
"Kejar Mimpimu, Num. Tolong, jangan kau berhenti karena aku," ucap Roma dan kemudian terlihat jika lelaki ini ingin bangun dari duduknya.
"Kak, please jelasin ke aku ... kenapa kamu bicara seolah-olah kita gak akan mungkin bisa bersatu? Toh, perasaan kita ternyata sama Kak. Dan aku akan mengorbankan beasiswa aku demi bisa menyatukan perasaan kita. Lagipula, aku masih bisa kuliah di kota ini. Agar tetap bisa berbakti pada suamiku nanti," jelas Hanum yang semakin jelas kemana arah maksud pembicaraannya ini.
Maka, semakin sesak pula yang di rasakan oleh Roma.
Bolehkah dia berkata seandainya? Bolehkah dia berpikir jika saja? Atau, bolehkah dia memohon pada Tuhan untuk mengulang waktu beberapa hari ke belakang? Maka, Roma tidak akan mengikuti saran kedua teman laknatnya itu untuk mengadakan pesta wisuda mereka. Tentu dinikahkan dengan gadis yang sama sekali tidak ia cintai maupun cinta padanya.
Tapi, sayangnya tidak boleh berpikir seperti itu. Karena semua yang terjadi dalam kisah hidup kita di dunia sudah menjadi gak prerogatif Allah yang tak bisa di ganggu gugat oleh manusia dan mahluk apapun itu.
"Kita gakkan bisa bersatu, Num."
"Kenapa Kak? Bukankah sudah jelas bahwa kita berdua nyatanya memiliki perasaan dan mimpi yang sama?" cecar Hanum bahkan gadis ini pun ikut berdiri dan maju satu langkah. Sehingga, Roma harus mundur dua langkah ke belakang.
Roma memejamkan matanya untuk kemudian menghela napas dan menggeleng pelan. "Aku ... sudah menikah."
Duarr!
Bagaikan mendengar suara petir di siang terik. Hanum begitu kaget dan tak percaya atas apa yang ia dengar.
Hanum bahkan, membekap mulutnya dan tanpa sadar gadis itu berjalan mundur ke belakang untuk kemudian kembali terduduk karena lemas. Roma hampir saja menggerakkan kakinya untuk melangkah maju dan mendekat. Karena ia benar-benar merasa tak tega melihat derai air mata itu perlahan membasahi pipi Hanum.
"Ma–mana mungkin," cicit Hanum. Karena ia tau apapun yang keluar dari bibir lelaki yang sangat di kenalnya ini sudah pasti sebuah kejujuran. Roma tak pernah berbohong kepadanya sekalipun, selama mereka kenal.
"Maafkan aku," lirih Roma seraya menekan pangkal hidungnya. Berharap hal ini dapat menggagalkan air mata itu keluar dan jatuh berderai.
_________
Tepat pukul tiga, Mikha benar-benar datang kembali keruangan Roma. Keduanya berjanji di suatu tempat. Dimana para mahasiswa lain ada kemungkinan tak dapat melihat kebersamaan mereka.
Roma tepat muncul di area belakang kampus. Mungkin untuk ke depannya lokasi ini akan menjadi tempat langganan bagi Roma untuk mengantar jemput Mikha. Ketimbang menurunkan gadis itu di halte bis. Roma tetap merasa tidak tenang.
__ADS_1
Tak seperti biasanya, Roma tak bersuara sedikit pun di depan kemudi. Ia nampak serius melihat ke depan jalan ataukah, ada yang memang sedang ia pikirkan.
"Siapa? Siapa wanita yang beruntung itu, Kak?" Pertanyaan Hanum tadi terus terngiang di telinga Roma. Dan dirinya hanya bisa berjanji untuk mempertemukan mereka suatu hari nanti setelah Hanum bisa menerima semua kejadian ini dengan lapang dada.
Ia tidak mungkin mengenalkan Mikha sebagai istrinya. Sementara, gadis yang berada di sebelahnya ini saja tak menganggapnya sebagai suami. Sekalipun, Mikha bahkan belum pernah mencium tangannya.
"Dia ini kenapa? Tumben gak ada omomgnya. Biasanya juga nanya ini itu?" heran Mikha dalam hati. Sekalipun, sebelumnya pada saat Roma banyak tanya maka dirinya akan kesal setengah mati.
"Aku nanti malam mau keluar, bawa jalu," kata Mikha memecah keheningan di dalam kendaraan roda empat itu. Jalan cukup lengang karena waktu belum memasuki jam sibuk kantor.
Roma yang pikirannya masih melayang kemana tau, tiba-tiba menoleh cepat ke arah gadis yang duduk di sebelahnya ini. "Apa kamu bilang? Malem-malem mau keluar terus bawa motor sport kamu itu?" tegas Roma lagi memastikan pendengaran takut salah.
"Iya, lumayan hadiahnya jika aku bisa mengalahkan pendatang itu," jelas Mikha.
Ckittt!
Seketika Roma menghentikan laju kendaraannya secara mendadak.
"Kamu ini kenapa sih!" kesal Mikha seraya mengajukan protes terhadap apa yang terjadi pada keningnya.
"Kau mengagetkanku, Mikha. Apa maksudnya kamu mau balapan?" cecar Roma dengan ekspresi kaget.
"Iya, taruhannya dua puluh juta," jawab Mikha santai.
"Apa katamu? Taruhan!" Semakin kagetlah Roma pada saat ia mendengar kalimat selanjutnya dari bibir tebal Mikha.
"Biasa aja kali ekspresinya. Lumayankan, setidaknya aku itu bisa meringankan beban kamu. Kalo aja aku sering di tantang dan memang, aku pasti gak kan butuh siapapun untuk menanggung hidup aku ini," ucap Mikha seenaknya.
"Astagfirullah!" Roma menghela napasnya. Kenapa hari ini bisa ada hal berbarengan dengan kasus berbeda yang membuat jantungnya hampir copot.
"Mikha, kamu tau gak apa hukum dari uang hasil taruhan?" tanya Roma menguji pengetahuan Mikha seraya menatap gadis di sebelahnya ini lekat.
__ADS_1
"Hukum apa? Ilegal maksud kamu? Kan aku gak mencuri?" kata Mikha dengan polosnya menjawab seperti itu.
"Meskipun kamu tidak mencuri, lalu apakah hasil yang kami dapatkan itu bisa di bilang halal? Dan juga Legal?" cecar Roma lagi.
"Aku tidak sedang melakukan kriminal. Tak ada yang kami rugikan selama beraksi. Kami juga tidak pernah anarkis ataupun merusak properti umum," elak Mikha tetap membenarkan perbuatannya.
Roma langsung memijat pelipisnya yang seketika nyut-nyutan. "Gadis ini benar-benar tak tau apapun," batin Roma.
"Kita akan bicarakan kembali hal ini di apartemen," ucap Roma pada akhirnya, karena dirinya tak mau terbawa emosi pada saat mendengar sangkalan demi sangkalan yang akan keluar terus dari mulut Mikha.
Roma paham, jika istrinya ini adalah gadis yang keras kepala.
"Kenapa harus pulang dulu ke apartemen sih? Kan tinggal bilang iya aja," sungut Mikha pelan. Dan, Roma masih bisa mendengarnya ternyata.
"Ya Allah. Kuatkan aku, dan berikan kesabaran yang luas untukku," batin Roma. Karena ia tau hal ini nanti pasti akan menjadi perdebatan yang alot.
Sementara, Roma harus terus menjaga ketenangannya serta emosinya. Semoga Allah selalu membimbing dirinya, itulah salah satu harapan Roma. Selain berharap dengan cepat gadis itu jatuh cinta padanya dan mau menerima keadaan serta takdirnya.
Dengan begitu, maka akan lebih mudah bagi Roma dalam menerapkan ilmu demi merubah kebiasaan Mikha.
Salah satu pekerjaan serta tugas yang teramat berat bagi seorang Roma. Apalagi, sifat Mikha cukup keras.
"Apapun yang terjadi, aku tetap akan menjalankan rencanaku," batin Mikha yang menerka akan terjadi hal rumit sepulang mereka ke apartemen nanti.
"Mikha, bersihkan tubuhmu dulu, solat lalu kita bicarakan lagi," titah Roma yang ingin mendinginkan lebih dulu hati dan kepalanya agar ia dapat mengambil langkah bijak nanti pada saat menghadapi Mikha dan segala penentangannya.
"Aku mau ngomong sekarang. Pokoknya apapun yang mau kamu katakan, aku akan tetap balapan!" Setelah mengatakan keinginannya Mikha pun masuk dalam kamar.
"Tidak, ya Allah. Dia gak boleh keluar malam ini," batin Roma dengan sebuah rencana yang tiba-tiba masuk kedalam otaknya.
"Jangan salahkan aku, Mikha."
__ADS_1
...Bersambung ...