarik, Rich. Lawan anak buah ku, one on one. Jika kamu berhasil mengalahkan kelimanya, aku akan menyerahkan Alana padamu." Mr. Wong memberi jeda.


"Tapi, setiap kali kamu kalah, aku akan membuat luka baru ditubuh istrimu ini." Mr. Wong berdiri berjalan mendekati Alana dan memandangnya dengan jijik.


"Kira-kira berapa lama dia bisa bertahan? Dan jangan lupakan janin yang ada dirahimnya. Waktu mu tidak banyak Rich, dan kamu tidak punya pilihan." Mr. Wong tersenyum puas.


Richard melawan dua orang pertama tanpa kesulitan berarti, tapi tidak di orang ke tiga. Orang ini ternyata mempunyai ilmu bela diri yang baik. Dia bisa memukul Richard hingga terpental di jurus kedua.


Dengan mudah orang itu mengangkat Richard dan membanting nya keatas meja. Richard meraung kesakitan. Tangan kirinya terkena pecahan kaca.


"Bersiaplah untuk melihat luka baru ditubuh istrimu, Rich." Mr. Wong memprovokasi.


Alana sendiri sedang berjuang menahan gairahnya. Tangan Wong yang menyentuh kulitnya membuat tubuhnya semakin terbakar. Ia juga harus menahan sakit akibat luka yang ia buat sendiri.

__ADS_1


"Appa, tolong aku. Aku sudah tidak tahan. Richard aku mau kamu." racaunya. Alana mengibas kibaskan pakaiannya. Dia merasa benar-benar panas.


Melihat istrinya menderita seperti itu, membuat Richard terpacu untuk menyelesaikan pertarungannya. Sampai Richard teringat sesuatu.


Richard berguling, menghindari musuhnya. Mendekati pistol yang tadi ia buang.


Dor!


Dor!


Dor!


Dengan cepat ia menembak pria yang menjadi lawannya dan calon lawannya.


"Richard!" Mr. Wong geram.


"Tidak ada larangan menggunakan senjata." Richard mengarahkan pistolnya pada Wong.


"Tembak saja, Aku pastikan Alana akan pergi ke akhirat bersamaku!"


"Sayang, liat aku. Kamu percaya padaku, kan?" Alana mengangguk lemah.


"Sayangnya, aku tidak berniat mengirimu ke akhirat dengan cepat." Ledek Richard, dan


DOR! Richard melepaskan pelurunya.


Nah lo... siapa yang ditembak dan siapa yang menembak? Alana atau Wong?


*****


*Maaf yah sering telat up, anak emak lagi sakit, masih bulak balik ke RS dan di rewel banget. Tapi diusahakan bisa up kok.


Jangan lupa Like dan komen ya gaes... aku seneng lohh baca komen kalian.


Kasiin mawar buat Alana, Richard dan Angel ya๐Ÿ˜๐Ÿ˜, kalau vote seiklasnya aja. Kalian enjoy baca tulisanku, emak udah seneng banget kok.


Salam sehat semuanya๐Ÿ™*

__ADS_1


__ADS_2