Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#55. Demi Kesejahteraan Bersama.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Mikha hanya bisa tersenyum dengan binar mata penuh takjub.


Pemandangan indah di sepanjang perjalanan sungguh memanjakan mata dan juga pikiran.


Keluarga Alberto sangat hangat, mereka bergantian mengajak Mikha berbicara. Dari yang awalnya Mikha cukup sungkan dan malu, tapi lama-kelamaan gadis ini terbawa kehangatan keluarga dari suaminya ini.


Mikha menatap wajah-wajah mereka satu persatu dengan binar bahagia dah penuh syukur. Tak menyangka bahwa ada keluarga yang mau menerimanya dirinya apa adanya tanpa syarat. Tanpa mengungkit awal pertemuannya dengan Roma. Tanpa menelisik bagaimana kehidupannya dahulu.


Dirinya merasa di terima di sini tanpa ada yang merasa iri ataupun berniat menjatuhkannya. Mikha ingin menangis melihat ini semua. Hatinya sangat tersentuh karena memiliki kesempatan merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semua orang perhatian padanya.


Menghormatinya juga memikirkan bagaimana perasaanya.


Kendaraan tersebut berjalan semakin jauh dari jalan raya yang ramai kendaraan. Suasana semakin terasa sejuk dan damai.


Jalanan juga semakin lama semakin berkelok tanpa terasa mereka semua kini sedang menanjak menuju bukit.


Hingga sampailah mereka kini di sebuah penginapan yang terletak tak jauh dari puncak bukit.


Suasananya sangat asri dan sejuk karena di kelilingi dengan pepohonan yang hijau. Bahkan sejauh mata memandang yang bisa di lihat adalah hamparan bukit hijau bak karpet membentang.


Turun dari mobil tersebut semua orang terlihat menarik napasnya dalam-dalam.


Menghirup udara bersih yang takkan mereka temukan di kota.


Guide menbawa para tamu spesial ini menuju kamar mereka masing-masing.


Adiba memutuskan untuk menyewa kamar sendiri. Ia tak mau menganggu para pasangan yang terdiri dari tiga generasi ini.


Senyum bahagia dan bangga terbit di wajahnya yang tertutup niqob.


Bersyukur karena keluarganya di berkahi rumah tangga yang awet hingga usia senja bagi Oma dan Opanya serta usia perak bagi Aby dan ummanya.


Adiba pun berharap rumah tangga sang Abang juga awet dan harmonis seperti yang lainnya.


Roma menuntun istrinya menuju kamar mereka. Pada saat di dalam Mikha langsung membekap mulutnya takjub.


"Masyaallah," ucapnya, seraya melangkah menuju balkon.


Pada saat itulah, di sana ia dapat melihat betapa sejauh mata memandang hanya melihat pepohonan dan hutan. Terdapat juga kolam renang pribadi di resort yang sengaja di sewa oleh Alberto.


Akan tetapi, kamar yang di sewa untuk pengantin baru ini sangatlah spesial karena terdapat jacuzzi di dalamnya.


"Waw, Aby benar-benar memikirkan kesejahteraanku," batin Roma pada saat dirinya menemukan ruangan ini.

__ADS_1


Pikirannya pun langsung traveling jika saja Mikha mau di ajak berendam bersama lalu mereka berdua akan ...


Ah, seketika khayalan dalam kepala Roma menjadi liar.


Pria ini menghampiri Mikha yang masih menikmati pemandangan yang hijau berikut air terjun yang nampak jauh namun terlihat menggoda.


"Mikha, aku mau bersih-bersih dulu ya. Nanti kalau ada yang mengirimkan makanan maka terima saja. Itu adalah layanan kamar demi menyambut kita.


Mikha yang seketika menoleh karena merasa di panggil itu pun hanya menjawab dengan anggukan pelan.


Mikha kembali ke dalam dan mengambil pakaian ganti di dalam kopernya. Pada saat itulah hidungnya menangkap aroma yang harum menelisik kedalam indera penciumannya.


Seketika itu juga Mikha mendongak mencari asal muasal aroma yang memancing hormon testosteronnya.


Betapa kaget hingga kedua manik matanya membulat sempurna pada saat Roma sang suami keluar dari bilik kamar mandi dengan piyama handuk saja. Rambutnya yang masih basah meneteskan air manja melewati garis wajahnya yang tegas itu.


"Oh ya Allah, kenapa dia begitu tampan kalau setiap habis mandi? Apa KAU sengaja agar aku tergoda ya Allah?" batin Mikha yang pada saat ini hanya bisa memalingkan wajahnya seketika.


Seraya mengontrol degup jantungnya yang berdebar sangat cepat.


"Kenapa wajahnya begitu? Aku kan masih menutupi tubuh dengan piyama handuk ini?" batin Roma heran tapi sebenarnya gemas melihat ekspresi malu-malu dari istrinya.


Dengan jahil, Roma sengaja berjalan mendekat ke arah Mikha.


"Kamu mau ngapain mendekat kesini? Pake baju dulu sana!" seru Mikha yang tak mampu lagi mengontrol reaksi panik dalam dirinya.


Roma tak menggubris peringatan dari Mikha ia tetap berjalan mendekat dan semakin dekat dengan istrinya.


"Emang kenapa? Kan aku juga tertutup, atau mau aku buka aja?" goda Roma seraya memegang kedua sisi ikatan pada piyama tersebut.


"Eh, enggak!" teriak Mikha sambil menahan tangan Roma agar tak membuka simpul ikatan piyama tersebut.


Tak ayal tangannya pun menggenggam punggung tangan Roma yang dingin. Sejurus Kemudian, keduanya sama-sama mendongak untuk saling menatap satu sama lain.


Roma menatap wajah istrinya itu semakin dalam dan lekat. Tanpa sadar karena hanya mengikuti nuraninya saja pria itu justru memajukan wajahnya.


Mikha yang tak bisa atau memang tak mau hanya memejamkan matanya saja bersiap menerima sesuatu yang ingin suaminya itu lakukan saat ini.


Cup!


Tabrakan benda kenyal nan basah itu pun tak dapat terelakkan lagi. Mikha semakin terhanyut dan menikmati hal yang kedua kalinya ia rasakan ini.


Tangan Roma terulur untuk merangkul pinggang istrinya dan yang sebelah lagi menekan tengkuk Mikha agar gadis itu tak bisa lepas lagi dari pagutan serta sesapannya itu.

__ADS_1


Mikha yang memang juga menikmati pun, hanya bisa menerima. Sesekali gadis itu akan menimpali permainan dari Roma.


Ciuman yang awalnya malu-malu itu lama-kelamaan menjadi semakin panas dan menggebu. Mikha tanpa sadar menarik tali simpul yang membuat piyama tersebut tak dapat lagi menutupi tubuh atletis Roma.


Tangannya yang halus tanpa sengaja menyentuh kulit dada Roma yang dingin.


"Ah." Terdengar desah kecil dari bibir Roma karena pria itu merinding disko seketika.


Bibir Roma yang otomatis terbuka pun melepas ciuman dari Mikha.


Kedua manik mata mereka pun bertabrakan lagi dalam pandangan. Kali ini tatapan Roma sudah semakin sayu.


"Tangan kamu nakal juga ya," celetuk Roma yang mana langsung mengingatkan Mikha akan kelakuannya.


"Eh, i–itu gak sengaja!" teriaknya mengelak dan menyanggah perbuatannya barusan dan berdalih bahwa itu semua terjadi karena ia terbawa suasana saja.


"Sungguh Mikha gak bermaksud--" Mikha terkesiap dan gadis ini tak mampu lagi meneruskan kalimatnya, pada saat jemari tangannya yang tak mampu ia kontrol itu malah bergerak cepat dan kasar kebawah hingga menyentuh dengan keras bagian menonjol di bawah sana.


Bagian pusat tubuh Roma yang sudah berdiri karena terpancingnya birahi akibat sentuhan jemari Mikha. Walaupun katanya tak sengaja, namun terlanjur membangunkan apa yang sejak tadi resah itu.


"Kau menyentuhnya Mikha?" tanya Roma dengan kedua mata yang mendelik kaget.


"Aaaaaa ...Mikha gak sengaja!" teriaknya sambil berlari begitu saja masuk kamar mandi.


_______


Sementara itu di kamar yang lain.


"Masyaallah By, suasananya ini mendukung sekali," kata Annisa seraya melihat pandangannya sekeliling dari balkon kamar tersebut.


Choki segera menghampiri sang istri dan merengkuh pinggang itu dari arah belakang. Kecupannya singgah sebentar di pucuk kepala Annisa.


"Semoga, malam ini putra kita belah duren, sayang," bisik Choki yang mana membuat Annisa kegelian.


"Diamlah jangan banyak bergerak. Pantatmu sudah menyenggol si Otong dan membangunkannya," bisik Choki lagi penuh penekanan.


"Ow, ow, ow! Kayaknya Aby gak mau kalah deh dari Roma," goda Annisa dengan senyum menggoda karena pada saat ini ia telah membuka niqob-nya.


"Iya dong, kan Aby juga mau belah nangka."


"Dasar, tua-tua keladi!"


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2