
"Kenapa Ayah harus menyembunyikan ini semua? Kenapa Ayah diam saja, di saat semua orang membencimu?" cecar Mikha, yang mana rasa penasarannya itu timbul lantaran tak terima akan tuduhan yang di sematkan pada ayahnya.
Juga pada saat ia mengetahui sebuah kenyataan yang sesungguhnya tentang sang ayah, dimana selama beberapa tahun belakangan ini ia benci setengah mati.
Bahkan perpisahan keduanya antara ayah dan ibunya itu mencetak lubang trauma dalam hati serta jiwa Mikha itu sendiri dengan luka yang cukup lebar.
Sehingga, dirinya terlanjur menciptakan stigma yang jelek terhadap sosok laki-laki. Kadung kehilangan kepercayaan di saat hatinya terasa patah kala itu.
Betapa jahatnya mereka yang telah menyampaikan kisah yang salah terhadap dirinya. Serta membuatnya memiliki kepribadian yang tidak seharusnya.
"Nak, inilah yang Ayah takutkan jika kamu mengetahui semuanya.Sebaiknya, Mikha cukup tau saja dan tidak perlu merasa bersalah pada Ayah. Sungguh, biarlah semua Ayah yang tanggung, kesalahan dan juga kelemahan dalam menghadapi ibumu. Ayah juga minta maaf, karena telah menyerahkanmu pada nenek. Tapi, semua itu percuma jika harus di sesalkan. Tinggal sekarang, saat ini. Bagaimana sikap dan tindakan kita untuk mengubah dan memperbaiki semuanya," tutur Rudy.
Mikha hanya bisa mengangguk pasti sambil menyusut cairan hidung serta mengusap air matanya.
Sudah cukup lama ia menangis di pelukan sang Ayah. Rasanya lumayan lega dan mencukupi harapannya yang mana sangat ingin merasakan lagi kehangatan dari dekapan Rudy.
"Hapus air matamu itu. Nanti wajah kamu jadi jelek tuh, kelopak bengkak gitu kan nanti suami kamu bingung. Udah ya, intinya sekarang hubungan kita baik-baik saja," kata Rudy seraya mengusap kepala putrinya itu dengan penuh kasih.
Di perlakukan begitu, justru air mata Mikha semakin deras mengalir.
Gadis ini begitu menyesal telah begitu benci kepada sosok ayah yang sangat penyayang seperti Rudy. Pria itu juga sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Sehingga Rudy rela dan ikhlas menanggung semua biaya dari kakak serta keponakannya.
__ADS_1
Sayang, Janet serta ibunya tak pernah menghargai perjuangan serta pengorbanan yang telah di berikan oleh ayahnya itu.
"Ayo," ajak Rudy pada sang putri setelah ia memastikan wajah gadis itu tanpa air mata lagi. Mereka yang berada di balkon pun kembali masuk kedalam ruang tamu utama mansion Alberto tersebut.
Roma adalah pria yang lebih dulu tersenyum dan meraih tangan Mikha lalu mengusapnya perlahan. Tatapan pria itu menelisik jauh kedalam perasaan yang pada saat ini tengah sang istri rasakan. Roma paham, istrinya itu sedang menahan rasa yang membuncah di dalam dadanya.
Karena itulah, Roma berpamitan pada semua. Membiarkan para orang tua membicarakan kelanjutan pembahasan mereka mengenai jalannya rencana resepsi maupun tasyakuran nanti. Dirinya ingin menenangkan perasaan Mikha terlebih dulu.
"Kok kita pulang Kak? Aku kan--"
Roma lebih dulu menempelkan telunjuknya ke depan bibir sang istri.
"Aku tau, kamu butuh tempat dan waktu," kata Roma.
Roma mengehentikan laju kendaraannya mencari tempat yang tepat untuk memarkir mobilnya. Lalu mengajak Mikha turun dengan menggandeng tangannya.
"Kak--"
"Ayo!" ajak Roma memotong kata yang hendak sang istri ucapkan.
Roma lantas mengajak Mikha untuk duduk ke sebuah kursi panjang. Kemudian ia pun ikutan mendudukkan dirinya di hadapan sang istri yang mana matanya telah kembali basah. Nampaknya, Mikha tau maksud dari suaminya itu.
__ADS_1
"Mikha, udah jahat sama ayah. Aku udah jadi anak durhaka yang membenci ayahnya sendiri!" makinya pada diri sendiri.
"No, Sayang. Kamu enggak kayak gitu," bantah Roma yang langsung meletakkan kepala sang istri pada dadanya yang bidang.
"Aku yakin, Om Rudy pasti menerima serta memaklumi sikapmu selama ini. Kamu gak boleh mencerca dirimu sendiri seperti itu, Mikha. Kamu adalah anak yang baik, karena itu kamu melakukan hal ini dan berniat menjernihkan semuanya, kan," kata Roma, lembut dan mengena.
Roma terus membisikkan kata demi kata pujian sambil mengelus punggung Mikha demi untuk menenangkan hati Istrinya itu. Karena ia paham latar belakang trauma wanita yang telah ia nikahi ini tidaklah bisa dianggap sebuah hal yang sepele.
"Mikha menyesal, Kak. Kasihan juga ayah," ucap Mikha dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Lalu, Roma mengusapnya dengan ujung ibu jarinya dengan lembut.
"Istriku yang cantik dan baik, menyesal itu perlu dan harus. Karena dengan begitu maka dosa-dosa yang kita perbuat sebelumnya akan luntur," jelas Roma dengan senyum yang terus menghias wajah tampannya.
Mikha menatap sepasang mata di hadapannya yang penuh kejujuran serta ketulusan itu. Lalu ikut tersenyum dan kembali merebahkan kepalanya dalam pelukan suaminya.
"Terimakasih, Kak. Sudah mengerti perasaan dan memberikan waktu untuk Mikha menangis sepuasnya," ucap Mikha pelan dengan mata terpejam.
Tanpa keduanya sadari ada seseorang yang menyadari keberadaan mereka di tempat ini dan kemudian mengambil kesempatan dengan mencuri gambar kemesraan dua insan tersebut.
Cekrek!
"Asik dah. Dapet lagi bukti baru. Makin yakin aja gue, klo elo emang sok suci Mikha!"
__ADS_1
...Bersambung....