Istriku Bad Girl

Istriku Bad Girl
Bab#31. Terpaksa Satu Kamar Bag 2.


__ADS_3

Roma langsung terkaget pada saat pandangannya mengikuti arah telunjuk Mikha. "Astagfirullah, maaf!" pekiknya seraya berlari hendak masuk ke dalam ruangan untuk berganti pakaian.


Akan tetapi, karena begitu terburu-buru, ujung jemari Roma pada akhirnya harus tersangkut pada karpet dan ...


Brukk!


Roma pun terjatuh dengan tak elegan sama sekali. Alhasil lelaki ini pun langsung bangkit dengan cepat namun, penutup pada bagian bawahnya ternyata melorot dan hal itu ternyata kembali menciptakan teriakan yang lebih kencang dari mulut Mikha.


"Ya Allah!" gumam Roma pada saat dirinya sudah sampai di dalam walk in closet atau bisa juga di sebut ruangan wardrobe. Tempat ini termasuk sederhana dan minimalis karena memang ukuran apartemennya tak seberapa luas.


"Betapa malunya aku. Mimpi apa sih semalam sampai aku harus telanjang dalam keadaan tak elegan gitu di depan Mikha. Mana tuh anak jerit-jeritan terus. Kalo Umma sama Aby denger gimana coba," gumam Roma seorang diri sambil meraih pakaian yang akan ia kenakan dari dalam lemari.


Sementara itulah, Mikha sudah berlari cepat ke dalam kamar mandi. Gadis ini menutup pintu serta langsung menguncinya.


Setelah itu Mikha nampak bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang terus berdegup dengan sangat kencang.


"Apa-apaan sih, dia! Rese banget deh! Bikin jantung gue jadi kayak gendang kosidahan begini," gerutu Mikha yang masih merasakan kesemutan di kedua pipinya.


Tentu saja hatinya tak karuan. Untuk pertama kali dalam hidupnya Mikha melihat apa yang namanya onderdil pria dewasa secara langsung dan jelas. Meskipun hanya sepersekian detik. Tetapi tetap saja hal itu membuat perasaannya tak menentu saat ini.


Bayangan bentuk tubuh Roma yang menggoda serta bagian pusat tubuhnya yang nampak lucu itu terus saja berkelebat tak tau diri di dalam kepala Mikha.


"Hei pergilah pikiran kotor!" Mikha terlihat memukuli kepalanya. Gadis ini kesal campur geram pada dirinya sendiri karena sejak tadi isi kepalanya hanyalah bagian tubuh Roma yang tak sengaja nampak di matanya.


"Mikha cepat mandinya. Gak enak sama kedua orangtuaku kalo harus nungguin kamu kelamaan!" teriak Roma dari depan pintu kamar mandi.


Lagi-lagi Mikha harus memukul kepalanya.


"Kenapa pake lupa bawa baju ganti!" kesal Mikha pada dirinya sendiri.


Mau menjawab panggilan dari Roma pun dia bingung harus bilang apa. "Masa iya bilang aku gak bawa baju ganti terus lagi telanjang sekarang. Idih, nanti kalo dia masuk kesini gimana?" gumamnya sambil berjalan mondar-mandir dan menggigit ujung kukunya.


Mikha terlupa kalau pintu kamar mandi sudah ia kunci dari dalam.


"Yaudah aku ke balkon duluan ya!" seru Roma yang berpikir mungkin Mikha malu jika menampakkan dirinya sesudah mandi.


Setalah beberapa saat Mikha pun memunculkan dahulu kepalanya untuk memastikan bahwa kamar tersebut benar-benar kosong tanpa ada orang lain, maksudnya si Roma.


Setelah yakin, Mikha pun keluar hanya dengan handuk pendek yang membelit tubuhnya. Mikha mencari pakaian yang tadi ia bawa menggunakan koper kecil. Akan tetapi ia baru menyadari kalau belum membawa pakaian yang harus ia kenakan untuk membungkus bagian dalamnya.


"Aduh, gimana sih kamu Mikha. Masa iya aku harus keluar dengan keadaan seperti ini yang bener aja," gerutunya kesal sendiri.


Mikha berjalan mondar-mandir dalam kamar masih dengan keadaan yang sama. Tanpa ia sadari jika pintu perlahan terbuka dan masuklah sosok yang tidak ia harapkan kehadirannya.

__ADS_1


Mikha yang kaget pun langsung berbalik untuk menoleh.


Aaaaa!!


Mikha kembali berteriak dengan tubuh mematung kaku serta kedua tangan memegangi bagian depan handuknya.


Ia khawatir kejadian yang menimpa Roma juga akan terjadi padanya.


Malu banget pastinya nanti.


"Astagfirullah!" pekik Roma yang langsung membelakangi Mikha.


"Kamu ngapain aja sih dari tadi. Mana baju kamu? Kenapa gak di pakai?" cecar Roma yang mana juga tengah menguasai debaran selama jantungnya.


"Baju sih a–ada. Tapi kacamata kuda sama cangcuters-nya ketinggalan," jawab Mikha terbata karena kaget sekaligus malu.


Roma hampir saja tersedak kembali pada saat mendengar kata kiasan yang di ucapkan oleh istrinya barusan.


"Ketinggalan di kamar sebelah maksudnya? Apa mau aku ambilkan?" tawar Roma, sambil menahan tawanya.


"Hah!" kaget Mikha yang bukannya menjawab malahan kaget.


"Dimana kamu letakkan? Biar aku ambil," kata Roma lagi.


Roma pun keluar dengan cepat. Sembunyi-sembunyi untuk masuk ke kamar sebelah dan mencari barang yang ia perlukan sesuai instruksi dari Mikha.


"Laci nomer dua ya. Aih ... kenapa warnanya cerah semua," gumam Roma setelah ia mendapatkan apa yang di butuhkan oleh istrinya itu.


"Ya Allah. Mimpi apa aku sampe megang jeroan punya perempuan. Kalo udah ngerasain isinya sih mending, lah ini belom," gerutu Roma.


Roma mau tak mau masuk lagi ke dalam kamar agar kedua orang tuanya tak curiga.


Untung saja Mikha sudah membalut tubuhnya dengan selimut.


"Maaf aku masuk tanpa ketuk pintu karena aku gak mau sampai kedua orang tuaku curiga," jelas Roma. Lelaki ini pun menyerahkan barang yang di perlukan istrinya hingga Mikha langsung meraihnya cepat dan berlari ke kamar mandi lagi.


"Kenapa harus ke kamar mandi? Kan ada wardrobe?" heran Roma.


Ya, Mikha mana tau sih, Rom. Dia kan bukan berasal dari keluarga tajir kayak kamu.


Tak lama Mikha pun keluar dan bergabung dengan kedua mertuanya di balkon.


"Maaf ya, Mikha lama. Jadi keburu dingin ya kopinya Aby," kata Mikha dengan raut sesal DNA tak enak hati.

__ADS_1


"Enggak kok sayang. Sini duduk sebelah Umma," panggil Annisa.


Mikha pun menurut, dan berhasil di rangkul oleh ibu mertuanya itu.


Annisa mengelus punggung Mikha, lalu usapannya beralih pada pasmina yang di kalungkan asal oleh Mikha di lehernya tanpa terjulur ke depan.


"Boleh ya Umma rapihin sedikit kerudung kamu?" tanya Annisa meminta ijin terlebih dulu dari menantu cantiknya itu.


Mikha tentu saja mengangguk cepat karena tak ada pilihan baginya untuk menolak.


Annisa mengeluarkan peniti kecil ke dari dalam tasnya.


"Nah kan semakin cantik deh, menantu Umma. Ya kan Roma?" Seketika yang di tanya pun langsung tersedak teh dan pisang keju.


Uhukk, uhukkk!


"Ya Allah Roma." Choki pun langsung mengusap punggung putranya itu.


"Liat kan, sayang. Suami kamu aja sampe keselek," tawa Annisa yang girang melihat wajah memerah dari anak dan menantunya ini.


Puas sekali dia menggoda keduanya di sore yang cerah ini.


"Umma ini," batin Roma, sambil mengusap dadanya.


Chiko yang nampak mengetahui sesuatu pun, tersenyum samar. Pria yang masih terlihat tampan dan semakin berkarisma walaupun usianya telah menginjak angka empat puluh tahun ini, sepertinya tengah merencanakan sesuatu.


"Ternyata apartemen kamu enak juga ya, Rom Aby jadi pengen nginep," ucap Choki. Dan perkataannya barusan, sontak membuat Roma dan Mikha tersedak bersamaan.


Uhukk.


Uhukk.


"Kalian ini, kenapa jadi lomba keselek," sindir Choki yang semakin yakin akan keputusannya.


"Aby, kok kita nginep sih? Kan Annisa belum bawa pakaian ganti," bisik Annisa.


"Gampang, nanti aku telpon Rocky untuk antar pakaian ganti kita," kata Choki santai.


Tetapi, kedua pasangan pengantin baru ini tegang. Siapa lagi kalau bukan Roma dan Mikha.


Ahahahahha ...!


Sian deh kalian berdua!

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2