Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Delapan Puluh Empat


__ADS_3

"Sakit, Eomma." lirihnya.


Pandangan gue menyapu seluruh tubuh Angel. Kata Marlin Angel tidak mengalami luka serius, hanya memar didahinya. Angel harus dirawat karena dehidrasi dan membuatnya merasa tenang.


"Mana yang sakit, hum?"


Gue melihat Angel menunjuk bagian bawahnya. Bagian inti tubuhnya. Napas gue tertahan. Gue berharap bukan apa yang gue pikirkan.


"Apa yang terjadi sayang, ceritakan sama Eomma."


"Angel lagi tunggu Eomma datang, terus ada satu om-om masuk ke kamar. Om itu bilang gak akan nyakitin Angel, tapi Angel takut Eomma, wajahnya om itu serem."


"Sudah sayang, jangan cerita lagi. Kita gak usah ingat om itu lagi, yah. Om itu gak akan datang lagi. Eomma akan tendang om itu kalau berani datang lagi." Gue berusaha menahan emosi gue. Tanpa Angel cerita seluruh kejadiannya, gue bisa menerka apa yang terjadi sama peri kecil gue.


Gue gak akan biarin orang yang udah ngerusak putri gue selamat. GAK AKAN!


*****


Kaki Wong dan Sarah terantai. Mereka berdiri ketika melihat gue dan Richard datang.


Tubuh mereka dengan luka. Entah penyiksaan apa saja yang sudah mereka terima.


"Cepet bunuh aku." Wong berteriak.


"Wah... Uwak Madin sudah memberikan sambutan pada kalian." Gue duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh penjaga. "Sudah makan?" Wong dan Sarah menatap gue dengan tatapan jijik.


"Beri mereka makan."


"Cih! Gak usah sok baik!" nyonya tua ini rupanya belum mengerti situasi yang akan dia hadapi.


"Siapa bilang gue sedang berbaik hati? Gue hanya memberi kalian sedikit tenaga agar tidak mudah mati." mereka tampak terkejut sekarang.

__ADS_1


"Appa tolong ucapkan salam pada mereka. Kita lebih muda bukan?" hampir saja gue melupakan tata krama.


"Tentu sayang." Richard mendekati kedua tawanan gue.


BUG! Richard memukul wajah Wong tanpa ragu. PLAK! Kemudian mendaratkan tamparan dipipi Sarah.


Gue mengulurkan tangan ke Richard. Menenangkan emosinya. Kami berdua sama marahnya mengingat bagaimana Wong menjual Angel pada predator anak.


Angel diperlakukan sangat kasar oleh pria itu. Tidak ada kelembutan sekali seolah Angel barang yang hanya berfungsi untuk memuaskan gairahnya.


Jiwa keibuan gue berubah menjadi malaikat pencabut nyawa melihat laki-laki itu memaksa Angel dari depan dan dari belakang.


Tak lama kemudian, makanan datang. Makanan yang layak untuk dimakan. "Makan!"


"Lebih baik aku mati! Aku tidak sudi makan dari pemberianmu."


"Tidak akan seru jika kamu mati dengan mudah Sarah." Wanita ini benar-benar membuat kesabaran gue habis.


"Paksa dia makan." gue memberi perintah pada penjaga.


Wong yang melihat Sarah diperlakukan dengan kasar, ikut memakan makanannya. Pilihan yang bagus dari pada disuapi oleh penjaga.


Sarah kesulitan menelan makanannya hingga sesak napas. Tapi gue gak akan secepat itu berbaik hati memberikan minum padanya.


Gus biarin aja untuk beberapa saat Sarah kesulitan bernapas. Sarah mencoba mengambil oksigen sebanyak mungkin tapi tidak sanggup, wajahnya mulai memerah karena kekurangan oksigen, matanya melotot karena panik dan meminta bantuan bersamaan.


Setelah hampir dua menit, gue minta penjaga untuk membantu Sarah.


Gue tersenyum pada Sarah. Bergantian memandang kedua orang tua ini. "Jadi bilang ke gue, siapa laki-laki yang kalian bawa ke Angel?"


Wong berdecih. "Itu balasan yang sesuai karena sudah menghancurkan bisnisku."

__ADS_1


"Wah... sepertinya kamu belum sadar kalau yang memisahkan mu dengan kematian hanya garis tipis."


Gue bangkit dari duduk. Gue menggeleng ketika Richard hendak membantu.


Gue memilih pisau dari sekian banyak senjata yang ada diatas meja.


JLEB!


"Aaaaaahhhh!" Wong dan Sarah berteriak bersamaan saat gue menancapkan pisau dipaha Wong.


Wong berteriak kesakitan sedang Sarah berteriak karena terkejut.


"Berisik. Jahit mulutnya."


Sarah menggeleng antara takut dan menolak. Tapi siapa yang perduli. Tiga orang datang mendekati Sarah. Dua memegangi tubuh dan kepala Sarah, satu lagi mulai menjahit mulut wanita ular itu.


"Aahhh tidak! Tidak!" Gelenggan kepala Sarah tertahan.


"Aaaahhh!!" teriak kesakitan nya menggema di. seluruh ruangan hingga lama kelamaan suara teriakan itu berganti dengan rintihan pilu.


Darah mengalir di dagu, leher hingga membasahi bajunya. Air mata dan peluhnya menjadi satu. Gue bisa lihat tubuh Sarah gemetar, pasti rasanya sakit luar biasa.


Gue mereka cabut pisau yang masih tertancap dipaha Wong, lagi-lagi teriakan bergema mengisi seluruh ruangan yang memang Uwak buat khusus untuk mengeksekusi musuhnya.


"Rawat lukanya. Gue gak mau tahu besok pahanya gak boleh terasa sakit lagi."


"Siap."


Gue dibantu Richard meninggalkan ruang eksekusi. "Apa rencanamu sayang?" Richard menoleh sejenak menatap gue kemudian kembi fokus pada kemudi.


"Hal yang sudah lama ingin aku lakukan Appa." Richard seperti paham arti tatapanku, ia membalasku senyumanku dengan mencium punggung tangan ku.

__ADS_1


"Aku akan menyukainya sayang."


"Ayo Appa, aku ingin menemani Angel." Richard mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit.


__ADS_2